
"Wajar papa bilang?" protes Salin tidak terima.
"Hal yang wajar bagi papa kalau seorang suami menyiksa istrinya?" hardik Salin lagi.
"Oh, Lin tau. Papa kan sebelas dua belas dengan Setu Sandoro makanya papa bilang wajar. Yang tega menyiksa istrinya, melukai istrinya di depan anak-anaknya, tak pernah menganggap istrinya ada. Salin heran, kenapa istri papa itu masih bertahan dengan sikap anda yang arogan seperti ini?"
Plak
Plak
Tanpa aba-aba, dua tamparan keras mendarat sudah di pipi Salin baru saja. Dari mana lagi tamparan itu kalau bukan dari papa Sande. Dengan sekuat tenaga bahkan ia memberi tamparan itu.
Darah mengalir dari sudut bibir Salin.
"Lagi, pa! Tampar lagi Salin agar papa puas! Lagi pa, jangan berhenti! Ayo, tampar! Tampar!"
Seperti tidak merasa bersalah, seperti kerasukan setan, papa Sande kembali melayangkan tamparan kerasnya ke wajah putri sulungnya itu. Terpancing ja dengan ucapan Salin. Seolah ia tak puas menampar darah dagingnya itu dengan tangannya sendiri.
Plak
Plak
Kini, jedai yang bertengger sempurna di rambut Salin bahkan terhempas ke tanah saking kuatnya tamparan sang papa. Rambut Salin kini sudah tergerai, menutupi pipinya yang merah karena tamparan itu.
Darah segar semakin mengalir deras dari kedua sudut bibir Salin.
"Keterlaluan anda!" hardik Alister. Alister telah mengangkat tangannya, hendak membalas tamparan itu. Tetapi salin mencegahnya.
"Jangan, Ter. Aku mohon," ucap Salin sambil meringis menahan perih di bibirnya.
"Tapi Lin ini sudah keterlaluan. Ini namanya penganiayaan."
"Aku nggak apa-apa," sahut Salin dengan lirih.
"Sande Devaro Xavier!" pekik seseorang dari kejauhan. Bahkan ia memanggil nama lengkap appa Sande selengkap-lengkapnya.
Ya, dia adalah seorang wanita. Wanita paruh baya dengan gadis yang ada di sampingnya, memegang lengannya dengan erat. Mereka berdua semakin lama mendekat kepada Salin dan yang lain.
"Berani sekali lagi kamu memukul putri saya, langkahi dulu mayat saya!" ancam wanita itu.
"Lin, kamu nggak apa-apa, sayang?" tanyanya lembut pada Salin.
"Mama..."
Luruh sudah air mata Salin yang sedari tadi sudah menganak sungai. Ia terisak-isak di dalam pelukan ibunya itu. Ibu yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Ibu yang sudah membesarkan dan mendidiknya. Mendukung penuh segala cita-cita nya.
Pelukan yang sudah lama ia rindukan. Belaian yang sudah lama ia nantikan.
"Mama, maafin Salin," ucapnya disela isakan nya.
"Sudah, sayang. Kamu tidak salah. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Mama yang salah. Mama yang sudah turut mendukung pernikahan kamu, nak. Mama yang patut dihukum di sini. Mama yang patut ditampar di sini," ucap mama Sefarina. Ia pun menangis sesenggukan.
Mama Sefarina mengurai pelukannya.
"Tampar, tampar saya Sande Devaro! Jangan putri saya. Seorang ibu tidak akan pernah rela jika anaknya atau putri diperlakukan dengan kasar oleh orang lain. Sekalipun itu ayah kandungnya sendiri."
"Tampar saya!" pekik mama Sefarina.
Riwayat penyakit jantung yang diderita oleh mama Sefarina membuat Stephania waspada. Ia takut terjadi apa-apa dengan sang mama. Wanita yang selama ini selalu menjadi kekuatannya. Tempat ia berkeluh kesah disaat papanya berbuat kasar padanya.
"Mama...." lirih Salin. "Jangan, ma. Lin nggak apa-apa kok. Lin baik-baik saja," ucap Salin. Ia mencegah sang mama agar tidak terkena tamparan dari papa Sande.
