
"Jadi benar, kamu sudah cerai dengan Setu?" Lelaki itu menatap intens Salin. Mengerutkan dahi, ingin memastikan apakah semua yang ia dengar dari Setu, kesakitan yang disaksikan oleh mama Sefarina, benar adanya.
"Iya, kak." Salina menjawab lesu. Ia tak menyangka, perceraiannya akan terkuak secepat ini, bahkan sebelum ia memberitahu kepada semua keluarganya. Hanya mamanya yang ia kabari lewat surat kala itu.
"Tapi kenapa, Lin? Kenapa kamu yang malah memutuskan bercerai dari Setu? Kamu tau, Lin bagaimana nasib seorang janda? Kamu tau bagaimana derita seorang janda? Dan kamu tahu, bahwa dalam keluarga kita bahkan dalam ajaran kita tak ada yang namanya perceraian, kecuali kematian yang memisahkan?" Suara Ardan meninggi, membuat Salin menunduk menahan amarah.
Salin merasa terintimidasi. Merasa dihakimi, tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi. Seolah mereka melimpahkan semua kepada Salin atas apa yang terjadi dalam rumah tangganya.
Ardan sungguh kesal dengan keputusan sepihak dari sang adik. Ia tak menyangka, pernikahan sang adik yang masih terbilang muda, sudah diambang kehancuran.
"Salin tau, kak. Tapi...."
"Tapi apa? Apa salah Setu padamu? Kakak tau kamu bukan orang yang segampang itu mengambil keputusan. Kakak tau kamu bukan perempuan yang semudah itu merendahkan harga dirinya. Sekarang cerita sama kakak, kenapa?"
"Jawab, Lin," bentak Ardan.
"Iya, Lin yang menceraikan dia. Lin yang sudah membuat keluarga kacau. Dan Lin, yang sudah membuat mama masuk ke rumah sakit. Sekarang apa mau kakak? Hah? Mau memukul Lin, sama seperti Setu memukul Lin? Mau menggeret Lin bak hewan, sama seperti Setu memperlakukan Lin layaknya binatang?" Salin pun ikutan menghardik. Amarah yang ia tahan sedari tadi, luruh seketika.
"Menuduh Lin berselingkuh, padahal dia sendiri yang berselingkuh! Istri macam apa, kak yang diperlakukan layaknya pembantu! Lalu, jika kakak sebagai Lin, kakak akan tetap bertahan?"
"Jawab, kak! Jawab!" bentak Lin.
"Papa sama kakak, sama saja. Tak pernah mengerti Salin, Nia atau ibu. Selalu saja salah di mata papa dan kakak meski kami sudah berusaha melakukan yang benar " Suaranya mulai melemah.
"A-apa?"
"Jadi benar... bahwa.... kamu...." ?
Ardan termangu mendengar semua penuturan Salin. Ardan terluka melihat air mata Salin yang tiada henti mengalir sedari tadi. Amarah yang bercampur air mata itu, membuat Ardan menyesal. Ia telah membentak sang adik tanpa ia mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Hiks hiks hiks
Pecah sudah tangis Salin kala itu. Tubuhnya bergetar hebat. Ardan yang melihat itu gak kuasa. Ia membawa tubuh adiknya ke dalam dekapannya.
"Maafkan kakak, Lin. Kakak nggak tau kamu se menderita ini. Kakak nggak tau kalau ternyata pernikahan kamu tidak sehat. Kakak nggak nyangka, Setu sejahat itu pada kamu."
Kini, penyesalan lah yang ada dalam hati Ardan. Dulu ia sangat mendukung sekali ketika Setu datang ke rumah dan meminang adiknya itu. Ia sangat yakin sekali bahwa Setu adalah pria yang baik.
"Kak, aku terluka kak. Aku sakit..." lirihnya masih menangis sesenggukan.
"Lin nggak kuat lagi disiksa, kak. Lin bukan robot. Lin juga bukan batu yang tak punya rasa. Lin manusia biasa, kak. Nggak bisa seperti mama yang selalu setia meski selalu disakiti papa. Lin nggak bisa, kak," ucapnya.
Ardan menepuk pundak adiknya itu dengan sayang.
"Maafkan kakak, Lin. Kakak belum bisa menjadi kakak yang baik yang menjaga adiknya dari laki-laki brengsek seperti Setu. Sekarang, dimana kamu tinggal? Apa masih di mansion?"
Salin menggeleng.
"Nggak, kak."
"Lho, kenapa? Itu kan atas namamu? Enak saja dia, menikmati hasil jerih payah mu tanpa rasa malu. Dasar lelaki pengecut. Kakak tidak terima, kakak harus mendatangi dia dan ibunya."
