
"Kamu pasti akan menyukainya nanti. Oke."
Dengan entengnya brother Daniel mengatakan itu kepadaku. Aku kesal, marah bercampur baur dengan rasa takut. Kemana aku harus berlindung? Siapa yang akan menyelamatkan ku dari bejadnya pria yang ada di dekatku sekarang?
Oh dia sungguh berhasrat sekali. Tangannya yang kekar ia masukkan ke dalam kaos oblong ku. Awalnya hanya satu kemudian dua. Dengan posisi memeluk dari belakang. Semakin lama tangan itu semakin naik hingga sampai pada punggung ku.
Dua gundukan yang masih original itu dan masih kecil itu nyaris saja tersentuh oleh tangan kekarnya.
"Jangan takut," bisiknya lagi di telingaku. "Kamu suka kan? Jadi diamlah!"
Ia menggertak ku. Membuatmu semakin takut. Bulu roma ku bahkan meremang. Dalam hati aku berpikir ini guru sudah tidak waras.Tidak layak dihormati dan dihargai.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah kesal sekali. Aku sudah nggak kuat lagi. Ini nggak benar. Aku harus cari cara agar aku bisa menjauh dari pria ini. Begitulah aku bertekad dalam hati.
Dengan niat yang kuat, aku berdiri. Agar terlepas dari kungkungan pria dewasa yang tidak waras itu. Tapi apa? Dia menarik tanganku dengan kuat. Mendorong bahuku dengan kuat hingga aku pun terjatuh, duduk di atas pangkuannya.
"Lepaskan saya!" bentakku akhirnya. Aku mengumpulkan keberanian ku untuk melawan lelaki itu. Sudah bukan saatnya lagi aku mempertahankan diriku untuk menghormati. Tidak, dia tidak layak untuk aku hormati.
Aku coba kembali untuk lepas darinya. Aku tarik tangannya agar lepas dari tubuhku lalu aku tepis dengan sekuat tenaga. Entah kekuatan dari mana aku dapatkan hingga bisa lepas dari cengkraman pria bejad itu.
"Maksud anda apa?" hardikku dengan suara menggelegar. Aku audah marah saat itu. Marah sekali dengan pria itu dan marah sekali dengan diriku sendiri.
Kenapa tidak dari awal aku menghindar? Kenapa aku harus mau disentuh? Kenapa tubuhku tidak langsung menepis tangannya yang kekar itu? Seandainya aku lakukan semua itu, mungkin dia tidak akan berhasil menjamah tubuhku. Tapi, apa aku tau dia punya maksud begitu? Apa aku bisa membaca situasi dia yang ingin berhasrat seperti itu?
Ah sudahlah. Tak ada gunanya menyesali semua itu. Aku ingin segera kabur dari situ dan melaporkan kepada guru-guru ku ataupun kepada pimpinan yayasan itu.
Aku melemparkan buku bacaan braille yang tebal kepada pria itu. Pria yang masih berusaha mengejarku. Aku bisa mendengar dengan jelas suara kursi yang di dorong. Itu artinya, ia menggeser kursi itu agar ia bisa keluar.
Aku berlari ke arah pintu ditengah kepanikanku. Rasanya aku sudah berteriak minta tolong, tapi sayang tak ada yang mendengar. Ruangan itu puntidak jauh dari asrama. Letaknya di belakang.
Aku meraba daun pintu itu dengan tangan bergetar. Air mataku masih saja mengalir sampai membuat mataku buram sehingga pandangan ku semakin tidak jelas. Sudahlah awalnya tidak bisa melihat jarak tiga meter, kini malah semakin berkurang. Aku harus menggunakan perasaan untuk mencapai pintu keluar itu.
Aku lupa jika di pintu itu ada penghalang. Tingginya sekitar 30 cm. Dan aku terjatuh, tersandung oleh penghalang itu. Spontan aku menjerit kembali.
Dengan tenaga yang tersisa aku mencoba bangkit berdiri. Tapi sebelum aku berdiri, aku mendengar suara langkah kaki dari belakang ku. Suara itu semakin jelas terdengar. Semakin mendekat ke arah ku.
Aku berusaha untuk berdiri tegap. Mengumpulkan keberanian ku dan kekuatan ku. Aku harus bisa jauh dari orang ini. Aku harus kuat. Aku harus bisa minta tolong kepada orang-orang supaya lepas dari jeratnya.
Ku pegang kuat-kuat daun pintu itu. Cepat-cepat aku keluar dari pintu itu. Dan berhasil. Aku lega. Tetapi tangannya menarik kaos yang kukenakan.
"Lepaskan!" hardikku. Aku tak peduli lagi dengan yang namanya sopan santun sekarang. Yang paling aku pedulikan adalah lepas dari genggamannya.
"Inikah namanya seorang guru? Layak kah anda dipanggil guru?" tanyaku dengan sarkas.
"Perilaku mu persis seperti binatang. Tidak pantas dipanggil guru. Tak pantas anda menyandang status itu. Tega anda melecehkan saya, murid anda sendiri? Mana semua ceramah yang sering anda kumandangkan setiap les sore? Mana?"
Aku melampiaskan semua amarahku padanya. Ya, aku harus melawannya. Biarkan saja dia berpikir bagaimana. Biarkan saja aku dikeluarkan dari kegiatan les sore.
"Walau kami buta, tapi kami tidak bodoh. Aku yang masih ada sisa penglihatan tega anda melakukan seperti ini? Bagaimana dengan teman-teman saya nantinya yang buta total? Hah? Bagaimana?" sarkasme dengan tajam.
"Pria munafik! Sok suci! Berani ceramah, tapi perilaku mu tak sesuai dengan ceramah mu. Aku muak! Aku jijik! Kuharap, ini pertemuan kita yang terakhir. Aku mundur dari kegiatan les sore ini!"
Aku menutup pintu itu dengan kuat. Ku kurung ia di dalam kelas itu. Lalu aku berlari sekencang yang aku bisa demi bisa kembali ke kamar ku.
Sepanjang jalan aku menangis tersedu-sedu. Jantungku masih berdebat kencang, keringat dingin membasahi tubuh ku. Bahkan tubuhku masih bergetar ketakutan. Hingga akhirnya aku sampai di dalam kamar ku.
"Sa, kamu kenapa?"
Mira, yang masih dengan suara seraknya bertanya kepadaku. Dia menghampiri ku yang masih menangis tersedu-sedu. Dia menuntunku menuju tempat tidurnya. Mendudukkan ku di sana.
"Sa, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? Siapa yang membuatmu menangis?"
Ia menanyakan perihal tentang ku. Pertanyaan yang beruntun.
Tapi aku masih menangis. Entah kenapa hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Mulutku terkunci untuk berucap. Sulit sekali rasanya. Dadaku sampai sesak, sepetinya aku belum puas untuk menangis.
Walau Mira tidak tau apa-apa sekarang, ia dengan sabar mengusap punggung ku. Membawa aku ke dalam dekapannya. Memelukku dengan rasa iba.
"Menangislah sampai kamu puas," ucapnya dengan lembut. Tangannya mengusap suraiku yang masih terikat. Tapi sudah acak-acakan sekarang.
"Nanti kalau sudah tenang, cerita sama aku ya," ucapnya dengan tulus.