
"Ter, menurut kamu aku orangnya gimana sih? Kenapa aku selalu dilecehkan oleh laki-laki?"
Keheningan yang tadinya bersemayam dalam kendaraan roda empat itu harus berakhir akibat pertanyaan serius dari Salin.
"Mak-maksud kamu? Selalu? Jadi yang tadi itu?"
"Iya. Ini bukan yang pertama. Ini kejadian ketiga kalinya. Dan yang tadi itu nyaris saja berhasil."
Jawaban Salin membuat Alister geram. Bercampur juga iba di dalamnya. Ia geram kepada pria yang tega memperlakukan hal seperti itu pada Salin. Ia juga kasihan kepada Salin sebagai korban dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
"Dulu saat aku masih duduk di bangku SMA kelas dua. Itu yang pertama kalinya," ucap Salin kemudian. Terkenang ia akan kenangan pahit yang tak bisa ia lupakan sampai sekarang.
"Kok bisa, Lin? Ceritanya gimana?"
Dengan sabar, Alister ingin mendengar cerita yang sesungguhnya dari Salin. Baginya, tidak masalah ia mengetahui masa lalu seseorang. Seseorang yang akan ia jadikan sebagai teman hidupnya kelak. Teman yang akan ia jadikan untuk berbagi luka, berbagi suka, canda dan bahagia.
"Sebenarnya aku adalah seorang perempuan yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan sejak aku duduk di bangku SD kelas empat."
Salin mulai bercerita.
"Singkatnya, aku buta, tapi melihat."
"Maksud kamu?" tanya Alister. Ia bingung dengan apa yang ia dengar barusan. Buta, tapi melihat. Bagaimana ia mengerti akan kalimat itu.
"Ya, benar. Aku buta tapi melihat."
"Dulu, mama menyekolahkan aku di sekolah luar biasa. Kamu tau sekolah itu kan?"
Alister menjawab dengan anggukan kepala. Tetapi masih tersirat jelas kebingungan di wajahnya. Baru kali ini ia mendengar kalimat buta tapi melihat.
"Aku melanjutkan sekolah dasar ku di sana. Sambil lanjut sekolah, aku juga berobat ke sana kemari untuk kesembuhan mataku. Aku berharap ini mata masih bisa diselamatkan."
Dulu, saat mama Sefarina memutuskan untuk menyekolahkan Salin ke sekolah luar biasa khusus tunanetra, papa Sande tidak terima. Ia tidak terima anaknya dilabel buta. Ia percaya, anaknya tidak buta. Buktinya bisa beraktivitas seperti biasa.
Perdebatan sengit yang sering terjadi antara kedua orangtuanya, membuat Salin stress. Ia pun memutuskan satu hal yang membuat sang papa terdiam. Ia setuju dengan saran sang mama.
Sampai akhirnya, ia lulus SD dari sana. Salin memilih tinggal di asrama, demi bisa serius belajar, juga menghindari pertengkaran yang terjadi antara papa dan mamanya.
"Tapi ternyata sudah tidak bisa lagi diselamatkan."
"Tapi, aku merasa kamu tidak ada masalah dengan mata. Aku melihat semuanya normal sekarang, Lin," ucap Alister berpendapat.
"Benar, Ter. Kamu adalah salah satu dari antara mereka yang menganggap aku melihat normal seperti orang pada umumnya. Tapi aku beda, Ter. Aku buta sebelah. Aku ingin punya mata dua yang sempurna, Ter. Tapi kata dokter, tidak bisa lagi."
Alister terdiam. Sungguh ia belum juga mengerti sepenuhnya penjelasan Salin. Yang ia lihat, mata Salin normal. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan kelopak matanya. Normal pada umumnya.
"Mata sebelah kanan ku bisa melihat tapi kemampuannya pun tidak normal. Masih bisa membaca tapi dari jarak dekat. Bukan seperti kamu yang masih bisa membaca dari jarak 30 cm."
"Sementara mata kiri ku, totally blind. Tak bisa melihat sama sekali. Meski kelopaknya sempurna, bisa berkedip sempurna, namun tak bisa melihat sama sekali."
"Kalau kata kanan aku ditutup, maka apapun tak terlihat. Gelap."
