
"Nggak usah, Ter. Aku bisa sendiri," tolak Salin.
"Kita searah, Lin. Jadi ayo," ajak Alister. Sekalipun Salin sudah menolak, tapi ia tetap berusaha untuk mengajak Salin berangkat bersamanya ke kantor.
Ya, saat ini Salin sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan biasa. Lagi lagi, ia dat informasi lowongan itu dulu dari Pradina.
"Dari mana kamu tau kita searah?" tanya Salin ketua.
"Kamu lupa siapa aku, Lin? Bukan kah aku pernah bilang kalau aku selalu memperhatikan kamu, selalu mengikuti kamu kemana pun kamu pergi. Jadi akupun tau kemana kamu pergi, siapa saja teman yang kamu temui. Dan sekarang aku tau kamu dimana bekerja," terang Alister panjang lebar.
"Cih." Salin hanya berdecak kesal.
"Please, biar aku antar ya, Lin," mohon Alister.
"Nggak usah, Ter. Kamu ngeyel banget sih dibilangin?"
"Kamu yang ngeyel banget. Coba kamu pikir, daripada naik taksi, bayarannya? Dari pada sama aku gratis. Bisa lihat cowok tampan lagi sepuas-puasnya," ujar Alister dengan pede nya.
"Idih, sok tampan. Kepedean kamu."
"Harus pede, dong. Emang cuma kartu perdana simp*ti aja yang pede. Aku juga bisa kali."
Akhirnya Salin pun terlarut dalam guyonan Alister.
Sampai ia tak sadar saat Alister menggenggam tangannya, mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
"Salin...."
Terdengar suara bass yang sangat menggelegar.
Reflek, Salin dan Alister menoleh kearah sumber suara. Keduanya masih berpegangan tangan. Orang yang bersuara menggelegar itupun semakin mendekat. Dan... dia sendirian.
"Papa," gumam Salin.
"Darimana papa tau aku di sini," batin Salin dalam hati.
Sejauh ini, yang tau ia tinggal dimana masih hanya Ardan sebagai kakaknya. Salin merasa Ardan lah yang sudah memberitahu dimana ia tinggal. Dan salin kecewa atas Ardan. Padahal ia sudah berjanji, kalau semua sudah membaik ia yang akan menemui orang tua mereka. Tapi ini, belum juga siap hati Salin tetapi sang papa telah mendatangi dirinya dengan membawa kemarahan.
"Oooo, jadi ini alasan kamu berpisah dari menantuku Setu?" hardik papa Sande.
"Papa... dari mana papa tau Lin tinggal disini?":
"Kamu lupa papa siapa? Hah?"
Salin tersadar. Papanya adalah pebisnis handal semasa ia muda. Sudah pasti ia punya banyak link. Bahkan orang di perusahaan SANDAR Group pun hingga saat ini masih dibawah kekuasaannya. Ardan saja sebagai anak hanya menggantikan dia meneruskan jabatannya sebagai CEO.
"Sudah ingat?" ejek papa Sande.
"I-iya, pa."
"Masih ingat pesan papa sewaktu kamu menikah dengan menantuku?"
Salin menunduk. Segala petuah papa dan mamanya berseliweran di kepalanya saat ini. Berputar-putar bak roller coaster.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu masih punya nyali untuk menceraikan menantu papa? Papa sudah bilang berulang kali, tidak ada yang namanya perceraian di dalam keluarga kita. Berapa kali papa harus ingatkan, yang namanya perempuan harus nurut apa kata suami. Tidak boleh melawan, tidak boleh meninggikan suaranya terhadap suaminya. Apapun yang dilakukan suami, harus terima. Harus lakukan. Tidak ada bantahan. Karena apa? Dia itu imam mu. Dia surgamu. Kamu harus bertekuk lutut kepadanya."
"Lin tau, pa. Lin ingat semua yang papa titahkan. Tapi Lin...."
"Apa? Hah?"
Papa Sande langsung menyelanya.
