Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha



"Kenapa kakak malah ketawa? Hah?" Nantha semakin kesal. Bukannya menjelaskan yang sebenarnya, Ardan malah cengengesan.


"Kamu cemburu sama dia?" tanya Ardan balik.


"Cemburu? Buat apa?" Nantha berusaha mengelak.


"Kalau kamu nggak cemburu, terus kenapa kamu marah? Kenapa kamu menguntit kakak sampai-sampai kamu ambil gambar kakak dengan wanita itu."


"Ng-nggak. Nggak ada yang cemburu. Buat apa juga aku cemburu. Jangan kepedean."


"Yakin?"


"Ya yakin dong."


Ardan semakin senang menggoda gadis pujaannya itu. Sedari awal pertemuan Ardan sudah menunjukkan perasaannya kepada Nantha, tapi gadis itu jual mahal. Pura-pura cuek dan tak peduli.


Bahkan Ardan sudah berusaha mengungkap isi hatinya kala itu, tetapi Nantha malah tak menjawab. Kata ia atau tidak tak keluar dari bibir mungilnya. Membuat Ardan semakin tertantang.


Mereka bahkan saling telpon, melebihi dari makan obat yang tiga kali sehari.


Sekarang malah gadis itu mencari tau tentangnya? Bahkan mencuri poto dirinya dengan adiknya Salin, dituduh sebagai kekasihnya. Jelas gadis itu cemburu. Ya, Ardan tau kalau gadis itu cemburu kepadanya.


"Benar. Dia adalah orang yang paling spesial dalam hidup aku," lirih Ardan. Hal itu semakin membuat Nantha jengkel.


"Oh. Selamat lah ya. Semoga hubungan kalian lebih serius lagi dan segera naik takhta,"' ucap Nantha asal. "Dan langgeng sampai kakek dan nenek kelak, imbuhnya lagi dengan nada ketus.


"Kalau begitu, saya permisi."


"Eh, mau kemana? Kok main pergi aja? Pesanannya aja belum datang. Dan..... katanya tadi mau bahasa sesuatu dengan saya," sela Ardan cepat.


"Nggak jadi. Saya udah lupa. Bye."


"Eh," pekik Ardan. Ia tak mau kalau sampai Nantha meninggalkan dirinya. Tujuannya ke sini adalah untuk menyampaikan perasaannya, untuk mencari tau isi hati Nantha terhadapnya. Dan sepertinya ia berhasil. Tinggal memastikannya sekali lagi.


Belum sempat Nantha pergi, Ardan sudah terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya. Sehingga tanpa sengaja, Nantha menubruk dada bidang Ardan . Nantha pun merasa jantungnya berdetak sangat cepat.


"Dia adik ku," bisiknya di telinga Nantha.


Sontak Nantha terkejut mendengar bisikan Ardan.


"Seperti yang saya bilang tadi, orang yang saya suka dan yang saya cinta adalah kamu. Sejak awal kita ketemu, saya sudah tertarik ingin mengenal lebih jauh dirimu. Hingga sekarang, saya semakin ingin memiliki dirimu. Menyerahkan seluruh cinta saya hanya untukmu."


Nantha bungkam dengan penjelasan Ardan. Ia tak berpikir sejauh itu kalau ternyata Salin, orang yang ia panggil kakak adalah adik dari orang yang ia sukai.


"Gimana? Udah percaya sama kakak?"


Nantha masih bungkam. Belum mau ia mengakui kesalahannya dan kecemburuan.


"Bisakah kita berdua menjalin hubungan sepasang kekasih?" tanya Ardan lagi.


Sementara Nantha tetap bungkam. Ia malu mengakui kalau ia sudah cemburu. Entah apa yang ia tunggu lagi. Menurutnya, Ardan terlalu blak-blakan. Tidak ada romantisnya sama sekali. Masa ungkapin cinta di tempat seperti ini. Tak ada sedikitpun hawa romansanya.


"Nantha."


"Iya, kak?"


"Maulah kamu menjadi kekasih pertama dan terakhir ku?" tanya Ardan sekali lagi.


Nantha yang ditanya seperti itu, masih diam. Belum bisa ia jawab sekarang. Dan belum siap ia jika menjawab ia. Karena tujuan awal ia menemui Ardan hanya ingin memastikan siapa wanita yang bersamanya kala itu.


