Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2



"Ada apa, Serly?" tanya asisten tuan Aaron. Ferdi namanya. Bukan pula Ferdi Sambo.


"Ini, ada titipan dari oma. Oma minta kamu untuk mengembalikan box ini ke alamat perempuan yang sudah mengusik pesat ulang tahun oma. Oma minta agar kamu mengatur box ini sampai ke tujuan, bersamaan dengan wanita itu sampai di rumahnya "


"Baik. Trimakasih, Serly," jawab Ferdi kaku.


"Iya, pak kayu."


"Saya bukan kayu. Saya manusia," sela Ferdi.


"Kaku banget soalnya. Kayak kayu," sahut Serly, seraya berjalan meninggalkan Ferdi yang sudah menenteng box di tangannya.


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


"Hai, sayang. Apa kabar?" tanya seroang wanita dengan nada manja, menggoda pula. Memeluk manja pria yang ada di hadapannya. Pria itu tak menyadari wanita itu datang ke arahnya. Bahkan sampai memeluknya. Ia sedang asyik bicara dengan papa Sande, mama Sefarina, Salin dan Stephania.


Meski tak ia alihkan pandangan, Alister tau siapa wanita itu. Ia memilih diam saja, matanya menatap Salin penasaran. Apa yang akan ia lakukan kepada Rebecca yang sedang memeluknya manja. Apakah Salin akan diam saja atau marah. Alister menunggu dengan santai.


"Sayang, kamu kok diam aja sih? Nggak kangen apa sama aku?" tambah Rebecca lagi.


Masih belum ada reaksi dari Salin. Begitu pun dengan Alister, ia juga masih diam. Tak bergerak, tak membalas atau menolak lekukan Rebecca. Ia ingin tau, apakah Salin akan diam saja bila Rebecca bertindak sampai jauh.


"Heh, perempuan ular, ngapain kamu ke sini?" cerca Nantha kesal. Tak habis pikir ia dengan wanita itu.


Tadi ia sudah berusaha menarik perhatian oma dan opa. Sekarang malah kakaknya yang digoda wanita tak tau diri itu. Membuat Nantha semakin kesal. Jelas sekali terlihat bahwa ia sungguh tak menginginkan kehadiran Rebecca disana.


"Kenapa sih adik ipar aku ini cerewet banget. Tentu aku ke sini mau kangen-kangenan dengan kakak kamu. Sekaligus juga ikut senang atas umur panjang oma. Semoga di ulang tahunnya kali ini, oma mendapatkan sesuatu yang tak bisa ia lupakan. Karena sebentar lagi aku dan kakakmu akan menikah. Dan otomatis, aku akan melahirkan seorang anak, yang akan menjadi cicit dari oma. Tentu oma pasti senang."


Rebecca berucap panjang lebar. Kalimat yang ia ucapkan begitu banyak angan. Ia begitu yakin bahwa itu akan terjadi.


"Kakak ipar? Cuih. Tak sudi aku memanggilmu kakak ipar. Kakakku tidak akan memilih kamu sebagai istrinya. Aku yakin itu. Jadi, simpan saja angan mu itu sejauh mungkin. Bila perlu kirim ke Antartika."


"Jangan gitu dong adik ipar," ucap Rebecca manja. Ia mengurai pelukannya dari tubuh Alister, kini malah memeluk Nantha.


"Ferdi..."


Nantha memanggil asisten papa Aaron itu.


"Iya nona Agnes?"


"Usir orang ini. Dan jangan pernah biarkan ia masuk ke dalam rumah ini. Walau hanya di depan gerbang sekali pun. Paham?"


"Baik nona Agnes."


Ferdi menunduk hormat dan berlalu dari sana. Segera ia bergegas untuk memanggil satpam yang akan membantu dia mengusir wanita yang bernama Rebecca itu. Dan tak berapa lama, ia datang. Diekori seorang security di belakangnya.


"Maaf, nona. Mohon kerja samanya," ucap security itu sopan. Berharap ia, Rebecca menuruti ucapannya dan segera meninggalkan tempat itu.


Namun sayang, harapan tinggal lah harapan. Rebecca tak peduli. Baginya, security itu bukan siapa-siapa. Bukanlah orang yang harus ia hormati. Bukan pula orang yang pantas ia hormati karena mereka berbeda jauh. Beda kelas.


"Diam kamu!" ujar Rebecca. "Jadi satpam saja sudah belagu. Saya bisa membeli 100 orang satpam seperti anda. Jadi, jangan berani memerintah saya."


"Mohon maaf nyonya Rebecca yang terhormat l," ucap seorang wanita tiba-tiba.


"Siapa kamu?" hardik Rebecca.


