
"Nia, kakak nggak bisa lama ya. Soalnya kakak harus kerja. Kakak baru saja diterima disini. Titip ini ya buat mama."
Wanita itu menyodorkan surat kepada adiknya itu.
"Apa ini, kak?"
"Udah ya. Kakak buru-buru."
Segera Salin meninggalkan restoran itu.
Ya, pertemuan yang sudah mereka atur beberapa hari yang lalu harus segara berakhir. Belum juga Stephania cerita, belum juga Stephania memberitahu bahwa mama mereka sakit, di rawat di rumah sakit, eh Salin nya sudah harus pergi.
Dengan mulut menganga Stephania hanya bisa melepas kepergian sang kakak begitu saja. Ia menatap surat yang disodorkan kakaknya itu dengan sendu.
****
"Keluarganya ibu Sefarina?" seru suara seorang perawat di depan ruangan UGD tersebut. Kebetulan masih ada disana Ardan, Stephania, dan papa Sande.
"Iya, suster. Saya suaminya."
Refleks, mereka bertiga menghampiri perawat tersebut.
"Ibu Sefarina sudah sadar. Keluarga juga sudah boleh menjenguk, sudah boleh masuk ke dalam."
"Baik, Sus. Trimakasih."
Tanpa berlama-lama, mereka bertiga langsung masuk ke ruangan itu. Stephania, langsung memeluk mamanya.
"Mama nggak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Stephania begitu tulus, takut dan panik.
"Mama nggak apa-apa, sayang," ucap mama Sefarina lembut. Ia mengurai pelukannya, lalu mengusap pipi putri bungsunya itu lembut.
"Kenapa nangis, sayang? Hmm?"
Segera Stephania mengusap air matanya dengan jari-jari mungilnya.
"Nggak apa-apa, ma," lirihnya. "Mama nggak boleh sakit ya. Mama harus kuat, please. Nia butuh mama." Bukannya berhenti menangis, air matanya malah makin luruh semakin deras.
"Mama nggak akan kemana-mana. Mama nggak akan tinggalkan putri mama yang cengeng ini, yang bontot ini."
"Janji?"
"Iya, sayang." Mereka berdua menautkan jari kelingking mereka ibarat kekasih yang sedang berjanji untuk saling setia dan tak akan meninggalkan.
"Nia ada sesuatu untuk mama....."
Mama Sefarina mengangkat dagunya.
"Dari kak Lin," sambungnya lagi.
"Lin? Kamu berjumpa dengan Lin? Gimana kabarnya? Dimana dia sekarang?"
Tiba-tiba mama Sefarina panik. Ia kembali tersadar kalau ia berada di sini, di ruangan bercat putih ini, dengan bau khas obat ini karena menerima kabar yang tak mengenakkan dari Salin.
"Apa kabar kakak kamu, nak? Dimana dia? Bisa kamu telpon dia untuk mama?"
Ardan juga papa Sande tentu heran dengan kepanikan mama Sefarina. Mereka bertanya-tanya dalam hati. Kenapa setelah mengingat Salin, mama Sefarina jadi panik. Jadi khawatir. Mereka tau, sebagai seorang ibu, meski jauh tetapi ibu itu akan merasa sesuatu pada anaknya bisa benar memang ada kejadian yang menyakitkan buat anaknya.
"Kakak baik, ma."
Stephania mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.
"Ini, buat mama."
Stephania hanya menggeleng. Sejujurnya ia tak tau apa isi surat itu. Yang jelas ia sangat yakin, ada sesuatu yang tidak beres dengan Salina, maupun Setu.
Dengan lemah, mama Sefarina menerima uluran surat itu. Ardan pun telah menaikkan brangkar mama Sefarina hingga nyaris dalam posisi duduk.
Perlahan ia membaca surat itu.
Ardan, papa Sande dan Stephania hanya bisa menyaksikan, mama Sefarina membaca surat itu. Mereka tak berkedip walau sedetik pun, mengawasi sikap mama Sefarina.
