
"Aku kesal, Bu dengan dia. Masa saat suami meminta haknya ia malah menolak," ucapnya kesal.
"Malah dia bilang kalau aku menyebut nama wanita lain saat aku ada diatas tubuhnya. Siapa yang nggak kesal sih Bu? Padahal aku udah berusaha memberi yang .terbaik. Aku sudah mencoba untuk menyentuhnya lagi. Tapi apa? Apa ini balasannya. Sungguh nggak adil," ucap Setu lagi panjang lebar.
Ibu Sirlina hanya membisu mendengar gerutuan sang anak.
"Ibu gimana sih? Aku cerita malah diabaikan. Tadi kan ibu yang nanya. Kok sekarang malah dikacangin?"
"Tega benar sama anak sendiri," cetusnya lagi.
"Sudahlah, nak. Berhenti menggerutu. Kamu hanya membuang-buang tenaga. Apa kamu nggak capek dari tadi ngeluh aja," cecar sang ibu.
"Ya udah biarkan saja dia. Ngapain pula kamu harus pura-pura memperbaiki segalanya. Tok seperti kamu bilang bahwa hatimu sudah mentah padanya. Jadi untuk apa kamu melakukan kewajiban kamu sebagai suami? Nggak guna kan?"
Setu terdiam. Mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut sang ibu. Dan ia menyadari kalau itu benar adanya. Toh masih ada Weni yang jadi tempat ternyaman baginya. Tempat ia pulang saat ia merasa suntuk, saat ia merasa ingin dipuaskan dan saat ia ingin dimanja.
"Ibu benar juga ya. Buat apa aku peduli padanya. Huh gengsi. Males. Kayak nggak ada kerjaan lain saja," sahut Setu setuju dengan ucapan ibunya.
Di saat dua manusia itu sedang berunding, lain hal yang terjadi pada Salin. Saat ini, di dalam kamar mandi ia sedang berjuang. Mengumpulkan sisa-sisa tenaganya sesudah ia sadar dari pingsannya.
"Akh, kepalaku," ringisnya. Air matanya penuh berderai. Dengan tangan satunya ia memegang kepalanya yang sakit dan berpeluh darah itu. Dan jangan lupakan tubuh yang menggigil sempurna karena sudah terlalu lama terpenjara di dalam kamar mandi itu.
Sementara tangannya yang lain, sekuat tenaga memegang dinding agar ia bisa berdiri tegak dan membawa kakinya meninggalkan kamar mandi yang dingin itu. Kamar yang baru saja menjadi saksi bisu atas kekejaman sang suami.
Bagai manusia yang tak berperasaan dan tak berperikemanusiaan, ia menyiksa Salin istrinya, tidak hanya raga tapi juga batin.
Dengan sisa tenaganya, ia angkat kakinya perlahan. Diikuti oleh tangannya yang tetap bertopang pada dinding. Ia sangat yakin bahwa ia mampu menghadapi semua ini. Ya, dia yakin bahwa ia kuat dan mampu. Dan harus mampu.
Walau berkali-kali Salin gagal membawa kakinya meninggalkan kamar mandi yang bermemorikan kekelaman itu, pada akhirnya ia mampu. Ia menang melawan semua derita yang menderu dalam dirinya. Terutama dalam menjalani penyiksaan dari suaminya itu.
****
Seperti kata ibu Sirlina kala itu, Setu pun mengabadikan Salin. Seolah-olah Salin itu tak nampak dalam pandangan matanya. Bahkan ia tak merasa bersalah sama sekali setalah penyiksaan yang sudah berlalu sekitar satu minggu itu.
Dari Salin sakit, lebam, hingga kembali menjalani aktivitas seperti biasa, Setu tak pernah peduli lagi. Seolah-olah Salin itu bagai patung. Patung yang tak diinginkan kehadirannya.