"Nggak apa-apa, Lin biar papa kamu puas. Mama rela, asal bukan kamu yang ditampar."
"Susah payah aku melahirkan anak-anakku dulu tetapi dengan seenaknya kamu menamparnya? Haha? Papa macam apa kamu? Masih pantas kamu disebut papa?" hardik mama Sefarina pada suaminya.
"Seseorang yang pantas dipanggil papa adalah ia yang mampu menjaga putrinya. Mampu melindungi putrinya dari orang-orang yang berniat menyiksanya. Ini apa? Bahkan papanya sendiri dengan tega menyiksa putrinya sendiri hanya demi lelaki kurang ajar seperti Setu Sandoro."
"Seorang ayah, adalah cinta pertama bagi putrinya. Bukan seorang ayah yang tega menyakiti putrinya secara jiwa dan batin. Bukan pula seorang ayah yang tega menyakiti putrinya secara raganya. Kalau tidak bisa mencintai putri dan putranya baik hati, jiwa dan raga, maka status sebagai ayah tak pantas ia sandang."
Dengan geram, papa Sande mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya ia keraskan. Bukannya tersentil dengan ungkapan mama Sefarina barusan, tetapi ia malah merasa dihina. Diinjak-injak harga dirinya di depan umum.
"Aaargh, anak dan ibu sama saja. Sama-sama pembangkang. Sama-sama tidak menghargai papa dan suaminya. Kurang ajar! Berkumpul, menyatukan kalian semua. Tidak usah pedulikan saya. Pergi kalian!" hardik Lala Sande. Ia bahkan mengeraskan rahangnya.
"Kenapa harus kami yang pergi? Anda sadar ini dimana?" celetuk Alister mengejek papa sande.
Mendapat cibiran seperti itu dari Alister, papa Sande merasa dipermalukan. Ia pun segera pergi, meninggalkan anak dan istrinya.
"Lin, kamu nggak apa-apa, sayang? Kamu baik-baik saja? Mana lagi yang luka, nak?"
Salin menggeleng lemah.
"Lin nggak apa-apa ma. Mama gimana? Sudah baikan? Maaf ya, ma Lin belum bisa jenguk mama karena ..."
Salin mengabaikan rasa sakitnya daripada kondisi sang mama. Ia ingin tau bagaimana kondisi mamanya. Merasa bersalah ia karena belum ada waktu menjenguk sang mama.
Sebenarnya bukan tak ada waktu, tapi belum siap ia melihat sang mama terluka saat tau mengenai perceraiannya dengan Setu.
"Maafin Lin ya, ma." Ia menghambur ke pelukan sang mama. Kembali air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Ssssst. Nggak apa-apa, sayang. Kamu jangan mikirin itu. Mama khawatir banget sama kamu, sayang. Ayo, kita obati luka kamu. Jangan dibiarkan, nanti semakin parah."
"Iya, kak. Benar kata mama," sahut Stephania menimpali.
"Nggak apa-apa kok, ma..Lin juga mau kerja. Takut Lena marah dengan bos. Lin kan masih pegawai baru disana. Jadi, nanti di jalan sja Lin obati. Ayo jalan, Ter," ajaknya pada Alister sok kuat.
Padahal sebenarnya ia merasa sangat sakit, perih karena tamparan sang papa.
"Iya, Lin. Benar kata tante. Kita obati dulu luka kamu. Nggak usah kerja hari ini," timpal Alister. Ia malah berpihak kepada mama Sefarina dan Stephania.
"Tapi, Ter aku harus ke kantor. Bagaimana kalau bos marah. Nanti aku dipecat lagi gimana? Kamu kira gampang cari pekerjaan? Kamu sih enak, anak orang kaya nggak usah kerja juga pasti makan," tukas Salin.
"Bos kamu tidak akan marah sama kamu. Tenang saja. Dia pasti mengerti kok."
"Dari mana kamu tau? Kenapa kamu bisa se yakin ini kalau bos aku tidak akan marah?"
"Ya karena......"
"Karena apa?" hardik Salin kesal. Tidak ada yang memihaknya untuk berangkat kerja pagi ini.
"Karena aku bosnya, Lin," ucap Alister. Tetapi sayang, itu hanya ia ungkap di dalam hati saja.