Hiks hiks hiks
Hingga tiba-tiba, air mata mama Sefarina mengalir bagai air sungai yang deras. Bercampur dengan sesenggukan serta bahu yang naik turun, tubuh yang bergetar.
"Salin putriku .." lirihnya terbata.
Membuat ketiga orang itu bertanya-tanya. Apa isi surat itu sehingga mama Sefarina menangis sesenggukan seperti itu. Apa yang terjadi sebenarnya dengan Salina.
Mereka bertiga belum tau sama sekali perihal perceraian antara Salina dengan Setu Sandoro. Entahlah, apa kah mereka akan se shock mama Sefarina saat tau kabar itu kelak, atau hanya biasa saja. Atau apakah penyesalan nantinya yang akan timbul? Atau justru kemarahan? Jika marah, marah pada siapa? Jika salah, menyalahkan siapa? Dan jika menyesal, menyesali siapa?
Ketiga insan itu mematung. Bingung harus berbuat apa.
"Sudah, mama. Jangan diterusin, please. Kalau isi surat ini membuat mama semakin menangis tolong jangan dibaca lagi."
Stephania mencoba menenangkan sang mama. Bahkan ia berusaha merebut surat itu dari tangan mama Sefarina.
"Salin memang anak kurang ajar! Nggak bisa apa dia melihat sedikit saja orang tuanya tenang? Dari dulu anak itu selalu membuat ulah. Selalu mencari masalah. Berapa kali sudah kubilang samamu, nggak usah manjakan dia. Tapi apa? Hah? Dia menyakitimu kan?" hardik papa Sande.
"Papa apaan sih? Kenapa nyalahin kak Salin?" balas Stephania tak terima.
"Kamu nggak tau apa-apa. Kamu masih kecil. Sekolah dulu yang benar."
"Aku kesal sama papa. Setiap ada masalah, bukannya menyelesaikan malah menyalahkan orang lain. Tolong ubah pikiran papa yang kolot itu."
"Apa kamu bilang?"
Plak
"Kamu bilang papa kolot? Hah? Anak macam apa kamu?"
"Papa, Nia, kok malah ribut? Ini di rumah sakit lho. Ini kan kita lagi khawatir dengan bibi. Kenapa malah berdebat?" Ardan mencoba melerai perdebatan sengit antara Stephania dengan papa Sande.
Papa Sande pun terdiam.
"Jelas sekali papa membedakan antara anak papa yang perempuan dengan yang laki-laki. Saat Nia ngomong, papa marah. Bahkan nampar aku. Papa macam apa papa? Bahkan nggak pantas dipanggil papa!"
"Apa kamu bilang?"
Plak
"Papa?" seru Ardan dan mama Sefarina bersamaan.
Air mata Stephania pun mengalir dengan derasnya. Menangis bukan karena sakit menahan tambahan di pipi kiri dan kanannya. Tapi ia mengeluarkan air mata kesedihannya karena lagi lagi, papanya tak adil kepada kepada dia dan Salin selaku anak perempuan terhadap Ardan selalu anak laki-laki.
Anak laki-laki yang selalu ia agung-agungkan, anak yang kelak mewarisi kecerdasannya, anak yang membawa nama baiknya. Menjunjung tinggi anak laki-laki sebagai penerusnya kelas jika ia sudah tak sanggup lagi untuk berkarya.
"Papa kejam! Papa tega!" seru Stephania. Ia berlari meninggalkan ruangan itu dengan menutup mulutnya. Air matanya masih mengalir deras.
"Nggak usah dikejar. Biarkan saja!" hardik papa Sande saat Ardan hendak mengekor langkah Stephania.
"Dia bukan anak kecil!" serunya lagi. Lupa ia bahwa tadi ia mengatakan kalau putrinya itu masih kecil dan belum mengerti apa-apa.