
"Parfumnya, kak. Bisa dicoba dulu. Nanti kalau cocok dibeli. Banyak varian wanginya, kak. Ada diskon lagi, kak. Ayok, kak yang mau parfum! Beli 1 gratis 1 kak."
Begitulah Salin mempromosikan parfum yang baru saja launching di toko tersebut. Keluaran terbaru dari toko Nona's parfume. Sambil menyuarakan kepada pembeli, tangannya kanannya sibuk membagikan selebaran mengenai produk parfum itu dan tangan kirinya menggenggam tumpukan selebaran tersebut.
Tak lupa ia menebarkan senyum kepada setia orang yang lewat di depan toko Nona's Parfume.
Hari ini, hari pertama bagi Salin bekerja sebagai sales di toko tersebut. Toko yang terletak di dalam sebuah mall terbesar di kota itu. Beberapa hari yang lalu, Salin mencoba mengirimkan lamaran kerja ke toko itu dan hari ini ia resmi bekerja di toko Nona's parfume.
Sebagai wanita yang tidak bisa hanya berdiam diri saja membuatnya gak tahan untuk tidak bekerja. Oleh karena itu Salin menerima tawaran Gita kemarin.
"Nggak nyangka ya, Bu. Baru saja kita meluncurkan produk terbaru sudah banyak yang terjual," ujar seorang sales lain pada manajer toko itu.
"Iya, benar. Ini semua karena Salin. Kita harus bicarakan lagi kepada tuan agar pemasokan parfumnya diperbanyak lagi."
"Benar, Bu. Sungguh Bu Salin berkarisma menarik hati pelanggan. Semoga aja terus begini ya, Bu. Dengan begini kan launching produk terbaru kita berhasil. Tuan pun pasti akan senang."
Keduanya tersenyum menyaksikan Salin yang sedang sibuk melayani pelanggan. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka. Apalagi kan toko ini baru saja di buka di mall ini.
"Ini, minumlah! Dari tadi kamu sudah sibuk mengurusi pelanggan. Bahkan untuk minum saja kamu tidak sempat. Entah kenapa pembeli semua suka apalagi kamu yang melayani mereka," ucap sang manajer kala itu.
"Ah, ibu manajer terlalu memuji saya. Karena memang parfumnya bagus, Bu. Harum. Jadi banyak yang minat. Apalagi anak muda," celetuk Salin. Ia menerima boto minum yang disodorkan oleh sang manajer.
"Nggak salah Gita merekomendasikan kamu. Kamu adalah jantung toko ini."
"Ibu, biasa saja, Bu. Karena kebijakan para pekerja disini, karena kualitas barang yang dijuallah maka pembelinya banyak," ucap Salin masih merendah.
"Kamu memang, dipuji malah tidak terima. Kebanyakan orang senangnya dipuji, kamu malah sebaliknya. Oh ya, nanti sebelum pulang temui saya di ruangan saya, ya."
"Baik, Bu."
Sang manajer yang bernama Fradina itu pun meninggalkan Salin yang sedang menikmati minuman itu. Kemudian, beberapa saat salin melanjutkan pekerjaannya.
****
"Gimana, Lin betah kerja disana?" tanya Gita sore itu lewat telepon.
"Lumayan, Ta. Manajernya baik banget. Perhatian lagi. Terus para pekerjanya juga ramah semua. Mereka berlalu baik padaku. Seolah aku adalah orang yang sudah lama mereka kemal," ujar Salin antusias.
"Syukurlah kalau kamu betah. Hehe. Aku turut senang, Lin. Kirain kamu malu kerja disana."
"Buat apa malu, Ta, Ya. Selagi kita tidak merugikan orang lain, selagi kita bekerja dengan cara halal, kenapa harus malu? Apa yang bikin malu coba?"
"Iya, sih. Tapi kan... "
"Sudahlah, Ta. Kamu jangan sepelekan aku. Segala pekerjaan bagiku sangat berharga. Tak ada bedanya. Yang penting halal dan dikerjakan dengan ikhlas."
"Iya, deh. Sorry."
"Udah ya, Ta. Ntar ku hubungi lagi. Aku mau siap-siap pulang. Sebelum pulang aku disuruh ke ruangan Bu Fradina. Aku takut beliau terlalu lama menunggu ku."
"Mau ngapain kesana?"
"Nggak tau, Ta," jawab Salin sambil mengangkat bahu. Meski Gita tak bisa melihatnya. Tapi ia reflek melakukannya.