"I-itu .. " Nantha meragu.


"Nantha belum bisa jawab sekarang kak. Bisa kakak menunggu Nantha?"


"Kapan pun, kakak akan menunggu jawaban dari kamu. Tapi kalau boleh jangan lama-lama ya "


"Ya sudah. Sekarang, makan dulu. Habis itu kita akan lanjut perjalanan kita. Kamu mau kemana, kakak akan turuti ingin mu. Oke?"


"Hmmm." Nantha mengangguk.


****


"Kita kemana sekarang, kak?" tanya Nantha.


Ada banyak paper bag di tangan Ardan dan juga Nantha. Mereka sehabis belanja. Lebih tepatnya, Nantha yang banyak belanja. Dan dibelanjakan keluh Ardan.


Hari ini, Ardan mengabulkan semua permintaan Nantha sesuai dengan janjinya tadi.


"Gimana kalau kita nonton kak?" tanya Nantha memberi usul.


"Boleh. Ada rekomen film yang sedang viral?"


"Ada," sahut Nantha. Ia pun membisikkan judul filmnya tepat di telinga Ardan.


"Itu kan film laga? Kamu suka film laga?"


"Iya," sahut Nantha.


Ardan senang. Semakin banyak ia tau tentang Nantha maka semakin bagus. Memang itu tujuannya. Agar kelak saat mereka sudah jadian, Ardan sudah banyak persiapan.


Baginya, Nantha adalah gadis yang unik. Ardan mengira kalau setiap gadis pasti sukanya film romantis. Tetapi Nantha malah lebih suka film laga. Semakin penasaran ia dengan gadis itu.


"Ya udah, kita kesana. Kita lihat apa masih ada tiketnya. Soalnya film itu kan masih baru meluncur. Siapa tau kita nggak kebagian."


Tanpa ragu, tangan kanan Ardan, menggenggam erat tangan kiri Nantha. Sementara tangan mereka yang lainnya memegang paper bag belanjaan mereka tadi. Mereka hendak menuju ke mobil Ardan dan akan meninggalkan belanjaan mereka nanti di dalam mobil.


Lima belas menit telah berlalu. Dan di sini lah mereka sekarang. Dengan tiket sudah berada di tangan Nantha. Untung saja mereka cepat. Kalau tidak mereka tak akan kebagian.


"Kamu tunggu di sini ya. Kakak mau beli kopi dan cemilan. Ingat, di sini. Jangan kemana-mana sebelum kakak datang. Oke."


"Iya, kak," sahut Nantha sambil menganggukkan.


"Nona, titip kekasih saya, ya," ujar Ardan pada gadis yang sedang bertugas menjual tiket kepada para pelanggan.


"Baik, tuan," jawabnya sambil tersenyum.


"Silakan duduk, nona," ucapnya kepada Nantha setelah Ardan pergi.


Tanpa menjawab apa-apa, Nantha segera duduk di kursi yang tersedia di sana.


Seumur hidupnya, baru kali ini ia hendak menonton bioskop dengan lawan jenis rasa spesial. Berdua lagi Selama sering sih, tapi ramai-ramai dan bersama teman perempuannya pula.


Hanya sejenak Nantha menunggu, Ardan sudah kembali dengan box di tangannya. Dan dua cup kopi sesuai pesannya.


"Maaf ya lama."


"Nggak kok, kak. Sebentar juga," ujar Nantha. Segera ia berdiri, menyambut Ardan. Dan mengambil kedua cup kopi itu dari tangan Ardan.


Mereka pun masuk ke dalam pintu tiga, slesuai arahan penjaga. Karena telah terdengar sound bahwa film akan segera di mulai. Dengan tangan Ardan merangkul pundak Nantha.


Mereka menonton dengan sangat serius. Mengikuti setiap adegan dalam film itu. Bahkan Nantha, tak satu pun adegan yang ia lewatkan saking ia penasaran dengan alur filmnya.


Beda halnya dengan Ardan. Di awal ia memang serius, tapi lama lama, pandangannya fokus pada Nantha. Justru Nantha lah yang paling menarik yang ia ingin lihat sekarang.


.


Ardan tak berhenti tersenyum dengan tingkah Nantha sedari tadi. Menikmati film itu dengan seksama dengan Ardan yang sesekali menyuapkan ia cemilan dan kopi yang dibelinya tadi.