Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi



"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Salin. Saat ini ia sedang berada di ruangan tuan Aaron. Paman dari Alister.


"Begini, nona Salin. Sesuai dengan hasil pengawasan saya selama ini, dan juga laporan dari orang suruhan saya, maka saya dan petinggi perusahaan ini mengangkat nona Salin sebagai manager keuangan. Terhitung mulai hari ini. Ini suratnya."


Lelaki paruh baya yang bernama Aaron Alaric Pratama itu menyodorkan map ke hadapan Salin.


"Ta-tapi tuan saya....saya merasa tidak seperti yang tuan ucapkan. Masih banyak kekurangan dalam saya melakukan tugas saya," elak Salin.


Dalam pemikirannya ini berlebihan, ia merasa belum melakukan apa-apa untuk perusahaan. Terlepas dari ia yang belum genap sebulan bekerja di sana.


"Tuan salah dalam menilai saya. Malah saya merasa saya belum maksimal sekali. Maaf, tuan. Seperti tuan harus menunjuk yang lain, saya belum pantas," ucap Salin lagi.


"Benar, wanita ini berbeda. Pantas Lister tergoda padanya. Dia beda dari wanita pada umumnya. Yang gila jabatan, gila pendapatan. Tapi mau kerja santai, yang kerjaannya menuntut selalu," batin Aaron memuji Salin. Bahkan mengaguminya sebagai wanita muda yang tak gila hal berbau materialistik.


"Saya yang mengawas, saya yang menilai. Bukan anda," ucap Aaron tegas. "Tidak ada manusia yang bisa menilai dirinya sendiri. Mau tidak mau, anda harus menerimanya. Suka tidak suka, anda harus menerima tanggung jawab ini. Saya tidak menerima penolakan. Saya adalah tombak perusahaan ini."


"Keputusan saya adalah yang menentukan jalannya perusahaan ini," ucap Aaron lagi.


Mendengar kalimat panjang tuan Aaron, Salin terpaku. Tertunduk. Tak tau lagi harus bilang apa. Sepertinya memang ia tak bisa mengelak dari tugas yang sudah ditujukan untuknya. Di satu sisi, jika ia melawan sama saja ia tidak menghormati orang penting dalam perusahaan itu.


"Mulai besok, kamu pindah ke ruangan. Ini kunci mobil. Permisi."


Segelas tuan Aaron meninggalkan Salin. Tak ingin ia mendengar kata penolakan lagi dari Salin. Daripada ia mendengar kalimat panjang lebar, penolakan Salin lebih baik ia ambil langkah seribu.


Memang benar, semua ini dia yang mengusulkan kepada Alister dan pemegang saham lainnya. Dan mereka setuju. Karena memang kinerja Salin patut diperhitungkan. Belum ada ia memang sebulan berkecimpung di perusahaan itu, tetapi keuntungan sudah terlihat. Beberapa kali Pratama Group memenangkan tender.


Usai kepergian tuan Aaron, Salin mencoba membaca map yang diberikan Aaron tadi.


"Hah? Besar banget?" pekiknya. Sadar ia memekik, ia melihat sekeliling. Barulah ia sadar kalau sekarang ia bukan di meja kerjanya. Melainkan ia berada di ruangan tuan Aaron. "Syukurlah nggak ada orang," gumamnya.


Ya, tuan Aaron sebagai pemilik ruangan malah meninggalkan ruangannya sendiri. Dan Salin baru menyadari itu. Seharunya kan ia yang pergi dari ruangan tuan Aaron. Ini malah tuan Aaron nya yang pergi.


"Dasar aku," batinnya. Ia menepuk jidatnya sendiri. Merutuki kebodohannya sendiri.


****


Dorrr


"Hah?" Salin memekik. Ia dikejutkan oleh seseorang.


"Lagi baca apa? Serius banget?" celetuk orang itu.


"Nantha? Kamu..."


Nantha malah nyengir. Tak merasa bersalah karena sudah membuat kaget wanita itu.


"Kamu ngapain di sini?" tanyanya heran. Mengingat Nantha masih mengenakan seragam sekolah menengah atas.


"Aku ada janji sama papa."


"Papa? Papa kamu kerja di sini?" tanya Salin bingung.


Nantha hanya mengangguk sembari senyum. Senyum yang memiliki makna. Tapi Salin tak menyadari itu.


"Oh ya, mumpung aku ketemu kakak disini, aku mau bilang bahwa dompet yang kemarin itu udah habis. Kakak bisa buat lagi. Banyak lho yang suka."


"Oh ya?" ujar Salin antusias. Ia tak menyangka, bahwa dompet hasil karya tangannya bisa laris manis di pasaran.