"Udah ya, Ta bye. Nanti gaji pertama aku, aku traktir kamu makan."
"Siap, boss."
****
Tok tok tok
"Masuk!"
"Kamu, Lin banyak banget pertanyaannya. Santai aja. Duduk dulu gih!" Fradina tersenyum melihat tingkah Salin itu. Seolah ia takut karena berbuat salah hingga menjadi terlalu segan padanya.
"Duduk dulu!" titahnya sekali lagi karena Salin masih meragu untuk duduk.
Usai Salin mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Fradina, ia melihat dua tangan menyodorkan amplop coklat ke arahnya.
"Ambillah!"
"Apa ini, Bu?" tanyanya heran. Terkejut ia melihat map berwarna coklat itu. Teringat ia dulu saat di tempat kerja lama, ia juga disodorkan amplop coklat seperti itu yang berisi surat pemberhentian kerja.
"Apakah ini surat yang sama? Apakah mereka memecat aku? Masih sehari aku bekerja, apakah langsung dipecat? Alangkah malang diriku ini." Begitu lah isi batin Salin yang penuh kecamuk. Dengan disertai jantung yang berdegup sangat kencang.
"Bukalah!" ucap Fradina lagi.
Takut-takut Salin meraih amplop itu. Bisa Fradina lihat kalau tangan Salin gemetar menyambut amplop itu.
"Tidak apa-apa. Jangan takut!" tegas Fradina.
"Ini layak kamu dapatkan," imbuhnya lagi.
Ucapan terakhir Fradina menguatkan Salin untuk membuka amplop itu. Amplop warna coklat dan tebal.
"Uang?" batinnya penuh tanya.
"Kamu suka?" tanya Fradina.
"Untuk saya, Bu?"
"Ya iyalah untuk kamu. Kalau untuk saya buat apa saya kasih ke kamu. Itu sebagai bonus karena penjualan kita hari ini habis. Bahkan stok yang seharusnya kita akan pasarkan Minggu depan terjual sudah. Berkat kamu, parfum luncuran terbaru toko kita habis terjual."
Salin terpaku mendengar penjelasan manajer tersebut.
"Ini adalah hadiah dari tuan, pemilik toko sekaligus presiden direktur mall ini. Beliau sangat berterimakasih padamu. Berkat mu, parfum keluaran terbaru diminati masyarakat," imbuh Fradina.
"Tapi, Bu ini terlalu berlebihan. Ini jauh dari kesepakatan kita waktu itu. Apakah tidak adanya nanti kecemburuan sosial bagi pekerja lain?"
"Kamu tenang saja, mereka juga mendapat sesuai hasil kerja mereka. Jadi tidak ada yang namanya kesenjangan sosial."
Salin masih tak percaya. Baru sehari bekerja, dihadiahkan gaji segepok oleh sang boss. Apa ia karena kegesitannya bekerja? Atau apa ada hal lainnya? Entahlah, Salin tak tau apa-apa.
"Ini buat kamu. Dan ini hak kamu. Dan saya harap tidak ada penolakan. Pilihannya hanya ada dua, tetap bekerja disini atau tidak boleh menolak pemberian dari tuan presiden direktur."
"Pilihan apa itu?" celetuk Salin sambil tersenyum.
"Makanya diterima," sahut Fradina.
"Baiklah, saya terima. Terimakasih banyak ya, Bu sudah mau menerima saya bekerja disini."
"Justru saya yang dan semua pekerja disini berterimakasih kepadamu. Kamu menyambut mu dengan penuh suka cita. Tetap semangat ya. Dan ini baru awal jangan berpuas diri," ucap Fradina menasihati Salin.
"Trimakasih Bu atas nasihatnya. Kalau begitu saya permisi, Bu."
"Baik. Sama-sama. Kamu boleh pulang."
Salin bersyukur sekali bisa sampai di titik ini. Meski ia bekerja hanya sebagai sales, tapi bukan seperti sales yang pernah ia tau. Yang panas-panasan keliling menjajakan jualannya. Ia beruntung diterima di toko itu. Sangat beruntung.
Dengan begini, ia bisa pulang ke rumah dengan hati riang dan tak perlu mencari alasan apabila Setu atau ibu mertuanya meminta uang padanya lagi.
Tak perlu lagi dia harus bersandiwara pergi dan pulang kerja seperti sebelumnya. Kali ini ia benar-benar pergi bekerja, meskipun hanya sebagai sales marketing.