Penjelasan Salin masih saja memberi kebingungan kepada Alister. Ia masih gak mengerti. Ia masih gak paham.
"Bagi orang normal yang masih bisa melihat sepeti kamu, pasti aku akan bilang kalau aku melihat. Tetapi sesungguhnya aku buta. Wanita dengan gangguan penglihatan. Disabilitas netra."
"Boleh aku lihat?" tanya Alister pada Salin dengan sopan. Ia ingin memastikan semuanya dengan benar. Bukan apa-apa. Ia hanya tidak percaya saja kalau Salin memiliki gangguan seperti yang ja ceritakan tadi.
"Boleh." Salin mengangguk.
Kini, mereka berdua duduk berhadapan. Mobil sudah alister hentikan di tepi jalan. Memang, jalanan tidak terlalu ramai. Jadi tidak akan ada yang protes atau menghidupkan klakson karena mobil mereka yang terpaksa parkir.
Dengan seksama, Alister menatap mata Salin secara bergantian. Benar, tidak terlihat cacat sama sekali. Matanya bersih, bening. Terdapat bola mata putih dan hitam seperti pada umumnya. Berkedip pula secara normal.
"Jadi kamu nggak bisa melihat dengan normal? Nggak bisa melihat sesuatu yang jauh?"
Salin mengangguk.
"Tapi, kenapa nggak kelihatan selama ini? Aku merasa kamu biasa aja. Bisa melakukan aktifitas seperti yang lain. Bahkan bisa bekerja lagi dengan baik. Gimana caranya kamu bisa sampai ke tahan itu?"
"Karena kamu tau aku hanya covernya doang, Ter. Kamu nggak tau aku yang sebenarnya. Tapi semua keluarga tau. Dan mereka sudah tau bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan aku. Bagaimana cara mereka saat membawa aku ke sebuah tempat yang baru."
"Kamu tau, Ter. Lingkungan yang baru adalah lingkungan yang menyiksa bagiku. Tak mudah aku untuk menerimanya dengan cepat. Karena aku harus bisa membaca situasi. Menyesuaikan diri, tanpa ada yang mengerti."
Lagi dan lagi, Alister merasa sakit dengan perjuangan hidup Salin. Proses ia menjalani hidup. Meski orang lain menganggap ia melihat, tapi ternyata tak sesuai dengan kenyataan yang dinilai orang-orang.
Dengan sisa penglihatan yang ia miliki, ia harus berjuang. Bertahan dengan dunia yang selalu berubah dan berubah. Terutama teknologi. Dengan belajar, dengan semangat, ia tak tergilas oleh jaman itu.
"Lalu kenapa kamu nggak coba dengan kata mata?"
"Udah. Aku udah coba. Tapi kaca mata itu gunanya hanya untuk memperjelas titik fokus pandang. Nyatanya, walau ukuran kecil huruf itu meski dengan kaca mata, tetap tak bisa aku baca."
****
"Kamu mau bawa aku kemana, Ter? Ini udah malam," protes Salin dari tempat duduknya di samping kemudi. Tangannya mencari-cari sesuatu yang bisa ia pegang karena cepatnya mobil yang melaju.
Bukannya menjawab pertanyaan Salin, Alister tetap melajukan mobilnya dengan cepat.
"Ter, kamu mau bawa aku kemana sih? Ini udah gelap. Aku nggak nggak bisa lihat apa-apa dengan jelas. Semuanya gelap, Ter."
Ucapan panik Salin membuat Alister seketika memperlambat laju mobilnya. Ia baru ingat bahwa Salin memiliki keterbatasan pada pandangan matanya. Apalagi di malam hari. Penglihatannya berkurang sangat banyak.
"Kita akan ke rumah sakit."
"Untuk apa? Kamu sakit?"
Kini gantian, Salin yang merasa khawatir. Wajar memang kalau Alister mempercepat laju mobilnya. Bisa jadi dipicu karena ia sakit.
"Bukan aku. Tapi kamu."
"Aku? Aku baik-baik saja. Aku sehat."
"Iya, kamu sehat. Tapi mata kamu perlu diperiksa."
Salin terdiam. Pikirannya sekarang dipenuhi kecurigaan. Apakah setelah ia menceritakan semuanya kepada Alister, pria itu jadi berubah?
Apakah Alister tidak menerima kekurangannya?