
"Papa dan mama nggak senang ya aku tinggal bareng kalian?" tambah Stephania lagi. Mendramatisir agar mereka percaya kalau dia sedih dan terluka.
"Eh, bukan begitu, sayang. Kami bukannya nggak senang kita sama-sama tinggal di sini tapi, kita hanya ingin mendukung semua keputusan kamu."
"Iya, nak. Percaya sama papa dan mama. Jujur, papa nggak ikhlas sebenarnya kalau harus jauh dengan kamu. Tapi mengingat itu adalah pintamu maka kami mengikhlaskan hati. Terutama papa. Papa tak mau lagi memaksakan kehendak. Semua keputusan ada di tangan kalian," ucap papa Sande, menimpali ucapan sang istri.
"Bohong," ucap Stephania sedih.
"Papa minta maaf ya, nak. Kalau selama ini papa sudah egois. Papa sudah menyakiti kalian baik raga maupun jiwa. Papa memang papa yang tak berguna. Yang tak bisa memberi kebahagiaan pada anak-anaknya."
"Silakan kamu hukum papa. Tuduh papa sepuas yang kamu mau. Lampiaskan semua amarah yang kamu punya untuk papa. Papa siap kok menanggungnya. Asal kamu bahagia."
Papa Sande kembali lagi menyalahkan dirinya sendiri. Menyesali segala perbuatan yang ia lakukan selama bertahun-tahun.
"Pa, jangan gitu dong. Nia jadi sedih beneran nih kalau papa ngomong gitu. Tadi itu Nia hanya akting kok. Dan berhasil. Papa, mama dan kak Salin kena prank oleh Nia."
"Nia hanya mencoba mempraktekkan pelajaran akting yang Nia terima di sekolah. Dan ternyata berhasil. Tak ada yang menyadari kalau Nia hanya akting. Jadi gimana, pa ma, kak, sudah cocok Nia sebagai pemeran utama yang selalu disakiti?"
"Dasar nakal. Mengerjai orang tua," celetuk Salin. Ia menghapus air matanya yang sudah menetes.
"Kakak nangis?" Stephania melihat sang kakaknya yang sedang mengusap pipinya yang basah.
"Nggak akh. Siapa yang nangis?" ucapnya mengelak.
"Kalau nggak nangis kenapa tuh pipi basah? Dan kenapa mata kakak merah?"
Segera Salin menghapus air matanya. Ia malu karena ketahuan menangis di depan adiknya itu.
Mereka pun berpelukan. Kini kebahagiaan keluarga itu telah kembali. Hubungan yang tercerai-berai akhirnya bersatu kembali. Saling menyayangi, saling memperhatikan dan saling mendukung.
Kini mereka melanjutkan hidupnya dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. Kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga itu biasa. Asal jangan memilih untuk pisah sebagai solusi suatu masalah. Dan jangan pula mencoba lari dari masalah yang ada.
Hidup itu simpel. Cukup dijalani, di nikmati dan di syukuri. Maka akan dengan mudah menjalaninya. Tak usah heboh untuk mengurusi hidup orang lain. Karena belum tentu mereka mau kurus.
****
Malam itu, Salin baru saja tiba di rumah. Tepat pukul tujuh malam dia sudah selesai mandi. Sampai saat ini, belum ada juga tanda-tanda kehidupan di dalam rumah itu selain dirinya.
"Mama dan papa kemana sih? Nia juga. Pulang dari kerja bukannya disambut malah dibiarkan sendirian," batin Salin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tidak terbiasa ia memakai hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia takut kena setrum. Entahlah, dari dulu memang begitu.
Akibat ke protektifan mama Sefarina dan papa Sande terhadap kondisi Salin, mereka selalu membatasi Salin untuk melakukan satu hal yang membahayakan. Khusunya yang berhubungan dengan visual. Seperti bergelut dengan dunia listrik.
Membuat Salin takut dan tak pernah mau mencoba.
Usai ia mengeringkan rambutnya, menyimpan handuk pada tempatnya, ia mendengar ponselnya berbunyi. Ada notifikasi masuk ke ponselnya.
Gegas ia menuju ponselnya yang ia letakkan diatas meja di dalam kamar itu. Sebuah chat yang berasal dari mama Sefarina.