"Iya lho, kak. Bahkan mereka katanya ingin ketemu kakak."


"Masa sih?" tanyanya tak percaya.


"Oh, kamu. Memangnya aku artis se sibuk itu," sela Salin.


"Ada kok di rumah. Baru aku buat. Model terbaru lagi. Nggak sama seperti yang kemarin. Warnanya juga agak segar. Semoga kamu puas."


"Oh ya?" Kini malah Nantha yang lebih antusias.


"Mau dong kak. Jadi kepo deh," ucapnya.


Lupa sudah Salin tantang papa Nantha. Padahal tadi dalam benaknya, ia ingin bertanya banyak hal. Salah satunya ia ingin tau siapa papa Nantha.


"Agnes..." Sapa suara bass dari jauh. Lelaki paruh baya itu pun menghampiri Agnes. Senyumnya tak lupa ia sematkan pada putri semata wayangnya itu.


Spontan Nantha dan Salin menoleh ke arah sumber suara.


"Papa," gumam Nantha. Dan Salin berhasil menangkap di indera pendengarannya apa yang Nantha ucapkan.


"Papa," batin Salin. Ia sungguh terkejut.


"Kamu ngapain ke kantor? Kan bisa ketemu di rumah," ujar tuan Aaron.


"Salah kalau Nantha ke sini, pa? Salah kalau anaknya kangen dengan papanya?" goda Nantha pada sang papa.


Orang yang baru saja membuat Salin terkejut karena perubahan jabatan dan hadiah, kini ia dikejutkan lagi dengan status Nantha sebagai putri dari Aaron Alaric Pratama. Salah satu orang yang sangat berpengaruh di perusahaan itu.


Sungguh banyak kejutan tak terduga yang ia peroleh pada hari ini. Sampai ia tak sanggup berkata-kata.


"Jadi, tuan Aaron adalah papanya Nantha? Astaga. Banyak banget kejutan yang kudapat hari ini." Salin bicara dengan dirinya sendiri.


"Ya nggak salah sih. Tapi kan...."


"Nantha..." seru suara bariton lagi. Ngapain kamu ke sini?"


"Kak Lister? Jangan bilang kakak mau protes lagi karena aku datang ke sini. Sama aja kakak kayak papa. Bawel banget jadi orang," celetuknya. Ia memanyunkan bibirnya.


"Apa? Kakak?" batin Salin. Ternganga ia melihat keakraban Nantha, tuan Aaron dan juga Alister.


"Mereka ada hubungan apa?" batin Salin lagi.


Sungguh, hari ini adalah hari yang penuh dengan kejutan. Banyak hal yang membuat ia harus menahan jantungnya agar tetap pada tempatnya.


Salin mencoba menghubungkan setiap kejadian dan mengaitkannya dengan pertemuannya dengan Alister dan Nantha. Apakah itu disengaja atau memang karena kebetulan? Atau apakah ada seseorang yang mengatur semua ini?


"Jadi mereka bersekongkol untuk ..." batin Salin.


Banyak dugaan-dugaan sementara yang timbul dalam benaknya. Ia merasa dipermainkan. Oleh Alister, Nantha dan juga tuan Aaron. Yang sampai saat ini ia belum tau ada hubungan apa antara tuan Aaron dengan Alister.


Bukankah Alister adakah CEO perusahaan ini? Lalu tuan Aaron siapa? Dan.... apakah Pratama Group milik keluarga Pratama Group atau ada perusahaan lain dengan nama Pradina Group? Kemudian mereka jadi join, sering melakukan kerjasama?


Salin menggeser kursinya hingga menimbulkan suara. Suara kursi yang bergeser membuat tiga manusia itu tersadar. Bukan hanya mereka yang ada di sana.


"Salin!" ujar Alister terkejut. Tak sadar ia kalau sedari tadi Salin ada disana. Menyaksikan guyonan mereka bertiga.


Terkuaklah sudah sedikit banyak rahasia yang coba Alister tutupi selama ini. Sebenarnya bukan sengaja menutupi, hanya ia merasa tidak perlu untuk memberitahu Salin. Salin nya juga tidak pernah bertanya kan?


"Jadi kalian?" Salin memandangi ketiganya secara bergantian. Dan ia mengakhiri pandangannya pada Nantha. Lalu pindah lagi kepada Alister. Salin menduga, ada yang bersekongkol di sini. Tapi ia tak tau siapa. Dugaan paling kuat adalah antara Nantha dan Alister.


Pantas selama ini ia mulus mencari pekerjaan. Mulus dalam segala hal setelah ia mengenal Alister,. Bahkan kasus perceraiannya dengan Setu, tidak butuh waktu yang lama dan tidak bertele-tele.