"Hanya sampah sudah merasa diatas angin. Kamu itu bukan siapa-siapa di dalam keluarga Alister. Jadi, ngaca dong! Nggak punya kaca? Sini biar aku tunjukkan!"


Rebecca membuka tasnya. Bermaksud memperlihatkan siapa Salin sebenarnya. Ia ingin membuat wanita itu sadar bahwa dialah yang tidak pantas ada di sini.


"Tak perlu repot-repot, wanita ular. Kami nggak butuh kaca. Karena kita memang beda kelas," sela Nantha. Seolah Nantha dengan Salin sedang bekerja sama mengusir wanita itu dari acara tersebut.


Nantha pun maju ke hadapan Rebecca. Salin juga.


"Kalau kelas kasta yang kamu bilang kita beda, maaf. Bukan dalam hal itu kita beda. Tapi soal etika dan moral. Boleh saja kasta anda yang paling tinggi. Tapi buat apa? Kalau attitude tidak ada?"


Salin menyelesaikan kalimatnya dengan entengnya. Sontak, beberapa diantara tamu undangan bertepuk tangan dengan ucapan menohok dari Salin. Memuji Salin, sebagai wanita pemberani dan tak bisa ditindas.


Seketika banyak yang terkagum-kagum padanya. Tak terkecuali Alister. Ia tersenyum dengan tingkah Salin hari ini. Baginya itu cukup membuktikan bahwa Salin peduli padanya. Bahwa Salin, ada rasa terhadapnya. Bahwa Salin telah menerima ia sebagai kekasihnya. Terlalu percaya diri memang lelaki yang satu ini.


Disebut pasangan kekasih, apabila kedua belah pihak telah saling mengungkapkan dan menerima cinta satu sama lain. Dan setuju untuk menjalin hubungan. Lha ini? Hanya Alister sendiri yang membuat keputusan. Baik keputusan dengan ucapan maupun tindakan. Sedang Salin, tidak keduanya.


Para undangan menyoraki Rebecca. Turut mengusir wanita itu karena tak ada kaitannya dengan pesta ulang tahun oma. Bahkan mereka juga tak mendukung bila itu akan menjadi calon istri dari Alister maupun tuan Aaron.


"Sayang, kamu kok diam aja sih? Kok kamu tega aku dihina begini. Aku kan calon istri kamu," ucap Rebecca, mengadu ke pada Alister. Mendramatisir keadaan, berekspresi sesedih mungkin agar Alister iba padanya.


"Mohon maaf, Rebecca. Aku ada di pihak mereka. Aku mendukung mereka. Karena antara kamu dan kita semua, sudah tak ada lagi hubungan apa-apa. Itu semua terjadi karena perbuatan kamu sendiri. Kamu pasti mengerti apa yang saya bicarakan."


Alister menolak mentah-mentah permintaan Rebecca. Bahkan menepis tangan Rebecca yang mencoba menggenggam jemari tangannya.


"Security, bawa dia pergi!"


"Baik, tuan." Security itu pun menyanggupi ucapan Alister.


Oma dan opa tersenyum melihat kerjasama antara Salin, Nantha dan Alister. Membuat oma dan opa gemas kepada ketiganya. Terlebih kepada pasangan sejoli itu, Salin dan Alister.


Masih saja Salin tak mengakui perasaannya. Padahal jelas-jelas terlihat bahwa ia menaruh hati pada Alister. Anak kecil saja bisa membaca semua itu.


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


"Trimakasih, tuan Sande telah memeriahkan acara ulang tahun saya."


"Sama-sama, nyonya. Semoga nyonya sehat selalu dan panjang umur." Mama Sefarina, yang merangkul lengan papa Sande, mengangguki ucapan suaminya.


"Amin," jawab oma dan opa, menyahut ucapan papa Sande.


"Ayo, nikmati hidangannya!" titah kemudian kepada keluarga itu.


"Trimakasih, nyonya."


Lalu, oma maju ke depan, untuk menyampaikan ucapan sepatah dua patah kata untuk semua hang hadir, mendoakan oma di ulang tahun hari ini. Di dampingi oleh suaminya tercinta. Yang setia mendampinginya hingga saat ini. Meski rambut mereka telah memutih, jalan bahkan sudah mulai tertagih, tapi cinta dan perhatian diantara mereka tidaklah memudar.


Hari ini, pasangan itu menjadi pasangan teladan bagi kalangan muda yang hadir. Bahwa cinta tak memandang usia. Cinta sejati tetap bertahan walau melewati badai yang begitu dahsyat. Bahkan semakin dahsyat pula cinta itu bila dilalui dengan hati yang lapang, ikhlas.