
Di sebuah kamar yang tidak besar, namun tapi dan bersih. Setiap peralatan yang ada di sana tertata dengan rapi. Membuat orang yang masuk ke kamar itu merasa betah. Enak pula di pandang oleh mata.
Bianglala sudah terbangun, memancarkan sinarnya, menghangatkan tubuh, menyehatkan tulang sejuta umat bumi Nusantara. Sinarnya yang menyala terang, bernaung memasuki kamar itu mengintip dari tirai yang sudah tersingkap sedikit, menyentuhkan hangatnya pada indera peraba seorang wanita yang baru saja terbangun dari mimpinya.
Hooaaaam
"Aku dimana?" tanyanya. Ia menguap, menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Mencoba meregangkan otot-ototnya, pinggangnya lalu ia duduk santai di bibir ranjang itu. Netranya menyapu seluruh isi kamar itu.
"Aku kenapa ada ...." Ia bergumam.
"Lho, ini kan kamarku?" tanyanya kemudian.
Salin mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya. Dan kenapa pula ia sudah ada di dalam kamarnya. Bukankah seharusnya ia masih ada di hotel? Bukankah seharusnya ia ada tugas luar kota?
Ceklek
Belum mendapat jawaban dari semua ini, Salin dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Buru-buru Salin menoleh ke arah suara pintu itu di buka. Itu adalah arah kamar mandi.
Ya, meski kecil, tapi di dalam kamar itu ada kamar mandinya. Itu yang membuat Salin dulu tertarik pada rumah ini. Menjadikan rumah ini sebagai rumah sewanya untuk sementara.
"Siapa itu?" tanya batinnya.
Secara ini kan kamar pribadinya. Dan kenapa ada orang masuk ke dalam kamar mandinya.
Merasa penasaran, Salin hendak berjalan menuju kamar mandi. Ia sudah berdiri sekarang.
"Kakak?" ujar seorang gadis.
"Nia?" Nada suara Salin penuh pertanyaan. Kenapa adiknya ada di rumahnya.
Lihatlah Salin, segitu mudahnya ia lupa kalau adik dan mamanya sekarang berada di rumahnya. Sudah sekian lama mereka tinggal bersama. Tetapi ia lupa akan hal itu. Tak habis pikir ia kenapa Stephania ada di dalam kamarnya.
"Kakak, sudah lama bangunnya?" tanya Stephania. Ia mendekati sang kakak.
"Baru saja. Kamu ngapain di sini? Mama mana? Kenapa kamu tinggalkan mama sendirian di rumah?" tanya Salin panik. Sepertinya ia belum sadar sepenuhnya.
"Kakak kenapa? Kakak sehatkan?" tanya Stephania heran. Ia merasa aneh dengan kakak perempuannya itu. Apa ia kakaknya hilang ingatan. Masa dia nggak ingat kalau mereka memang tinggal serumah sekarang.
"Apa yang terjadi denganmu, kak? Apa kepala kakak kepentok?"
"Maksud kamu Nia? Kamu doain kakak celaka gitu?"
"Bukan gitu lho, kak. Justru aku yang aneh sama kakak. Masa kakak nggak ingat kalau kita tinggal di rumah yang sama. Tidur di kamar yang sama sekarang. Mama juga tinggal bareng. Walau nggak sekamar. Ya wajar lah aku ada di sini. Kakak nggak heran sama diri kakak?"
"Astaga, Nia? Kakak lupa."
Keduanya pun akhirnya tertawa.
"Terus, kenapa kakak bisa ada di sini? Kakak kan harusnya ada di hotel. Siapa yang bawa kakak ke sini?" tanya Salin kemudian setelah ia berhenti dari tawanya.
"Kakak diantar kak Alister."
"Hah? Bukannya seharusnya dia juga ikut tugas luar kota? Jadi dia juga di sini?"
"Banyak amat pertanyaannya. Kayak wartawan aja. Satu-satu dong," goda Stephania seraya tersenyum.
"Habis kakak penasaran. Kakak bingung. Kenapa bisa kakak ada di sini. Bangun-bangun udah di kamar. Kan aneh."
"Kakak benar-benar nggak ingat?"
Salin menjawab dengan anggukan pelan, meragu.
Melihat reaksi sang kakak, Stephania pun memegang kedua lengan sang kakak.
"Sekarang, kakak duduk dulu." ia menuntun Salin untuk duduk.
"Sekarang kakak tarik nafas pelan-pelan, lalu keluarkan. Ulangi beberapa kali."
"Kamu pikir kakak mau melahirkan apa?" cibir Salin.
"Kakak ku sayang, exhale dan inhale ini gunanya bukan hanya untuk perempuan yang akan melahirkan. Tetapi juga untuk menenangkan seseorang."
