Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 55. Aku Hamil, Mas.



Seorang wanita berparas cantik berjalan dengan santai di dalam sebuah perusahaan. Kecantikan dan keseksiannya membuat mata orang-orang terkhusus pria berpusat kepadanya.


"Apa lihat-lihat? Nggak pernah lihat cewek cantik dan seksi seperti aku?" ucapnya mengejek. Pada pria-pria yang menatap haus padanya.


Beberapa pria yang melongo bahkan maju beberapa langkah otomatis mundur mendengar ucapan judes dari wanita itu. Ternyata oh ternyata cantik wajah tak secantik ucapannya.


Kalau diteliti dari jarak dekat memang wanita ibu tidak cantik. Hanya menang karena make up saja.


"Cih, hanya model bedak," cibir seorang pria. Ia mencoba mencolek wajah wanita yang judesnya sangat tinggi bahkan mengalahkan gunung Himalaya.


"Heh, lancang kamu ya!" hardik wanita itu. "Kamu berani melecehkan saya! Kamu tidak tau siapa saya? Hah?" ujarnya marah. Wajahnya bahkan sudah memerah sekarang.


"Idih, galak amat," sahut pria itu santai.


"Kan yang aku bilang benar. Cantik modal skin care doang. Asli nya mah siapa yang tau. Jangan-jangan mirip kuntilanak. Muka pucat, muka hitam, kulit pucat," imbuh lelaki itu lagi.


"Kurang ajar kamu!" tukas wanita itu. Bahkan ia mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparannya kepada pria itu. Wanita itu merasa dihina, harga dirinya diinjak-injak.


"Mau mukul aku? Nggak bisa," goda pria itu. Semakin tersulutlah amarah wanita itu.


"Kulaporkan kamu pada atasan kamu. Biar kamu dipecat sekalian!" ancamnya pada lelaki itu.


"Silakan. Aku tidak takut." Lelaki itu malah tak takut dengan ancaman wanita itu. Ia cuek saja berlalu dari hadapan wanita yang bermuka judes itu.


"Kenapa ini ribut-ribut?"


Tiba-tiba suara bass mengejutkan mereka semua. Membuat karyawan yang berkumpul disana, menunduk, bahkan ada yang dengan diam-diam kabur dari sana. Takut kena omel oleh boss killer mereka.


"Sayang, lihat tuh karyawan kamu," ucap wanita itu mengadu. Suara manjanya membuat pria yang berdebat dengannya tadi muak. Meski ia sudah menjauh, tapi telinganya masih tajam untuk mendengarkan suara memuakkan itu.


"Cih, menjijikkan," makinya.


"Kamu? Ngapain ke sini? Kan saya sudah bilang saya sedang sibuk." Lelaki itu sepertinya tidak suka dengan kedatangan wanita itu ke kantornya.


"Kalian, kerja sekarang! Kenapa masih di sini?" serunya pada karyawannya yang masih tertunduk itu.


"I-iya, pak." Mereka pun satu persatu meninggalkan pasangan itu.


"Sayang. ," ucap wanita itu manja. Ia bergelayut pada lengan kekar pria itu. Ia mengikuti langkah lelaki itu menuju ke dalam ruangannya. Tak peduli ia meski lelaki yang bernama Setu Sandoro itu abai terhadapnya.


"Sayang.. karyawan kamu itu nggak sopan banget ya. Masa dia melecehkan aku," adu nya. "Masa dia begitu sama kekasih bosnya. Nggak sopan banget," imbuhnya lagi. Tapi Setu tetap cuek.Tak peduli ia dengan rengekan Weni.


Terlihat jelas memang Setu tak mengharapkan Weni ada di sana.


"Sayang...."


"Ngapain kamu ke sini?":sela Setu. Memotong perkataan Weni.


"Aku nggak lagi ulang tahun," sahut Setu tak peduli.


"Kamu kok gitu sih. Kan nggak mesti saat ulang tahun kasih kado."


"To the poin aja. Ada apa?" Sepertinya Setu sangat tidak suka lama-lama bersama dengan wanita itu.


Weni pun merogoh hand bagnya. Lalu mengeluarkan suara benda berbentuk kotak, dibungkus dengan kertas kado.


"Nih," katanya. Ia ulurkan kotak itu pada Setu. "Silakan dibuka. Aku yakin kamu pasti senang banget," ucapnya dengan sangat yakin.


Dengan tak sabaran, Setu membuka kotak itu. Bahkan kertas kadonya ia robek bagai tak berperasaan.


"Apa ini?" tanyanya. Ia mengangkat benda itu dan menunjukkannya ke wajah Weni.


"Aku hamil, mas. Kamu senang kan sayang?"


"Hamil?" beo Setu lagi. Ia sungguh terkejut dengan kabar itu. Kabar yang sangat ia nantikan sudah lama, termasuk juga ibunya.


Reflek Setu memeluk Weni begitu erat saking ia merasa bahagia sekali.


"M-mas, aku ng-nggak bisa napas," ucap Weni pelan dengan tergagap.


Bahkan ia membawa tubuh Weni berputar-putar saking ia merasa bahagianya. Dan.... Weni pun tak bisa berbuat apa. Ia membiarkan saja kekasihnya itu melakukan apa yang ia mau.


"Mas, turunin. Aku pusing," seru Weni. Mencoba menyadarkan Setu dari kegembiraannya.


"Nanti dedeknya juga ikut pusing, mas kasian," tambah Weni lagi.


"Iya iya. Baik. Maafin mas. Mas hanya nggak bisa menahan diri. Mes sedang banget," seru Setu dengan menggebu-gebu.


"Maafin papa ya, dedek," bisiknya pada janin di perut Weni dengan cara, ia belai perut Weni dengan sangat lembut. Ia usap. Dan ia bayangkan bahwa anaknya itu, yang di dalam kandungan itu bisa mendengar bisikannya.


Weni tersenyum senang melihat respon Setu terhadap kehamilan. Tak bisa ia ungkapkan dengan kata rasa senangnya saat ini.


"Ya udah. Sekarang kamu mau makan apa? Pengen sesuatu nggak? Biar mas belikan. Jangan sampai dedeknya nanti ngiler," celetuk Setu asal.


"Hus. Kamu mas. Semangat banget. Masih kecil banget dianya. Ya belum bisalah dikasih nasehat kayak gitu," sahut Weni.


"Kalau gitu kita ke dokter ya. Mas pengen liat ia di layar monitor sudah sebesar apa dia. Mas juga ingin dengar suara detak jantungnya." Setu begitu bersemangat.


"Ke dokter? Ng-nggak sudah deh, mas. Kan aku udah cek semalam ke dokter. Masa ke dokter lagi," elak Weni.


"Lho? Kenapa? Nggak ada yang salah kan? Kita kan berhak untuk mengatur jadwal anak kita kapan ke dokternya. Tak ada hak dokter untuk melarang kita untuk melakukan itu. Yang penting adakah uang "


"Ta-tapi mas. Aku udah janji sama dokter itu Minggu depan atau dua minggu lagu lah aku ke sana.