Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar



Suasana di dalam kamar berwarna hijau itu hening. Tak ada yang bersuara. Hanya isakan tangis yang terdengar di telinga.


"Coba ceritakan sama ku, Sa ada apa. Kenapa kamu menangis?"


Mira mencoba bertanya kembali kepadaku dengan dengan sabar. Aku adalah teman Mira satu kamar selama beberapa tahun terakhir ini. Dan aku juga tak mau pisah kamar dengannya. Dia pun begitu.


Ia merasa mungkin aku sudah lebih baik dan jauh lebih tenang.


"Mir, aku...."


Aku mulai bersuara. Tapi masih ada isak tangis dalam suaraku. Kejadian itu masih membayang jelas diingatanku.


"Aku.... aku...."


Aku belum bisa mengatakannya semuanya dengan lancar. Mulutku kaku. Suaraku bergetar bersama dengan bibirku yang bergetar hebat. Tubuhku juga bergetar karena masih ketakutan.


"Kenapa, Sa? Cerita lah. Aku akan mendengarkan ceritamu. Kita kan teman," ucap Mira meyakinkan diriku.


Mira bahkan menggenggam jemariku yang bergetar.


"Nggak usah takut. Aku akan ada untuk mu, Sa," ucap Mira lagi menenangkan aku.


"Cerita sama aku. Jangan kamu pendam."


"Aku.... aku hampir saja diper**sa, Mir, " jawabku kemudian. Masih ada rasa gugup yang melanda.


"Siapa pelakunya, Sa? Siapa?" tanya Mira sarkas. Aku merasakan ia sudah berdiri.


"Siapa, sa? Siapa orangnya?" tanyanya lagi. Suaranya sudah meninggi sekarang.


"Brother Daniel, Mir."


"Apa? Brother Daniel yang suka ceramah itu? Nggak mungkin, Sa. Dia itu baik. Masa dia sampai kayak gitu sih?"


Ya, siapa yang akan menduga kalau orang yang baik seperti itu melakukan hal keji kepada anak dengan disabilitas. Siapa pun tidak akan percaya dengan hal itu.


Aku mencoba menjelaskan semuanya kepada Mira. ku ceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Tidak ada yang aku tutup-tutupi walau sedikit pun. Tidak melebihkan dan tidak mengurangi.


"Gila. Kurang asem banget tuh orang. Sok baik padahal munafik."


Mira mengeluarkan segala umpatan dan hinaan untuk lelaki yang hampir saja merampas kehormatan seorang gadis, teman dekatnya selama ini. Sebagai seorang perempuan ia marah. Ia harus mendukung Salin.


"Sekarang begini saja. Kamu telpon mama kamu, ceritakan semuanya. Pasti tante akan memberikan solusi untuk ini. Karena menurutku ini bukan masalah sepele, Sa. Ini sudah melanggar norma. Perbuatan yang tidak terpuji yang layak dimusnahkan."


"Kalau aku si posisi kamu, aku akan mengadukan semuanya kepada pimpinan yayasan. Agar mengeluarkan ia dari sini. Jangan lagi ia berkeliaran di sekeliling kita. Karena bila sudah ada yang pertama maka akan ada yang kedua."


Benar apa kata Mira. Aku manggut-manggut dengan semua yang Mira ucapkan.


Kemudian, aku meraih ponselku yang memang aku tinggalkan tadi di kamar. Ku letakkan di bawah bantal ku. Aku pun menelpon mama Sefarina. Aku ceritakan semuanya.


"Kamu tenang dulu, sayang. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan."


Begitu kata mama, menenangkan diriku. Suaranya yang lembut dan perhatiannya yang begitu dalam membuat aku merasa jauh lebih baik. Jauh lebih tenang. Ketakutan yang tadi melanda kini telah memudar.


Aku pun menceritakan semua kepada mama. Dan mama mendengarkannya dengan baik. Sampai aku mengakhiri cerita ku.


Lalu, mama menyarankan agar aku mengadukan semuanya ini kepada pimpinan yayasan. Awalnya aku ragu, karena belum tentu pimpinan itu percaya padaku.


Tapi karena mama yang menyuruh, tidak boleh menyerah sebelum mencoba. Akhirnya ku putuskan untuk menceritakan semuanya kepada pimpinan yayasan.


Sore itu juga, tepatnya pukul tujuh belas tepat, aku menemui pimpinan tersebut di rumahnya. Aku menceritakan kejadian yang aku alami.


Ternyata Ari mataku masih mengalir jua. Bayangan menakutkan itu masih mengental dalam ingatanku.


Aku merasakan ibu tersebut, istri dari bapak pimpinan memelukku dengan erat. Mengusap air mataku yang mau berhenti untuk berderai.


Dengan jelas aku mendengar, bapak pimpinan itu mengumpat. Marah atas kejadian itu. Lalu, aku melihat ia melangkah. Entah mau ke mana. Kuikuti terus langkah kaki bapak itu. Ternyata tidak jauh dariku.


"Mulai besok, kamu tidak usah lagi datang ke sekolah untuk mengajar les sore. Kamu, saya pecat."


Itu yang kudengar dari suara teganya bapak pimpinan itu. Dapat aku menyimpulkan bahwa bapak itu menghubungi brother Daniel. Aku yakin karena aku mendengar suara telpon yang sudah terputus.


Tanpa basa basi, bapak pimpinan langsung memecat brother Daniel. Tanpa ia memberitau apa alasan pemecatan. Ia yakin brother Daniel sudah tau alasannya itu.


"Kamu tenang saja ya. Mulai besok, dia tidak akan datang lagi. Kamu tidak akan pernah berjumpa lagi dengan dia. Trimakasih, nak kamu sudah berani jujur kepada bapak," ucap bapak pimpinan kemudian.


Aku merasa lega. Sangat lega. Ternyata pengaduanku di dengarkan. Aku senang. Aku yakin korban berikutnya tidak akan ada lagi. Karena pelakunya telah dipaksa untuk keluar dari sana.


Bagiku, tidak harus sampai ke kantor polisi. Entah kenapa aku merasa iba kalau sampai ia di penjara. Tapi aku juga merasa lega karena aku dibela, didengarkan keluh kesah ku. Artinya ada orang yang peduli padaku dan menyayangiku.


Flashback off


"Begitulah ceritanya, Ter," ucap Salin setelah ia mengakhiri ceritanya.


Ternyata, walau masa itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu tapi masih membekas di hati Salin. Air matanya masih jatuh juga saat menceritakan ini.


Spontan, Alister memeluk Salin dengan erat. Perjalanan hidup yang dialami Salin ternyata se-tragis itu. Ia bersyukur bisa mengenal perempuan se tegar dan se kuat Salin. Mandiri lagi, meski ja memiliki kekurangan.


Alister jadi merasa tersindir. Ia yang normal saja belum tentu bisa seperti itu. Apalagi Salin, dengan keterangan penglihatan yang ia miliki, ia mampu menjalaninya sampai di titik ini.