
Dengan buru-buru Salin meninggalkan hotel itu. Tentu setelah ia mengembalikan semua perkakas hotel yang ia gunakan untuk menyamar tadi. Bukan menemukan fakta, tapi malu yang ia dapat.
Salin mengendarai roda empatnya dengan masih mengumpat diri sendiri. Menyalahkan atas kebodohannya sendiri dan juga atas kurang up to date nya dia.
Sementara di dalam kamar hotel, tempat Salin tadi yang ia rasa salah masuk kamar.
"Trimakasih, nona, tuan," ucap Setu pada mereka berempat yang tadi Salin lihat.
"Sama-sama, tuan. Trimakasih juga atas kerjasamanya," jawab salah satu pria diantara mereka.
Setu memberikan tips kepada mereka karena mereka telah membantu melancarkan aksi Setu menghindari kecurigaan istrinya, Salin.
Ya, Setu sadar kalau istrinya mengikuti dirinya sejak tadi. Ia bisa melihat dengan jelas dari kaca spion kalau Salin mengikuti kemana ia pergi. Meski dari jauh, tapi Setu sudah hapal mobil Salin.
Oleh karena itu, Setu berpura-pura memasuki sebuah hotel, agar membuktikan kepada istrinya bahwa ia sedang meeting di hotel itu. Setu juga menyewa orang-orang yang ada di hotel itu untuk melakukan aksinya. Berpura-pura sedang ada rapat kerjasama dengan klien di hotel tersebut.
Setu beserta rekan pura-puranya menyulap satu kamar hotel menjadi sebuah ruangan rapat dimana ada satu tempat tidur kecil dan satu set meja kerja dan kursi. Benar-benar seperti ruang rapat. Dimana ranjang mini digunakan untuk mereka yang ingin rebahan sejenak akibat lelahnya dalam rapat.
Selain set meja dan kursi kerja, ada juga sofa di sana beserta televisi. Ada rak file juga yang berisi map. Setu juga telah bekerja sama dengan pihak resepsionis agar menyulitkan Salin untuk bertemu dengannya.
Tetapi Setu tak menyangka, salin bisa berjumpa dengannya dengan penyamarannya. Sebagai petugas hotel. Hmm, Setu tersenyum bangga atas gesitnya ia mempermainkan sang istri.
Sungguh, orang yang sudah pernah berbohong, akan mudah untuk melakukan kebohongan berikutnya. Karena apa? Tentu karena sudah terbiasa melakukan kebohongan itu sendiri. Sama halnya dengan Setu.
Setu sudah terbiasa merangkai kata membohongi istrinya, juga membohongi selingkuhannya. Apa salahnya jujur kalau sudah tidak cinta lagi. Bereskan?
Seperti halnya Salin, Setu pun meninggalkan hotel itu tetapi tidak pulang ke kediamannya. Melainkan ke tempat dimana sang kekasih yang telah menunggunya sedari tadi. Di hotel yang telah ia booking, tidak jauh juga dari tempat ja berada sekarang.
"Setu... Setu... Kamu memang cerdas," ucapnya tersenyum bangga memuji dirinya sendiri.
Setu pun melajukan mobilnya menuju hotel tempat sang kekasih berada. Yang tentunya saat ini sudah menunggunya dengan sangat tidak sabar, alias merengek manja.
****
Ting tong
Ting tong
Terdengar bunyi bel kamar itu dengan sangat nyaring. Membuat wanita yang sedang rebahan dengan menutup tubuhnya dengan selimut, enggan untuk membuka.
"Siapa sih? Ganggu aja," gerutunya. Masih malas ia untuk beranjak.
Ting tong
Ting tong
Berulangkali bel itu berbunyi. Membuat gadis itu tak nyaman dengan indera pendengarannya.
"Iya iya sebentar," pekik gadis itu. Ia sibakkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak ke arah pintu.
"Nggak sabaran banget sih jadi orang," gerutunya mengomel.
Ceklek
Sebuket bunga menyembul saat gadis itu membuka pintu. Bunga rose merah kesukaannya. Langsung berada di hadapannya.