"Kamu sudah bosan dengan menantuku lalu kamu selingkuh dengan dia?" tukas papa Sande. Ia menunjuk Alister dengan jari telunjuknya.
"Laki-laki macam apa, yang mendekati perempuan yang sudah bersuami!" tukas papa Sande lagu. Menatap penuh kebencian kepada Alister.
"Jaga ucapan anda," sela Alister. Tak terima ia Salin dituduh yang bukan-bukan oleh papanya sendiri.
"Salin adalah wanita baik-baik. Dia tidak mungkin menceraikan suaminya kalau bukan tanpa ada sebab. Asal anda tau, selama ini Salin ters...."
Salin langsung menutup mulut Alister. Sembari ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berharap Alister tak menceritakan aib keluarganya yang nantinya akan diketahui oleh orang-orang, terutama tetangga.
"Ter, tolong jangan diteruskan," mohon Salin.
"Tapi, Lin tuan ini harus tau. Bagaimana menantunya memperlakukan putrinya selama ini. Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja, Lin. Aku harus membuka mata tuan ini dan akan membuka pikirannya yang terlalu kuno itu, " sahut Alister.
Salin menggeleng, memohon dengan iba. Tak kuasa Alister menatap pemandangan itu.
"Lihat, papa lihat sendiri, bahkan kamu membela lelaki ini! Lelaki yang tidak jelas asal-usulnya. Lelaki yang tidak punya harga diri. Mendekati perempuan yang sudah menikah. Cih."
"Papa!" bentak Salin. Tak mau ia papanya menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dengan keluarga kecilnya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia, Pa. Salin yang memang ingin menggugat cerai karena .."
"Karena apa? Karena lelaki ini kan?" tuduh Lala Sande. Lagi lagi ia menyela, padahal Salin belum selesai dengan ucapannya.
"Karena Salin sudah diperlakukan dengan tidak adil oleh suaminya. Karena Salin telah dianiaya oleh suaminya sendiri. Karena Salin telah dikhianati oleh suaminya sendiri," sergah Alister pada akhirnya.
Terpaksa ia berucap demikian, berharap papa Sande akan melunak. Mengasihani putri sulungnya yang telah tersiksa di dalam pernikahannya.
Salin pun tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Ia pasrah. Terserah orang mau nilai apa dia sekarang. Hidupnya sudah hancur. Sehancur-hancurnya.
"Maaf, Lin. Aku terpaksa membuka semua supaya papa kamu yang mengagungkan menantunya itu terbuka pikirannya." Alister berusaha bicara baik-baik kepada Salin. Memohon maaf karena ia sudah terlalu jauh ikut campur.
Tetapi tak bisa dipungkiri pula, Alister lah selama ini yang membantu Salin. Alister lah selama ini yang turut campur tangan hingga Salin bebas dari pernikahan yang bagai neraka itu.
Jadi, secara tidak langsung Alister sudah banyak ikut campur. Sudah tau ia semua seluk-beluk rumah tangga Salin.
Bukannya iba papa Sande dengan cerita Alister, tetapi malah tersenyum sinis pada Alister. Tatapan meremehkan, menuduh yang bukan-bukan tentang lelaki itu.
"Wajar suami kamu marah, wajar ia mukul kamu karena kamu selingkuh dengan dia," ucap papa Sande lagi.
"Wajar dia kasar sama kamu, ya mungkin ia sudah muak dengan sikap keras kepala kamu. Tapi kalau masalah selingkuh, nggak mungkin. Dia sudah pernah berjanji pada saya bahwa dia tidak akan selingkuh. Kalau pun ia selingkuh ya itu berarti salah kamu. Mungkin kamu kurang memberi kepuasan padanya," ujar papa Sande dengan enteng.
Ckckck
Alister berdecak kesal. Begitu entengnya ia bicara seperti itu. Mungkin kalau papa Sande bukan orang tua, sudah sedari tadi Alister hajar sampai babak belur. Tetapi Alister masih waras. Tak mungkin ia tidak menghormati orang tua, apalagi itu adalah papanya Salin. Papa dari wanita yang ia cintai.