Sebagai pemberitahuan sedikit, di sini Salin mengubah ukuran font ponselnya ke ukuran paling besar. Bahkan ikon-ikonnya juga ia ubah ke ukuran yang paling besar. Memudahkan ia untuk membaca apa yang ada dalam ponselnya tersebut.
Malas ia memakai aplikasi bicara pada ponsel seperti talkback seperti teman-temannya dulu. Pelet dan tak bisa dipakai untuk mengetik saat urgent.
Namun ia tetap belajar menggunakan aplikasi itu. Ia takut kelak tak bisa mengikuti perkembangan teknologi. Jadi ia sudah mempersiapkan diri.
"Mama? Mama lagi dimana sih? Kenapa kirim foto begini?"
Salin memperbesar ukuran foto yang baru saja dikirim oleh mama Sefarina. Ia cubit ponsel pintarnya itu dengan dua jari, jari jempol dan telunjuk.
"Lin, mama butuh bantuanmu. Tolong dagang ke tempat yang sudah mama share. Nggak jauh kok dari rumah kita. Tempat kamu dulu bermain bersama Nia dan Ardan saat kalian masih kecil. Ingat kan, nak?" ucap mama Sefarina dalam voice notenya.
Seketika Salin merasa takut saat ia mendengar nada khawatir dan panik dari suara mama Sefarina.
Salin pun menghubungi nomor mama Sefarina tapi tidak aktif. Membuat Salin semakin bingung, panik, takut dan khawatir. Semuanya melebur menjadi satu.
Salin memutuskan untuk pergi ke sana. Ia memakai sweater nya karena memang udara di luar sangat dingin di tambah lagi ia baru saja keramas. Jadi, dinginnya berlipat ganda. Ia memesan taksi online dari ponselnya.
"Dengan nona Salin?" tanya sopir taksi dengan ramah.
"Iya, pak. Tolong antar saya ke alamat ini!"
"Sesuai titik kan nona?"
Sopir taksi itu pun melihat ponsel Salin yang disodorkan ke arahnya.
"Hp nya terbalik, nona. Bisa perbaiki agar saya bisa melihat dengan jelas?"
Buru-buru Salin memperbaiki posisi ponselnya sesuai perkataan sopir taksi itu.
"Oh. Benar nona. Silakan masuk!"
"Trimakasih, pak."
Beberapa saat kemudian Salin pun turun dari taksi itu setelah melakukan transaksi pembayaran. Ia membuka pintu taksi itu dan keluar dari sana.
"Pak, bisa saya minta tolong?" tanya Salin pada sopir tersebut.
"Iya, nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong lihat, apakah ada orang di sekitar sini! Salin menyebutkan ciri-ciri orang yang ia cari."
Sopir itu bingung dengan ucapan Salin. Ia sampai garuk-garuk kepala. Seolah gatal padahal tidak.
"Tidak ada, nona. Di sini sepi. Jangankan orang yang anda sebutkan. Tanda-tanda orang ada di pantai ini tidak ada, nona," ucap sopir itu menerangkan.
"Apa?" tanya Salin mulai panik.
"Anda baik-baik saja, nona?"
"Iya. Saya baik-baik saja," jawab dengan tegas. Tetapi sesungguhnya ia sangat panik sekarang. Ia takut terjadi apa-apa dengan sang mama.
"Trimakasih ya, pak." Salin menunduk hormat pada sopir itu.
"Sama-sama, nona," jawab si sopir dengan ternganga. Ia masih bingung dengan penumpangnya hang satu itu.
"Bapak pulang saja. Saya baik-baik saja kok. Saya akan di sini menunggu mama saya."
"Baiklah. Permisi nona. Jaga diri anda baik-baik."
Kemudian sopir taksi itu pun akhirnya pergi. Menghargai keputusan Salin.
"Mama dimana sih?"
Salin masih mencoba menghubungi nomor mama Sefarina tapi tidak ada. Hingga tiba-tiba, cahaya yang terang benderang mengelilingi dirinya. Sementara tangannya masih sibuk memegang ponsel yang ia letakkan di daun telinganya.
Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara pianika yang dimainkan. Membawakan sebuah lagu yang berjudul Janji suci. Yang dipopulerkan oleh Yovie and Nuno.