
"Ni-nia, pa pa papa min-ta ma-af."
Pria paruh baya yang sedang terbaring lemah di brangkar itu berusaha sekuat tenaga untuk berbicara dengan putri keduanya yang sedang tertidur di samping brangkarnya. Suaranya sudah keluar, tapi masih lemah dan sulit untuk mengucapkan sebuah kata atau kalimat.
Dengan lembut, ia belai surai hitam panjang Stephania. Hal yang bahkan nyaris tidak pernah lagi ia lakukan sejak Stephania dengannya selalu beda pendapat.
Sering selisih paham. Terutama akhir-akhir ini, sejak Stephania sudah mulai beranjak dewasa. Ia sudah merasa kalau larangan papa Sande adalah suatu alasan baginya agar tidak maju.
"Maafin papa ya, nak. Papa sudah menjadi papa yang paling egois yang ada di bumi ini. Selalu memaksakan kehendak papa tanpa memikirkan apakah kamu suka atau tidak tentang keputusan papa," ucap papa Sande dalam hati.
Ingin berucap, tetapi ia tahan. Ia takut suaranya akan membangunkan Stephania dari tidurnya. Papa Sande tau dan merasakan, bagaimana lelahnya Stephania menjaganya setiap malam. Tak membiarkan mama Sefarina yang berjaga. Memberi waktu kepada wanita paruh baya itu untuk tidur dengan tenang pada malam hari di rumah dan akan kembali berjaga esoknya setelah Stephania berangkat ke sekolah.
"Ardan, maaf kan papa, nak," ucap papa Sande di hati. Air mata yang sudah menganak sungai, mengalir deras berlomba-lomba membasahi wajah hingga sampai membasahi bantal yang ja gunakan.
"Coba saja, bila waktu itu papa tidak menyuruhmu ke sana, kamu nggak akan pergi untuk selamanya, Ardan. Papa macam apa aku ini? Aku yang telah merencanakan semuanya sehingga membuat Ardan, putraku sendiri meninggal dunia. Hanya karena ingin menjodohkan dia dengan wanita yang aku pilih. Apakah aku pantas dipanggil papa?"
Kini, hanya penyesalan yang begitu mendalam yang ia rasakan. Gara-gara rencana sialannya, meminta Ardan untuk mengurus perusahaan mereka yang ada di Kalimantan, yang pada kenyataannya tidak ada. Hanya akal-akalan papa Sande saja itu semua.
Bahkan mensabotase keadaan perusahaan yang ada di Kalimantan, demi ia bisa membatalkan pertemuan Ardan dengan gadis yang telepon kala itu.
Flashback
"Oke. Nanti kakak jemput ya. Kamu siap-siap. Kira-kira jam tujuh malam kakak datang."
"Oke deh, kak. Aku tunggu."
"Nan..."
"Iya, kak."
"Kamu dandan yang cantik ya."
"Hah?"
"Bukan hah. Tapi ya. Pokoknya kamu dandan yang cantik. Pakai baju yang kamu sukai. Kalau bisa warna biru karena itu warna kesukaan kakak."
"Ya tapi, buat apa kak? Emangnya kita mau kemana?"
"Ada deh. Kakak mau kasih surprise buat kamu. Dan kakak yakin kalau kamu pasti akan suka."
"Emangnya kemana sih, kak?"
"Nanti kamu akan tau. Kalau kakak bilang sekarang, itu mamanya bukan lagi kejutan. Tapi pemberitahuan."
"Iya iya. Bawel banget sih. Udah ya, kak. Nantha masih ada kelas."
"Iya, sayang."
Deg
Dengan tangan yang masih menggenggam smartphonenya, masih telponan dengan Ardan, Nantha terkejut mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Ardan.
Baru kali ini ia dipanggil sayang oleh lelaki selain papa, opa dan kakak sepupunya.
Debaran jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Untung saja itu hanya lewat telpon. Coba kalau bertatap muka, entah bagaimana cara Nantha menghadapi pria yang berjarak delapan tahun dengannya itu.
Hampir menyerupai Alister usia Ardan. Hanya saja Ardan lebih tua, selisih dua tahun.
