Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina



"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya gadis cantik yang sedang menjaga kiosnya.


"Yang ini berapa ya, nona dijual?" tanya wanita itu dengan ramah.


Ia sangat tertarik pada dompet yang terbuat dari manik-manik yang mengkilap.


"Oh, ini. Nggak mahal kok, nona. Saya nggak banyak ambil untung. Ini kebetulan hobi saya. Saya sendiri lho yang membuatnya," jawab gadis itu sambil tersenyum.


"Oh ya? Bagus banget," pujinya.


"Ah, nona bisa aja," sahut gadis itu tersipu malu.


"Kebetulan saya juga bisa buat seperti itu. Saya juga hobi membuat kerajinan seperti ini. Kadang saya buatnya saat waktu senggang."


"Oh ya?" tanya gadis itu semangat. Ia merasa mendapat teman se frekuensi. Hobi yang sama dengan dirinya. Nggak semua perempuan suka hal-hal seperti ini.


"Jangan panggil nona saya. Saya masih sekolah," ucap gadis itu. Ia ingin mengobrol lama dengan wanita yang menurutnya lebih tua darinya itu. "Saya masih sekolah," tambahnya mengenalkan.


"Oh ya? Kelas berapa?"


"Sekolah menengah tingkat atas," jawab gadis itu.


"Panggil saya Nantha. Nama saya Agnesrani Anantha Pradina."


"Oh. Saya Salina. Panggil Salin saja." Salin juga turut mengenalkan dirinya.


"Ah nggak enak saya panggil nama. Saya panggil kakak saja ya. Nggak boleh nolak," ucap Nantha tersenyum tulus. Ia merasa wanita yang bernama Salin itu baik. Entah kemana ia merasa cocok dengan Salin.


"Duduk aja, kak. Kita ngobrol yuk! Kakak nggak sibuk kan? Mau minum?"


Begitulah Agnesrani Anantha Pradina, kalau sudah ketemu dengan orang yang cocok maka ia tak akan berhenti bicara. Ia merasa punya teman yang dapat mengerti dirinya.


"Boleh tau nggak kakak sudah buat bentuk apa saja?" tanya Nantha lagi. Belum juga Salin menyahut dua sudah membuat pertanyaan baru. Benarkan kalau dia itu tak bisa diam kalau sudah ketemu yang cocok.


Nantha merasa Salin adalah gadis penyayang, sabar dan juga keibuan. Ia sangat yakin. Bahkan dalam sekejap ia bisa merasakan kasih sayang Salin yang tulus. Padahal masih pertama bertemu.


"Ada banyak," sahut Salin.


"Oh ya? Jadi penasaran," sahut Nantha. "Itu nggak kakak jual?" tanya Nantha lagi. Ia berharap dapat melihat hasil karya tangan dari Salin.


"Takut nggak laku jadi saya hanya buat untuk kalangan sendiri saja." Salin membuka tas nya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam.


"Ini," jawabnya dan menyodorkan benda itu pada Nantha.


"Wah, ikut banget, kak. Paduan warnanya juga bagus. Lucu dan cantik. Kita jual ya, kak. Pasti laku," mohon Nantha.


"Saya nggak yakin itu laku. Zaman sekarang kan sudah jarang orang mau pakai begituan, lebih suka yang branded." Salin merendah.


"Siapa bilang? Kakak salah. Saya saja sampai kewalahan membuat permintaan pelanggan. Iya kan, Del?" tanyanya pada Delly, temannya yang menjaga kios itu.


Dijawab Delly dengan anggukan kepala.


"Gimana kalau kakak bawa saja ke sini hasil karya kakak? Biar kita jual. Nanti hasilnya saya kasih ke kakak. Saya nggak akan ambil untung kok," ucap Nantha lagi. Ia ingin selalu bertemu dengan wanita itu.


"Boleh."


"Saya ada disini setiap hari Selasa dan Kamis, jadi kakak bisa ke sini jumpai saya setiap hari Selasa jam dua siang sampai jam enam sore dan hari Kamis jam satu siang sampai jam enam," jelas Nantha. "Atau kakak bisa simpan nomor ponsel ku. Siapa tau kakak perlu atau saya yang hubungi kakak bila saya ada perlu."


"Oh boleh."


Ya, siang ini Salin suntuk di rumah tanpa melakukan apapun. Sejak kejadian hari itu, tak lagi bekerja menjual parfum.


