Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 79. Papa Sande Drop



"Nia" panggil Dennis lembut.


"Angkat telponnya. Jangan menghindar dari kenyataan. Jangan sampai nanti kamu menyesal," tambah Dennis lagi.


Sungguh sabar ia dengan tingkah sahabatnya ini.


"Kamu tau kan, Nia berapa sakitnya penyesalan itu," ucapnya lagi lirih. Matanya sudah berembun.


Teringat ia akan masa lalunya. Kepergian ibunda tercinta masih membekas hingga sekarang. Meski sudah berlalu cukup lama.


"Iya, kak."


Runtuh juga akhirnya benteng ego yang coba dibangun oleh Nia. Yang sudah ia pupuk sedari dulu. Mempertahankan apa yang ada dalam pikirannya bahwa itulah yang paling benar.


"Apa?"


Gadis itu memekik. Membuat konsentrasi Dennis terpecah. Buru-buru ia hapus air matanya yang sudah jatuh sebelum Stephania melihatnya.


"Ayo, Nis buruan! Antar aku sekarang!"


"Kemana, Nia?" tanya Dennis bingung.


Jari-jari Stephania masih sibuk dengan ponselnya. Entah sedang apa Dennis tak tau.


"Kemana, Nia?" tanya Dennis menaikkan nada suaranya.


"Papa drop, Nis. Papa drop," ucapnya panik. Tampak sekali ada nada sedih di nada suaranya. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca sekarang.


"Ayo, Nis! Buruan!"


Dennis segera menarik tangan Stephania lalu membawanya menuju sepeda motornya. Tanpa banyak tingkah dan kata, Dennis langsung memasang helm pada Stephania kemudian pada dirinya sendiri.


Lalu Dennis meminta Stephania untuk naik setalah dia naik ke atas motor itu.


"Pegangan!" titah Dennis. Tetapi Stephania diam saja. Tak dengar ia akan apa yang diucapkan Dennis.


"Nia, pegangan! Nanti kamu jatuh," ucap Dennis lagi menegaskan.


Enggan sekali Stephania memeluk pinggang Dennis dari belakang. Meski sudah diminta, tapi dia tak mungkin melakukan itu. Entah apa yang ada dalam benaknya sekarang.


"Kenapa dia suruh aku memeluknya? Tumben." Sempat-sempatnya Stephania membatin seperti itu.


"Nia, kalau kamu nggak pegangan kamu bisa jatuh. Bukankah tadi kamu yang minta kita cepat sampai di rumah sakit?" sarkas Dennis akhirnya.


Ucapan Dennis membuat Stephania tersadar lalu segera memeluk tubuh Dennis tanpa berpikir panjang lagi. Tak ada guna sekarang terlalu banyak pertimbangan.


Hubungan darah memang tidak ada yang bisa memutus dan tidak ada yang bisa membantah. Boleh bilang tak peduli, tapi itu hanya di mulut. Di hati? Jangan tanya. Sesungguhnya Stephania sangat takut terjadi apa-apa dengan papa Sande.


Tetapi ia menutupi semua itu dengan gengsinya. Bersikap pura-pura tegar, pura-pura tidak apa-apa, pura-pura tak peduli pada sang papa di depan orang lain, terutama di hadapan Dennis.


Sedang Dennis? Mana bisa ditipu oleh Stephania. Dari mulai mereka ingusan, Dennis sudah kenal gadis yang bernama lengkap Stephania Xavier itu. Tingkah, perkataan baik di luar dan di dalam hati Dennis sudah tau.


Perjalanan menuju rumah sakit hanya ditemani oleh keheningan dari keduanya. Sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Tak ada obrolan sama sekali. Tetapi mesin roda dua itu berputar, mengarah ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi.


Dennis bisa merasakan dekapan tangan Stephania semakin kuat mencengkram pinggangnya, takut akan terjadi sesuatu dengan tingginya laju motor tersebut.


****


Sementara di kediaman Alister, ia sekarang sedang berada di kamar adiknya, Nantha. Sedang menyuapi Nantha makan.


"Katanya nggak lapar, tapi nambah," goda Alister.


Oma, opa serta tuan Aaron kala itu tidak berhasil membujuk Nantha untuk makan. Akhirnya neraka menyerahkan tugas itu kepada Alister yang sedang sibuk-sibuknya dengan urusan perusahaan.


Segera Alister melakukan perintah oma. Ia tinggalkan semua pekerjaan yang menumpuk setinggi gunung Himalaya. Demi adiknya yang sedang patah hati, jatuh sejauh-jauhnya, persis seperti ia dulu saat ditinggalkan oleh Rebecca.


"Iiih, sebel," ucap Nantha sambil mengunyah makanannya.


"Nih,p minum dulu," ucap Alister. Menyodorkan tumbler yang sudah ada sedotan di dalamnya.


Uhhk uhuk uhuk


"Pelan-pelan! Nggak ada yang akan merebutnya darimu," tukas Alister.


"Iya bawal," sahut Nantha.


Dengan sabar, Alister mengusap dagu dan mulut Nantha yang belepotan. Mirip anak kecil yang sedang makan coklat atau es krim.


"Kamu, kayak anak kecil aja. Nggak berubah sampai sekarang. Padahal udah tau cinta-cintaan. Udah tau suka-sukaan. Makan masih aja belepotan. Dasar," omel Alister lagi. Tangannya mengelap dagu adiknya itu.


Mereka berdua persis adik kandung. Ditinggal oleh orang tua sedari kecil, membuat mereka dekat bahkan akrab. Sudah saling tau bagaimana pribadi masing-masing.


Di luar kamar Nantha, ketiga orang tua itu sedang mengintip. Ada senyum terukir di bibir mereka. Akhirnya, putri yang paling mereka sayang luluh juga hatinya. Mau makan, mau tersenyum seperti semula.


"Lihat tuh," lirih oma.


"Tugasmu bahkan dicuri oleh keponakan mu sendiri. Kamu nggak iri melihat itu? Kamu sebagai ayah bukannya bisa membujuk putri mu. Malah diambil alih oleh orang lain, keponakan mu sendiri."