Dengan semangat yang baru, Salin menyambut hari yang baru ini, bagi dia hari baru karena kembali ia bisa beraktivitas setelah seminggu istirahat total. Untung saja bosnya perhatian dan pengertian. Mengijinkan nya untuk istirahat total di rumah.
"Hay, Salin. Gimana keadaan mu? Sudah baikan?" tanya ibu Fradina sambil tersenyum pagi itu. Menyapa Salin, jantung toko baru mereka yang beberapa hari ini mengalami hal yang buruk.
"Sudah, Bu. Makanya bisa bertemu ibu manajer sekarang."
"Jangan terlalu memaksa ya, Lin. Kalau lelah istirahat aja."
Dengan tersenyum, Salin meringankan langkahnya menuju stan parfum yang akan ia promosikan kepada pelanggan.
Sungguh ia kembali seperti Salin yang tak punya beban. Yang tak punya masalah. Begitu ahli dia menyembunyikan luka dalam dirinya agar orang-orang tak tau.
Sering sekali ia berbohong untuk menjawab tanya orang-orang, yang mempertanyakan luka, lebam ataupun memar yang ada di tubuhnya. Tak ingin ia menceritakan kisah sedihnya kepada orang lain. Karena ia takut sampai tercium kepada keluarganya terutama sang mama.
"Parfumnya, kak. Bisa dicoba dulu. Nanti kalau cocok dibeli. Banyak varian wanginya, kak. Ada diskon lagi, kak. Ayok, kak yang mau parfum! Beli 1 gratis 1 kak."
"Ayo, pak, Bu. Parfum keluaran terbaru dengan varian yang berbeda. Bisa di coba dulu kok."
Dari kejauhan, seseorang melihat Salin begitu bersemangat menjalani tugasnya. Mencari pelanggan sebanyak-banyaknya untuk membeli produk parfum keluaran terbaru dari sebuah toko Nona's parfume yang baru buka juga.
Dengan rahang yang mengeras, ia mengepalkan tangannya. Dan tanpa ba bi bu, ia langsung menghampiri Salin, mencengkram tangannya sekuat mungkin.
"Ayo, pulang!":ucapnya dengan amarah yang meluap-luap.
Salin yang merasa tangannya dicengkram erat, sangat terkejut dengan kehadiran pria itu. Pria yang selalu menyiksa ia lahir dan batin selama ini. Ia shock, rahasianya terbongkar sudah.
"Mas Setu!" ujarnya kaget bercampur takut.
"Lepas, mas. Sakit," rintiknya.
"Pulang kataku!"
"Tapi mas, saya lagi kerja." Salin membantah. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan kekar pria itu. Dan berhasil. Hal itu membuat Setu semakin murka.
Seketika mall tepat dimana sekarang Salin berada, ramai. Orang-orang pada berkumpul menyaksikan Salin yang diperlakukan secara kasar dengan seorang pria. Bahkan Fradina sebagai manajer, merasa bingung. Siapa lelaki itu, kenapa dia berbuat kasar pada Salin.
"Tolong, pak. Coba bicarakan baik-baik, jangan main kasar." Dengan lembut Fradina berkata kepada Setu.
"Jangan ikut campur. Dia istri saya. Saya berhak melakukan apa saja pada istri saya," sergah Setu.
Kembali Setu mengejar Salin, mencengkram kuat tangannya yang kecil itu. Dan berhasil. Salin juga gak mau kalah, ia tetap berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman pria itu. Dan berhasil.
Geram dengan perlawanan Salin, Setu langsung menampar kuat wajah Salin. Memukul bahkan mendorong Salin hingga jatuh tersungkur di lantai keramik itu.
Tak ada ampun Setu pada Salin. Dan tak ada yang bisa menolong Salin. Semuanya hanya bisa menatap iba pada wanita yang disiksa oleh suaminya sendiri.
Salin hanya bisa menangis sambil menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk melawan Setu. Ia mengaku kalah, rahasianya selama ini sudah terbongkar. Ia merasa hancur dan tak berdaya.
"