"Ayo lakukan," ucap Stephania lagi menginstruksikan. Ia ingin menyadarkan sang kakak.
Salin pun akhirnya menurut.
"Coba kakak ingat-ingat dulu, kemarin itu kakak kenapa? Dengan siapa? Dan dimana? Lalu apa yang terjadi?"
Sepertinya saran dari Stephania benar. Salin mampu tenang. Perlahan ia mulai menuruti pertanyaan sang adik. Menjawab satu persatu pertanyaan itu di dalam benaknya.
"Kemarin kakak bertemu dengan Setu Sandoro."
"Apa? Jadi benar kata kak Alister kalau kakak dijebak sama lelaki brengsek itu?" tanya Stephania memekik.
"Jadi kamu udah tau?" Salin pun heran dengan teriakan adiknya. Lalu Stephania mengangguk menjawab tanya sang kakak.
"Kak Alister yang cerita. Bahkan mama juga udah tau. Kakak nggak diapa-apain sama cowok gila itu kan? Kakak baik-baik saja kan?"
"Menurut dugaan kak Alister, kakak dijebak. Cowok brengsek itu. Sampai - sampai nih ya si cowok gila itu memasukkan obat tidur ke dalam minuman kakak. Untung saja kak Alister segera datang. Kalau nggak entah apa yang terjadi dengan kakak," terang Stephania panjang lebar.
Mendengar penjelasan Stephania, Salin terdiam. Ia mencoba menggabungkan kejadian yang ia alami dengan cerita sang adik.
"Dan kata kak Alister lagi Setu gila itu kerjasama dengan seorang perempuan." Stephania menambahkan.
"Perempuan?" tanya Salin. Dahinya berkerut, alis matanya menukik.
"Iya kak. Perempuan. Kakak kenal perempuan yang bernam Rebecca itu?"
"Rebecca?" Salin menggumamkan nama itu. Seingatnya, tak ada orang yang ia kenal bernama Rebecca.
"Ciri-cirinya gimana?" tanya Salin penasaran. Ia menduga kalau wanita itu adalah mantan Alister. Ya, semua kejadian yang ia alami dan cerita Salin, jelas ada hubungannya dengan wanita itu, wanita yang berstatus mantan Alister.
Tetapi ada timbul sedikit keraguan. Bagaimana bisa Setu bekerja sama dengan Rebecca. Ada hubungan apa diantara keduanya? Apa untungnya Setu bekerja sama dengan Rebecca?
Menggunung pertanyaan di dalam benak Salin.
Stephania menjelaskan ciri-ciri wanita yang bernama Rebecca itu. Dan Salin pun mengangguk. Ia semakin yakin antara Rebecca dengan Setu memang bekerja sama. Tetapi apa kaitannya dengan Setu? Bukankah Setu selama ini memperlakukan ia kayaknya hewan? Apa benar yang Setu katakan bahwa ia masih cinta kepada Salin?
"Kayaknya lelaki yang bernama Setu Sandoro itu masih cinta deh sama kakak. Nia menduga kalau kak Setu itu masih sayang sama kakak. Karena itulah ia meminta bantuan perempuan yang bernama Rebecca itu untuk memuluskan rencananya."
"Tetapi Nia nggak habis pikir. Apa untungnya coba buat perempuan yang bernama Rebecca itu? Memangnya dia siapanya Setu Sandoro itu? Atau.... dia siapanya kak Alister?"
"Rebecca itu..." Salin menjeda ucapannya.
Seketika Stephania melirik sang kakak. Ia semakin penasaran.
"Dia... mantannya Alister." Salin melanjutkan.
"Oh, pantas," angguknya santai. Ia tak terkejut dengan ucapan Salin. Dugaannya semakin kuat malah.
"Berarti benar, Setu Sandoro masih cinta sama kakak. Dan begitu juga dengan Rebecca. Ia masih cinta sama kak Alister. Jadi, kedua singa itu, singa jantan dan betina itu bekerja sama. Rebecca menjebak kakak, Setu menjebak kak Alister. Coba deh kakak tanya ke kak Alister. Pasti dugaan Nia benar," ucap Nia panjang lebar. Ia yakin sekali bahwa apa yang ia duga benar adanya.
"Kamu dek, masih kecil sudah membahas begituan. Dari manakah kamu tau itu semua? Kamu pacaran ya sekarang?" Salin malah mengalihkan topik.
"Apa sih, kok malah bahas Nia?" elak Stephania.
"Nia mah jonblo. Masih serius dengan cita-cita. Semoga Nia segera dipanggil ya kak. Udah lulus sih, tinggal menunggu panggilan."
"Semoga ya, dek. Kamu sabar menunggu ya. Kakak akan selalu mendukungmu. Yang penting kamu semangat nanti belajarnya. Kalau ada apa-apa, cerita sama kakak. Oke?"
"Iya kakakku sayang."