Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit



"Tidak, kakak nggak boleh ninggalin Nantha. Bangun, kak! Bangun!"


"Jangan tinggalkan Nantha, kak. Nantha sayang sama kakak. Nantha cinta sama kakak. Bangun, kak!"


Jeritan pilu Nantha terdengar mengalun sendu di dalam ruangan itu. Ruangan yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.


Di tengah-tengah kerumunan, tampak sosok lelaki dengan tubuh terbujur kaku dan pucat. Terlihat sangat tenang, bahkan senyum tipis tersungging di bibirnya.


Kerumunan orang itu menundukkan kepalanya, meneteskan air mata, turut merasakan apa yang dirasakan oleh Nantha saat ini. Tak terkecuali Salina, Stephania dan mama Sefarina.


Lalu bagaimana dengan papa Sande?


Papa Sande sekarang sedang berbaring di rumah sakit, terjatuh kala itu mendengar kabar mengenai Ardan. Hingga sampai ia dirawat sekarang di rumah sakit karena stroke.


Salina memeluk Nantha dengan erat. Terlalu berat rasanya melepaskan kepergian kakaknya yang tiba-tiba. Tanpa ada pesan atau obrolan singkat sebelum kepergiannya.


"Kakak janji akan ketemu dengan Nantha, kak. Kakak bahkan minta aku pakai baju warna kesukaan kakak. Semua udah kulakukan, kak. Bahkan aku rela begadang demi nungguin kak."


"Tapi apa yang kudapat.. "


Meraung-raung, menjerit pilu Nantha di dalam ruangan itu. Tak terungkapkan rasanya sakit yang ia rasakan.


Cinta yang belum dimulai, tetapi berakhir dengan tragis. Mereka berjanji akan saling jujur dengan perasaan mereka, tetapi dengan teganya, kematian yang memisahkan. Perpisahan yang tidak bisa dielakkan.


"Bagaimana aku, kak. Hanya kakak seorang yang mengajarkan aku cinta. Terus, aku gimana, kak? Gimana aku menghadapi semuanya? Bahkan aku belum memulai loh, kak. Tapi, dengan teganya kakak sudah meninggalkan aku."


"Tega kamu, kak. Tega. Bangun, kak! Bangun!"


Nantha bahkan sampai memukul-mukul jenazah itu dengan histerisnya. Tek keduaku lagi ia dengan keadaannya yang sudah hancur berantakan sekarang. Penampilan yang sudah acak-acakan, tak seperti biasanya.


"Sabar ya, dek," ucap Salin. Ia menangis sesenggukan. Tak sanggup ia berkata-kata.


Begitu pun dengan mama Sefarina. Hanya air mata yang bisa berucap sekarang, sembari netra itu menatap tubuh Ardan yang sudah terbujur kaku, tak bernapas.


Sedang Stephania, sedari tadi tak beranjak dari samping sang kakak. Ia juga menangis sesenggukan. Sesak di dadanya sekarang. Hanya bisa memeluk tubuh dingin dan pucat itu.


Lelaki yang selama ini membelanya, melindunginya, pergi tanpa pesan. Tanpa aba-aba, tanpa konfirmasi.


Tak kuasa melihat cucunya menangis histeris, bagai orang yang hilang harapan untuk hidup, Oma dan opa pun mendekati Nantha. Juga papa Aaron. Ia sungguh iba dengan putri semata wayangnya itu.


"Sudah, sayang," kata Oma. Ia memegang pundak Nantha, mengajaknya berdiri. Sikap Nantha yang seperti ini akan memperlambat proses pemakaman.


Opa dan papa Aaron juga turut mendukung Oma. Kini mereka bertiga memeluk Nantha penuh sayang. Membuka diri agar Nantha bisa membagi dukanya bersama mereka.


Di tengah-tengah keramaian itu, Dian, pelayan yang biasa bekerja di rumah mama Sefarina, berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan.


Tadinya ia ingin meneriakkan kepada mama Sefarina, memberitahu nasib papa Sande. Tapi, melihat tubuh yang terbujur kaku itu, ia pun ruang.


"Sungguh malang keluarga ini," batinnya. Menatap pilu keluarga Salin dan gadis yang menangis meraung, atas kepergian orang yang mereka cintai.


"Maaf, nyonya.." ucapnya berbisik. Ia mendekati mama Sefarina yang tertunduk menangis. Memandang tubuh kaki Ardan.