"Nan..." panggil Ardan lembut.
"Nan ..." panggil Ardan lagi.
Tetapi Nantha masih saja sibuk dengan kebisuannya.
"Agnesrani Anantha Pradina." Seseorang memanggil namanya dengan lengkap.
"Iya, kak. Kenapa?" pekiknya bercampur kaget.
Seluruh kelas otomatis perhatiannya fokus kepada Nantha yang tiba-tiba memekik entah pada siapa. Sementara guru sedang sibuk memberi penjelasan pemecahan soal di depan kelas.
"Kakak? Sejak kapan kamu memanggil saya kakak?"
"P-p-pak Paul?"
Ya, orang yang memanggil nama Nantha dengan lengkap adalah bapak Paul. Guru fisika di sekolah Nantha.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya pak Paul lagi. Matanya menatap tangan Nantha yang masih menggenggam ponsel, sedang telponan.
"A-a-anu, pak. Nantha... Nantha..." Nantha bingung harus menjawab apa. Tak ada kata di dalam benaknya yang ia ingin sampaikan kepada guru fisikanya itu.
Ardan yang berada di balik telpon, hanya bisa tersenyum mendengar semuanya. Teringat ia dengan masa-masa sekolahnya dulu.
"Sini hp kamu!" titah pak Paul.
"Buat apa, pak?" Nantha bertanya dengan polosnya.
"Ponsel kamu, akan bapak tahan. Sini!"
"Ja-jangan dong, pak. Nanti kalau bapak tahan, gimana saya mau ketemuan sama pacar saya? Saya sudah janjian dengannya, pak," rengek Nantha.
"Huuuuu." Begitu sorak protes dari teman-teman Nantha satu kelas.
"Saya tidak menerima alasan apapun. Sekarang pilih, kasih hp ke saya atau saya akan laporkan kamu ke bapak kepala sekolah supaya menahan hp kamu selama berada di sekolah. Artinya, kamu tidak boleh memegang ponsel selama di sekolah."
"Jangan dong, pak. Kasihani saya dong, pak. Kami belum jadian. Nanti kalau bapak kepala sekolah yang megang, yang ada saya patah hati, pak. Saya sedih, pak. Nanti nggak bisa video call dengan ayang beb."
Semakin tersenyum lebar Ardan dengan ucapan nyeleneh Nantha kepada gurunya itu. Bukannya takut, Nantha malah mengajak pak Paul bercanda. Bukannya bisanya guru fisika itu di cap guru killer?
Turut
Ardan pun memutuskan panggilan itu pada akhirnya. Karena ujungnya nanti itu ponsel akan ditahan oleh pak Paul, guru fisika Nantha.
Papa Sande yang ada di balik pintu, mendengar bagaimana bahagianya Ardan telponan dengan gadis di seberang sana. Terlihat senyum Ardan begitu tulus. Begitu bahagia, karena ia telah jatuh cinta pada gadis yang baru saja ia telpon.
Dengan sigap, papa Sande menghubungi orang suruhannya untuk mencari tau siapa gadis yang akan Ardan temui. Gadis mana yang sudah membuat anaknya jatuh cinta? Sementara gadis yang ia pilih, ditolak mentah-mentah oleh Ardan.
Papa Sande kesal. Segera ia menghubungi orang kepercayaannya yang menangani cabang perusahaan di sana dan merencanakan perjalanan Ardan ke sana. Kemudian di susul oleh wanita yang ia pikirkan untuk Ardan.
Membuat seolah Ardan dan wanita itu akan berlibur di sana, menghabiskan banyak waktu, agar timbul cinta di hati Ardan untuk wanita itu.
Flashback end
"Aku telah membunuh anakku sendiri," batinnya pilu. Menyesal ia sekarang. Penyesalan yang bahkan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Aku yang harus bertanggung jawab atas kekacauan yang ada di dalam rumah tanggaku sendiri. Aku yang harus menyembuhkan luka di hati istriku dan putri-putri ku. Tidak, aku tak mau kehilangan lagi," ucap papa Sande dalam hati. Penuh tekad ia untuk memperbaiki segalanya.