"Untuk bidadariku yang paling cantik sedunia," ujar pria itu, sembari menebarkan senyum terbaiknya pada pujaan hatinya itu.
Seketika hati Weni bermekaran seperti bunga rose yang mekar terpampang di hadapannya. Menyeruak keluar. Ingin rasanya ia raih bunga itu lalu ia peluk si pengirim bunga. Akan tetapi ia urungkan.
Weni masih ngambek pada kekasihnya itu. Janjinya datang sebentar lagi, namun hampir tengah malam baru muncul batang hidungnya. Hati siapa yang tak dongkol.
Weni pun memalingkan wajahnya lalu beranjak membalikkan tubuhnya meninggalkan Setu yang masih berdiri di depan pintu.
Setu pun tak tinggal diam. Ia mengejar wanita manjanya itu. "Ini semua gara-gara wanita sialan itu," batinnya di hati. Menyalahkan istri sahnya karena terlambat bertemu dengan sang kekasih, selingkuhannya.
****
"Darimana saja kamu? Malam-malam begini masih keluyuran?"
"Salin dari luar, ibu. Ada perlu sebentar."
"Kamu itu seorang wanita. Apalagi sudah bersuami. . Nggak kayak keluyuran malam-malam. Keperluan apa sih? Nggak bisa besok?" omel si ibu mertua.
"Salin..."
"Bagi ibu duit. Ibu besok mau pergi healing sama teman sosialita ibu."
Belum sempat Salin menjawab, ibu mertuanya sudah menyela duluan. Nyerocos minta uang. Padahal baru berapa hari yang lalu ia diberi uang oleh Salin.
"Tapi, Bu baru beberapa hari yang lalu saya kasih uang sama ibu."
"Ya udah habislah. Duit segitu juga, mana cukup. Healing kan butuh banyak biaya," ucap ibu Sirlina enteng.
"Maaf, Bu. Tapi Salin udah nggak ada yang, Bu "
"Apa?" pekik ibu Sirlina. "Nggak ada uang? Nggak a uang bagaimana? Bukannya gaji kamu banyak? Kemana semua kamu belanjakan? Kamu boros banget sih jadi perempuan! Punya menantu pelitnya minta ampun, eh malah ngakunya duitnya nggak ada."
Ibu Sirlina mengomel sepanjang segala abad. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan menantu satu-satunya itu.
Masih di ambang pintu Salin, tapi sudah diomeli sang mertua dan didesak untuk memberi uang padanya.
"Maaf, Bu. Salin capek. Salin mau istirahat ke kamar."
Salin berusaha mengabaikan Omelan ibu Sirlina. Tak mau ia keceplosan yang mengakibatkan ia nantinya emosi hingga berujung melawan sang mertua. Salin tak segila itu.
Jika Salin ingin membandingkan, mamanya jauh lebih hemat dan lebih keibuan dari ibu mertua. Tetapi ia masih waras. Ia sadar betul setiap orang itu punya karakter berbeda, punya pola pikir yang berbeda dan punya sikap dewasa yang berbeda.
Oleh karena itu Salin mencoba menerima dengan lapak sikap ibu mertuanya, berdamai dengan suasana di mansion itu. Yang tentu saja berbeda jauh dengan suasana di rumahnya.
Perlahan Salin melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tetapi tiba-tiba, ia merasa rambut panjangnya seperti ada yang menarik.
Salin pun meringis karena tarikan itu kuat. Bahkan perasaannya rambutnya hampir copot.
"Iiiih, kebiasaan kamu ya. Orang tua ngomong kamu malah tinggalin," omel ibu Sirlina sambil merapatkan giginya. Geram ia dengan sikap menantunya itu. Belum ia mendapat yang ia mau malah ditinggal begitu saja. Tentu ia tak terima.
"Ssss, sakit, Bu," desis Salin. "Lepasin rambut saya, ibu," ucap Salin pelan. Berusaha ia melepaskan rambutnya yang dijambak oleh ibu mertuanya sendiri.
"Tak akan saya lepaskan sebelum kamu memberi saya duit. Titik." Ibu Sirlina menegaskan sekali lagi permintaannya.