Dan yang paling Fradina sesali, ia tak bisa membantu Salin. ia hanya bisa menatap pilu, kasihan pada Salin. Tapi jangan bisa berbuat apa. Lelaki yang mengaku suaminya itu akan berbuat hal yang sama pada mereka yang ingin membantu Salin. Hanya Alister lah kala itu yang bisa menyelamatkan Salin. Itupun karena Alister bisa beladiri sehingga Setu tak bisa melawannya.


Salin dan Nantha pun bertukar ponsel.


"Udah saya P ya kak," ucap Nantha.


Salin mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Kak, mau dong. Cantik banget," puji Nantha pada dompet ponsel Salin, yang terbuat dari manik-manik kecil dengan paduan warna yang serasi. Membuatnya langsung tertarik.


"Kamu mau ini?" tanya Salin tak percaya.


Nantha mengangguk-anggukkan kepalanya cepat.


"Ini udah lama banget. Saya buat yang baru saja ya buat kamu?"


"Beneran, kak?" Mata Nantha berbinar terang.


"Iya," sahut Salin gemas dengan tingkah Nantha. Ia jadi teringat Stephania adiknya. Sepertinya Stephania dan Nantha umurnya sama. Mungkin hanya beda di bulan saja.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat interaksi mereka. Ia tersenyum senang melihat Salin dekat dengan Nantha, adik sepupunya. Ia juga meneliti anggota tubuh Salin yang dapat dijangkau dengan mata. Ada bekas luka, memar dan tanda biru disana. Ia yakin, suami Salin berbuat kasar lagi padanya.


Rasanya ia tak tahan lagi melihat itu semua. Sampai kapan Salin harus diam, membiarkan suaminya berbuat kasar padanya. Bukan hanya menyiksa raganya, tapi juga hati dan jiwanya.


"Aku akan membantu mu. Kuharap kamu mau menerima bantuan ku," gumam lelaki itu.


Lelaki itu tak lain tak bukan adalah Alister Galeh Pratama. Ya, ternyata sedari tadi ia membuntuti Salin. Ia tak mau Salin harus dipermalukan lagi di depan umum oleh suaminya sendiri. Ia juga yang meminta Fradina untuk menyuruh Salin berhenti menjual parfum, tak bekerja lagi di tokonya.


Diam diam selama ini Alister menjaga Salin dari jauh. Entah kenapa ia peduli sekali terhadap Salin.


"Kalau begitu aku pulang duluan ya. Udah sore. Nanti suami saya nyariin," ucap Salin mohon ijin undur diri dari sana. Ia sudah tak se formal tadi bicara dengan Nantha.


"Kakak sudah menikah?"


"Hm, iya. Sudah," jawab Salin singkat. ia tersenyum dengan terpaksa. Tapi hanya dia yang tau kalau senyum itu adalah senyum paksaan untuk menutupi luka dalam batinnya.


Baik Alister yang dari kejauhan tak bisa membaca ekspresi Salin, begitupun Nantha.


Mereka pun berpisah. Meski Nantha kecewa karena pertemuan mereka sangat lah singkat, tapi ia tak mau egois. Ia tau, wanita yang sudah bukan lajang lagi tak layak keluyuran terlalu lama.


"Siapa wanita itu?" tanya Alister tiba-tiba mengagetkan Nantha yang sedang menatap punggung Salin yang semakin menghilang.


Alister berpura-pura tak mengenal wanita yang baru saja bersama dengan adik sepupunya itu.


"Eh, kak Lister. Sejak kapan kakak disini?"


"Udah lama," sahutnya.


"Siapa wanita itu?" tanyanya mengulangi.


"Oh, dia kak Salin, kak," sahut Nantha. Ia bisa melihat ada senyum mencurigakan yang ditonjolkan Lister. Ia juga turut menatap punggung Salin yang nyaris tak terlihat lagi, tertelan oleh lalu lalang orang-orang yang ada di pasar itu.


Dengan polosnya, ia menceritakan pertemuannya dengan Salin kepada Alister. Padahal Alister sudah tau semuanya. Bertindak saja dia seolah - olah tidak kenal.


"Kakak kenapa senyum-senyum? Suka ya," goda Nantha. Siapa pun tau dan bisa melihat kalau Alister menatap Salin dengan sesuatu.


"Ng-nggak.... Siapa yang senyum? Lagian memangnya senyum itu dilarang?"


"Ya nggak sih, tapi aneh saja. Senyum sama orangnya padahal sudah jauh. Kenapa nggak dari tadi nongolnya?"