Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 71. Bertemu Mantan



Tiba-tiba, Salin merasakan dekapan tangan seseorang dari belakang tubuhnya. Memeluk begitu lembut.


"Apa kabar, sayang?" bisiknya tepat di telinga wanita itu.


Sontak Salin merinding, panik, terkejut bercampur menjadi satu. Ia ingin marah sekali kepada orang yang ia anggap itu Alister. Berani sekali dia bertindak seperti itu kepada Salin. Sementara mereka tidak ada hubungan apa-apa.


Salin berusaha berontak dari dekapan lengan kekar itu. Tapi sayang, ia tidak berhasil.


"Ter, lepasin nggak!" hardiknya. "Kamu apa-apaan sih? Hah? Nggak sopan banget jadi laki-laki. Kamu pikir saya perempuan gampangan?" masih hardik Salin dengan nada marah.


Orang yang mendekap Salin bukannya melepas pelukannya, malah semakin mengeratkan dekapannya.


Salin masih berusaha sekuat tenaga agar terlepas dari dekapan orang itu.


Ting


Seketika muncul ide dalam benaknya. Dengan kuat, ia menendang tulang kering orang yang memeluknya. Spontan, orang itu melepaskan dekapannya. Dan Salin juga langsung berbalik, ingin memastikan siapa yang sudah memeluknya dengan lancang. Apakah Alister sesuai dengan dugaannya.


"Kamu?" hardik Salin penuh emosi. Wajahnya sudah memerah padam. Tandanya ia sudah marah. Sangat marah bahkan.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Salin lagi dengan nada marah.


"Keluar!" pekiknya. "Kalau tidak, saya yang akan keluar."


Salin hendak bergerak dari sana, tetapi dengan cepat orang yang memeluknya tadi mencengkram kuat pergelangan tangannya. Seolah tak mau ia lepas Salin darinya.


"Anda mengerti bahasa saya kan? Kalau tidak saya panggil security nih!" ancam Salin.


"Silakan saja!" ucap lelaki itu santai. "Sampai menangis darah pun kamu, tidak akan ada yang akan menolong mu. Karena aku sudah membooking tempat ini. Semua petugas di sini di bawah tekanan ku," terang Setu.


Ya, lelaki yang telah lancang memeluk Salin itu adalah Setu Sandoro, mantan suaminya sendiri. Ternyata benar, ia menerima tawaran kerja sama dengan Rebecca.


Dan Rebecca lah yang mengatur pertemuan Setu dan Salin kali ini. Dengan apik ia menyusun rencananya. Tak mau ia Salin berduaan dengan Alister, orang yang ia masih sayangi.


Selain karena dapat uang yang banyak, Setu juga menyesal telah menyia-nyiakan Salin dulu. Ia menyesal telah menandatangani surat perceraian yang diajukan Salin kala itu.


Sehari setelah perceraiannya dengan Salin, Setu tau kalau Weni tengah hamil. Tetapi beberapa hari kemudian, Setu sadar kalau itu bukanlah benihnya. Ia juga tau bahwa Weni bermain serong di belakangnya.


Oleh karena itu, segera Setu menemui Weni. Memutus hubungan diantara mereka. Bahkan Setu menggagalkan rencana pernikahan mereka yang tinggal menunggu beberapa hari lagi.


Penyesalan yang begitu dalam tak dapat Setu ungkapkan. Begitu pun dengan ibu Sirlina. Ia menyesal, telah menyia-nyiakan menantu sebaik dan sehormat Salin terhadap orang tua. Terutama kepada ibu Sirlina selaku mertuanya yang selama ini tinggal bersamanya.


"Apa mau anda?" tanya Salin ketus. Langsung pada intinya. Ia sudah dewasa. Sudah bukan saatnya menghindar dari yang namanya orang seperti Setu Sandoro.


"Aku mau rujuk," jawab Setu dengan pasti. Ia mengatakan itu dengan mudah. Tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu.


Bukankah seharusnya malu? Selama ini kan dia yang sudah menelantarkan Salin?


"Omong kosong!" cibir Salin.


"Minggir! Saya mau pergi."


Saat Salin mengangkat kaki kanannya hendak melangkah, seorang petugas masuk ke ruangan itu. Menghampiri mereka dengan nampan di tangannya.