Dian tak meneruskan kalimatnya. Ingin ia melihat reaksi dari mama Sefarina.


Mendengar suaminya disebut si pelayan, mama Sefarina mengangkat wajahnya. Menatap Dian penuh tanya.


"Tuan besar masuk rumah sakit."


"Apa?"


Tanpa ia sadari, ia mengeraskan suaranya. Mendengar berita sang suami saat ini sedang dirawat di rumah sakit.


Sontak, Salin dan Stephania terperanjat mendengar suara sang mama.


"Iya, nyonya. Tuan jatuh saat mendengar kabar tuan muda Ardan mengalami kecelakaan," ucap Dia memberi keterangan.


Ya, buru-buru, mama Sefarina, Salin dan Stephania ke kediaman mereka saat mendengar kabar Ardan ada dalam pesawat yang jatuh itu.


Setelah mereka sampai, sudah banyak kerumunan orang disana. Menyambut datangnya mobil ambulans yang membawa jenazah Ardan yang telah ditemukan tewas bersama penumpang lainnya.


Mereka sendiri tidak tau jika Ardan pergi menuju Kalimantan, entah untuk apa. Perjalanan yang bagaimana, mereka tidak tau.


Alister lah yang memberi tahukan semuanya. Karena ternyata, perusahaan cabang yang ada di Kalimantan, adalah salah satu perusahaan yang turut bekerja sama dengan perusahaan keluarga Alister. Mereka juga mengutus beberapa klien dan investor mereka untuk menghadiri beberapa pertemuan.


Dan ternyata, ada juga yang satu pesawat dengan Ardan. Dan mereka juga tidak selamat. Seluruh penumpang yang ada dalam pesawat itu, tidak ada yang selamat.


"Papa masuk rumah sakit?" tanya Salin. Ia juga memekik. Beberapa yang ada di sana teralihkan fokusnya mendengar suara itu. Begitu pun Alister.


Alister langsung menatap Salin dari kejauhan. Terlihat wanita itu berdiri mematung, tubuh gemetar dan nyaris terjatuh. Bergegas Alister menangkap tubuh wanita itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Alister.


"Ter, papa.... Papa, Ter. Papa masuk rumah sakit," lirih Salin. Air matanya pun kini kembali mengalir deras.


"Tenangkan dulu diri kamu, ya. Kita pikirkan satu-satu. Yang pertama yang harus kita lakukan adalah memakamkan jenazah kak Ardan. Oke. Nanti setelah selesai, kita akan ke rumah sakit," ucap Alister memberi saran.


Salin yang tak tau harus bagaimana, hanya pasrah mendengar solusi dari Alister. Panik, histeris, sedih, kehilangan, saat ini bercampur menjadi satu. Hingga membuat ia blank, tak tau harus melakukan yang mana terlebih dahulu.


Demikian pula Stephania, ia sangat terpukul sekarang. Di satu sisi, kakak yang ia sayangi harus segera dimakamkan, di sisi lain, papanya yang entah bagaimana kondisinya sekarang di rumah sakit.


Sebagai gadis yang memiliki emosi yang pabila, tentu ia kalut sekarang. Tak tau harus berbuat apa. Ia ingin segera berlari ke rumah sakit, melihat sang papa. Walau selama ini mereka sering berdebat, tak pernah sepaham, bahkan tak jarang ia mendapat perlakuan kasar dari sang papa, tapi ia sadar itu papanya.


Karena dialah, ia ada di dunia ini. Apakah ia jahat bila sang papa dirawat ia malah tersenyum? Manusiawi kah bila Salin merasa puas jika sang papa di rawat di rumah sakit?


Lalu bagaimana dengan kakaknya Ardan. Orang yang selama ini selalu ada untuknya, sebagai pengganti sang papa, dengan tega meninggalkan ia sekarang. Tanpa ada sepatah kata pun pesan yang diberikan.


Salahkah ia bila dirinya terpuruk? Salahkah bila ia memilih mengutamakan Ardan sekarang?


Antara Nantha dan Stephania adalah gadis yang masih labil. Usia mereka hampir sama. Mungkin hanya beda bulan saja. Dihadapkan dengan keadaan seperti ini, membuat mereka terpukul, terpuruk dan nyaris putus asa. Tak ingin melanjutkan hidup.