"Kak, jangan. Tidak usah, kak. Biarkan saja ia puas menikmati mansion itu. Lin nggak apa-apa, kak " Salin berusaha menghalau keinginan Ardan.
"Nggak. Kakak nggak terima. Dia sudah tak adil padamu. Kakak yang akan mengurus ini semua. Kamu tenang saja."
"Kak, Salin mohon tidak usah, kak. Salin sudah capek kalau harus berdebat lagi. Dia akan mendapat balasannya, kak."
"Tidak, Lin. Kakak harus menuntut yang menjadi hak kamu."
"Sekarang, dimana kamu tinggal?"
"Salin...."
"Lin, cerita sama kakak. Apa kamu tidak menganggap kakak lagi?"
"Salin tinggal di..."
Akhirnya Salin memberitahu kepada sang kakak dimana ia tinggal sekarang.
Salin pun akhirnya pulang ke rumah sewanya dengan diantar oleh Ardan.
****
"Jadi, kamu tinggal disini?"
"Iya, kak." Mereka berdua berjalan beriringan, hendak masuk ke dalam rumah itu.
Salin dan Ardan tidak menyadari, sepasang mata mengintai mereka berdua sejak mereka tiba di sana. Kebetulan orang itu pun baru tiba di sana, barengan dengan mobil Ardan tadi yang berhenti tepat di belakang mobil Ardan.
"Kamu nyaman tinggal di sini?" tanya Ardan. Ia ingin memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja di rumah kontrakan itu. Meski tak semewah rumah yang ditempatinya bersama papa Sande, Stephania dan bibi Sefarina.
"Nyaman, kak. Udaranya sejuk karena jauh dari jalan lintas. Tidak banyak polisi dan. juga tenang. Salin suka kok kak tinggal disini."
"Sudah kamu bayar berapa lama?"
"Lin sudah bayar setahun, kak."
Ardan merasa lega. Ternyata adiknya sudah sangat dewasa. Bisa menopang hidupnya sendiri tanpa mengharapkan bantuan darinya, dari papa Sande maupun dari mama Sefarina.
Kedewasaan terjadi karena desakan keadaan yang memaksa harus bertahan. Dan akhirnya sanggup melewati tanpa harus lari dari masalah. Sepertinya itu yang Salin rasakan sekarang.
"Ya sudah, kalau kamu senang kakak nggak bisa maksa kamu buat tingg di rumah kita. Meski begitu, rumah kita selalu terbuka dua puluh empat jam untuk kamu."
"Jaga diri kamu baik-baik, ya. Kalau ada apa-apa, hubungi kakak. Mulai sekarang, kamu jangan pernah pendam sendiri masalah kamu. Cerita ke kakak. Kakak akan berusaha membantu mu, menjagamu dengan nyawa kakak."
"Kakak pulang dulu ya. Sudah terlalu lama kakak meninggalkan bibi."
Ardan memeluk sang adik.
Membuat orang yang memperhatikan mereka sedari tadi geram. Ia mengepal tangannya kuat.
"Iya, kak. Salam sama mama, ya. Nanti kalau semua sudah membaik, Salin akan jenguk ibu. Salam juga untuk Nia kak. Dia juga marah sama Lin kak."
"Iya," sahut Ardan. Ia mengurai pelukannya.
"Kakak akan nasehati dia nanti. Kamu tenang saja. Jaga diri kamu baik-baik."
"Kak..." lirih Salin.
"Hmm." Ardan sudah membuka pintu mobil hendak masuk ke dalam.
"Papa udah tau?"
"Hmmm."
"Apa kata papa, kak?"
"Udah, nggak perlu kamu pikirkan. Kakak pergi dulu. Kasihan bibi."
Ardan berusaha mengelak dari pertanyaan adiknya itu. Ia tak ingin Salin tau kalau orang tua mereka bertengkar karena perceraian Salin dan Setu. Ia tak mau menambah Lika di hati adiknya itu.
"Ada lagi yang mau ditanya? Nanti kakak udah masuk tanya lagi. Kamu kan suka gitu "
Hmmmm.... nggak ada lagi kayaknya, kak."
Ardan pun mendudukkan diri di belakang setir.
"Ya udah. Kakak pergi."
"Kak..."
"Tuh kan kebiasaan." gerutu Ardan. Ia pun membuka kaca jendela mobilnya.
"Hehehe. Nggak ada," cengir Salin.
Ardan senang melihat senyum adiknya itu.