Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 22. Weni ... Weni



"Ta, nggak ada lowongan yang kamu tau?"


"E, nggak ada, Lin. Kamu taulah, jaman sekarang ini susah banget nyari kerjaan."


"Iya, Ta. Aku tau. Aku juga sudah mengajukan lamaran ke banyak perusahaan, tapi sampai sekarang belum juga ada panggilan," ucap Salin sendu.


Memang, belum ada sebulan ia di berhentikan dari tempat ia bekerja dulu. Tetapi hingga kini, meski ia sudah mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan, tapi sampai detik ini belum ada hasilnya.


"Sabar dong, Lin. Ya kamu kan belum lama juga nganggur kan. Baru juga sebulan. Mungkin mereka merasa sepele aja sama CV kamu. Tapi kamu tenang saja, rejeki itu nggak akan kemana kok," ucap Gita menguatkan.


Ya, Salin dan Gita bukanlah sahabat atau teman dekat. Mereka hanya saling kenal karena bekerja di tempat yang sama dulu. Tapi nasib, Salin harus diberhentikan dari jabatannya karena dianggap tidak disiplin.


Apalagi juga sejak menikah dengan Setu, Salin tak punya seorang sahabat pun untuk tempat ia berbagi. Selain karena Setu melarang, Salin juga tak ingin membuka aib rumah tangganya kepada orang lain. Ia tanam sendiri untuk diri sendiri, ia pendam sekuatnya. Meski tak jarang ia merasa sesak di dada.


"E, e, aku baru ingat, Lin. Ada temanku yang baru buka cabang toko parfum disini. Jadi dia butuh sales marketing Tapi nggak usah deh. Aku nggak mau kamu kerja disana. Secara dari segi pengalaman dan CV kamu, kamu lebih cocok memang di perusahaan. Apalagi kamu lulusan luar negeri." Panjang lebar Gita menerangkan.


"Bukan masalah apa pekerjaan, Ta. Aku sih mau aja, yang penting halal. Dan tidak merugikan orang lain. Tapi..."


"Iya, Lin. Aku ngerti kok. Ya udah, gini aja. Kamu pikirkan dulu, kalau kamu setuju nanti hubungi aku balik. Kalau kamu yes, aku bisa langsung ngomong ke teman aku. Oke?"


"Iya, Ta. Makasih banyak ya. Kamu udah mau bantu aku."


"Apa sih kamu, Lin. Kayak sama siapa aja," celetuk Gita.


Gita pun mengakhiri panggilannya dengan Salin, karena Gita hendak pergi bersama pacarnya.


"Udah dulu ya, Lin. Entar kita sambung lagi. Hubungi aja aku masalah pekerjaan itu."


"Iya deh , Ta. Sekali lagi makasih ya, Ta."


*****


Hari ini, genap sudah sebulan Salin tidak bekerja. Sudah tiga puluh lamaran yang ia sebarkan ke berbagai perusahaan, tapi hingga kini tak membuahkan hasil. Tak ada yang menelepon atau membalas lamarannya.


Salin juga harus setiap hari berpura-pura berangkat kerja dan pulang seperti biasa demi menutupi kalau ia memang sudah tidak bekerja selama ini.


Tetapi sampai kapan? Sampai kapan ia harus seperti ini? Sebagai seorang wanita karir juga sebagai seorang istri tentu ia lelah dan jenuh.


"Apa aku coba saja lamaran yang dibilang Gita? Nggak ada salahnya kali aku mencoba yang baru. Dari pada aku gini-gini aja terus," batinnya.


Ia bertanya pada dirinya sendiri dan ia juga menjawabnya sendiri.


Brakk


Tiba-tiba Salin dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka secara kasar. Reflek, ia bangkit dari kasur dengan cepat dan langsung berdiri.


"Ma Setu!" ujarnya kaget.


Sebagai istri yang baik, yang tentunya masih punya stok kesabaran, ia menyambut Setu.


"Kamu mabuk, mas?" tanyanya.


Tak ada jawaban dari Setu. Sepertinya ia mabuk berat. Matanya memerah.


"Kamu gimana sih sebagai seorang istri? Kenapa bisa suami kamu mabuk? Kamu nggak peduli sama dia? Kamu nggak perhatian sama dia?"


Tiba-tiba suara menggelegar memasuki kamar mereka.


"Apa yang kamu lakukan sehingga dia mabuk seperti ini?" cecarnya lagi pada Salin.


"Kamu urus dia sebagaimana layaknya kamu seorang istri. Kalau sampai nanti anak saya kenapa-kenapa, kamu yang saya minta pertanggungjawaban!" ancam ibu Sirlina.


Salin melotot usai mendengar ancaman dari sang mertua. Maksudnya apa coba? Yang mabuk siapa, yang disalahkan siapa? Ya begitulah ibu Sirlina. Hari ini dia memang tak mendapat celah untuk memarahi Salin. Jadi ia manfaatkan momen saat Setu mabuk sebagai pelampiasan amarahnya.


Terkadang Salin bingung. Ibu mertuanya ini punya penyakit atau kelainan? Setiap hari selalu berusaha keras mencari kesalahan Salin. Dan setelah ia temukan, ia akan marah. Bahkan tak jarang Salin mendapatkan kekerasan dari ibu Sirlina.


Tidak dari mertuanya, dari Setu pun ia sering merasakan kerasnya tangan Setu membentur, memukul atau melukai dirinya. Entahlah. Untuk saat ini ia hanya bisa bersabar. Berharap ada keajaiban yang membuat ibu dan anak itu berubah padanya.


Brakk


Ibu Sirlina pun menutup pintu kamar itu kembali dengan kuat. Ia sudah keluar dari kamar Setu dan Salin.


Dengan sabar, Salin membuka sepatu Setu, tak lupa juga bajunya. Dilihatnya Setu yang gelisah. Ia pun berinisiatif mengganti kemeja dan celananya. Mungkin itu yang membuat Setu tidak nyaman dalam tidurnya.


Salin mengambil air hangat untuk mengelap tubuh sang suami.


Perlahan, ia buka satu persatu kancing kemeja biru itu. Berikut juga kaus dalamnya. Lalu ia keringkan handuk kecil itu, ia lapkan pada tubuh Setu. Perlahan agar tidak mengganggunya tidur nyamannya suaminya itu.


Semakin ke bawah, ia mengelapnya. Dan .. saat ia mengelap perut Setu, ia baru menyadari satu hal. Ada sesuatu yang berbeda di atas pusar Setu. Ada warna merah. Tetapi entah apa.


Salin mendekatkan pandanganmya pada warna merah itu. Ia lap perlahan. Lama hingga akhirnya hilang. Setelah hilang, ia mencoba mengelap bagian lain. Dan ia menemukan warna merah itu lagi. Kali ini di punggung Setu. Dan warna merah itu semakin jelas bentuknya.


Dan tidak hanya satu. Ada banyak tanda merah itu di sana sini, di punggung suaminya.


Istri mana yang tak teriris hatinya nya melihat semua itu. Sebuah karya entah hasil perbuatan siapa. Yang jelas itu bukan perbuatannya.


Shock terapi yang ia dapatkan bukan hanya disitu saja. Lagi-lagi ia semakin terkejut saat sang suami menyebut nama seseorang dalam tidur lelapnya.


"Weni.... Weni.... ah."


Luruh sudah air mata Salin.