"Minumnya tuan," ucapnya dengan sopan. Ia pun menawarkannya kepada Salin.


Salin pun meraih gelas itu dengan marah. Ia jengkel bertemu Setu lagi. Dalam hidupnya saat ini, Setu lah orang yang harus ia hindari dan memang begitu adanya. Baginya, hubungannya dengan Setu sudah berakhir 100 persen setelah mereka bercerai.


Salin merasa sangat marah saat ini. Sehingga tenggorokan tercekat, bahkan mengering. Dengan cepat ia meneguk minuman yang disodorkan petugas tadi hingga tandas, tak bersisa.


"Permisi, tuan," pamit petugas. Meninggalkan mereka berdua yang sepertinya sedang berdebat. Terlihat dari raut wajah si wanita yang berbeda kontras dengan raut wajah Setu.


"Lihatlah, kamu bahkan sangat menikmati minuman itu. Haus kan kamu karena marah-marah? Jangan marah, ntar cantiknya hilang," ucap Setu, menggoda Salin.


Berharap godaannya itu meluluhkan hati Salin. Godaan yang dulu sering ia lontarkan kepada Salin saat mereka masih berstatus pasangan kekasih, belum menikah.


"Saya tidak butuh pujian anda," sarkas Salin.


Salin merasa Setu kini lengah, sehingga ia menggunakan kesempatan yang setipis mungkin ini untuk berusaha kabur dari lelaki yang memang ia hindari. Tak ingin lagi ia berhubungan dengan lelaki itu.


"Aku mohon, Lin. Kembalilah kepadaku," ucap Setu. Ia bahkan bersujud di hadapan Salin.


"Cih." Salin malah berdecih. Sudah keburu ilfeel ia dengan pria ini.


"Aku minta maaf, Lin. Aku menyesal telah menyakiti mu bertubi-tubi. Aku sudah melukai mu terlalu dalam. Aku mohon, Lin. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu," ucap Setu lagi.


Kini tatapannya bercahaya. Matanya basah. Ia sudah serius sekarang. Mengungkap kan penyesalan yang ha rasakan saat ini. Berharap dengan kejujurannya Salin mau berbalik padanya.


"Setelah perceraian kita, Lin," ucapnya lagi. Memanggil nama panggilan Salin dulu yang biasa ia sebut kala mereka masih pacaran.


"Aku nggak bisa maafin diri aku sendiri karena telah melepaskan wanita se sempurna kamu. Aku mempertahankan kerikil Weni yang tidak ada artinya sama sekali dalam hidup ku. Bahkan Lin, belum jadi menantu ibu, tetapi ia sudah berbuat kasar pada ibu."


Setu, dengan tidak tau malunya mengadu pada Salin. Mengadukan tingkah Weni yang telah kasar kepada ibunya dan bahkan menghina ibunya.


"Maaf. Tetapi bagi saya, masa lalu sudah saya buang jauh-jauh. Jadi anda, jangan pernah berharap kepada saya. Karena saya sudah menghapus anda dari memori saya."


"Katakan kalau kamu tidak mencintai aku, Lin. Katakan dengan lantang dan keras supaya aku bisa melepas mu. Aku nggak akan mengganggu kamu lagi setelah kamu jujur bahwa kamu sudah tak cinta aku lagi." Setu masih memohon.


Dalam hati ia sangat yakin sekali bahwa Salin belum bisa move on darinya. Karena Setu adalah cinta pertama dan pacar pertama buat Salin. Setu yakin, yang namanya cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.


"Memang saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap anda."


"Sejak kapan?"


"Sejak anda...."


Belum usai Salin menyelesaikan kata-katanya, ia sudah lemas. Bahkan nyaris jatuh. Untung saja Setu menahan tubuhnya. Hingga tak jadi Salin jatuh ke lantai dingin itu.


"Selamat datang sayang. Akhirnya aku ada waktu berdua denganmu," ucap Setu. Ia tersenyum puas. sudah berhasil ia dengan rencananya.


"Selama ini, lelaki brengsek itu selalu nempel denganmu. Aku yakin dia bukan lelaki yang baik. Pasti dia mengambil keuntungan dari mu," gumam Setu. Ia menatap leher jenjang Salin yang saat ini ada dalam kungkungannya.