
"Salin..."
"Kamu sudah...."
"Ter, kamu di sini?" tanya Salin. Tak menduga ia bahwa Alister ada di sini.
"Sayang, duduk dulu," pinta mama Sefarina.
Salin pun menurut ajakan sang mama. Gegas ia duduk di samping mama Sefarina.
"Minum dulu tehnya, nak," ucap mam Sefarina da Alister.
Tanpa menjawab, Alister menyeruput teh yang ada di hadapannya. Mama Sefarina memperhatikan gerak-gerik Salin dan juga Alister. Lalu ia menyodorkan cemilan ke hadapan Alister.
"Nih kue buatan Salin," ucapnya memberi tahu Alister.
"Mama tunggal sebentar ya." Mama Sefarina pun pergi meninggalkan mereka yang terlihat salah tingkah.
"Kamu, kenapa bisa membantu ku?" tanya Salin pada akhirnya. Memulia obrolan karena mulai terasa canggung.
"Kenapa kamu bisa ada di sana? Dan kenapa bisa kebetulan?"
Salin mencerca Alister dengan berbagai pertanyaan.
"Aku...." Alister mencoba menjelaskan.
"Apa mungkin kamu ada dibalik semua ini?" tanya Salin lagi.
"Duh, kenapa sih aku tanyanya begitu. Dasar mulut ga bisa di rem," umpatnya dalam hati menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa maksud kamu?" tanya Alister bingung. Bagaimana bisa salin menuduhnya seperti itu.
"Ya buktinya kamu tau aku dimana. Kamu bisa menemukan aku. Kamu mau aku menganggap mu sebagai pahlawan karena berhasil menyelamatkan diriku? Sementara kamu terlibat di dalamnya?" sergah Salin lagi.
"Aku ..."
"Apa? Jadi benar, kamu kerja sama dengan Setu Sandoro? Kamu masih sayang kan sama mantan kamu itu? Kamu nggak bisa move on kan darinya?"
Alister diam. Ia memilih membiarkan Salin mengungkap semua isi hatinya. Mengeluarkan semua praduganya. Ia akan menjelaskan se detail mungkin nanti saat Salin sudah tenang.
"Kamu masih cinta sama dia. Kamu kerja sama dengan Setu, mempertemukan aku dengan Setu agar kamu bisa berduaan dengan kekasih masa lalu mu itu." Salin mengomel panjang lebar. Menuding Alister masih cinta dengan perempuan yang bernama Rebecca itu.
"Setelah kamu menjebak aku dengan Setu Sandoro, lalu kami bebas memadu kasih dengan kekasihmu itu. Iya kan?"
"Atau jangan-jangan, perempuan itu ikut kerja sama?"
Alister menatap Salin sendu. Tak habis pikir ia dengan tudingan-tudingan Salin terhadapnya.
"Jawab!" hardik Salin. Ia merasa diabaikan. Dari tadi ia sudah panjang lebar bicara, tapi Alister malah diam saja. Ia merasa sedang bicara dengan batu. Tak bisa mendengar dan tak bisa membalas ucapannya. Tentu kesal bukan?
"Bagaimana aku mau jawab, dari tadi kamu ngomel melulu," tukas Alister.
"Sekarang lanjutkan. Teruskan kamu mengomel sampai kamu puas," ucap Alister dengan nada tenang.
Melihat sikap Alister yang tenang, Salin merasa tercubit. Padahal ia sudah marah-marah. Sudah mendidih Alister yang bukan-bukan.
Kalau Setu ada di posisi Alister saat ini, ia akan bertindak kasar kepada Salin. Segala yang melayang akan melayang dengan entengnya.
Jujur, Salin percaya. Alister tidak mungkin seperti yang ia tuduhkan. Tapi ia tadi sudah terlanjur keceplosan. Gengsi ia meminta maaf duluan.
"Kenapa diam? Udah selesai bawelnya?" tanya Alister lagi. Ia masih tetap tenang.
Mama Sefarina yang memperhatikan mereka dari jauh, tersenyum. Ia sangat tau putri sulungnya itu. Tak akan mau ia mengakui kekalahannya.
"Lin, antara aku dengan Rebecca sudah tak ada apa-apa lagi. Aku kan sudah pernah jelasin ke kamu. Dan bahkan waktu itu kamu bilang percaya sama aku. Sekarang malah kamu begini. Mana buktinya ucapanmu waktu itu?" ucap Alister.
Salin tertunduk. Ia malu pada dirinya sendiri. Ia membenarkan ucapan Alister. Teringat ia dengan ucapannya waktu itu. Bagaimana mau mengangkat wajahnya di hadapan pria itu. Ia sungguh malu sekali.
Alister pun akhirnya menceritakan kejadian tadi sewaktu ia bertemu dengan Rebecca. Semuanya ia ceritakan dengan detail. Tanpa ada yang ia tambahkan dan tanpa ada yang ia kurangi. Ia juga menceritakan mengenai obat tidur yang diberikan Setu padanya.
"Jadi benar, mereka berdua bekerjasama?" sela Salin.
"Benar. Mereka berdua bekerjasama. Dan Rebecca memanfaatkan perasaan Setu yang masih mencintaimu. Rebecca tau kalau Setu menyesal atas perpisahan kamu dengannya," timpal Alister.
"Sekarang aku kembalikan ke kamu, apa kamu masih cinta dengan mantan suami kamu itu?"
Deg
Salin kicep mendengar pertanyaan Alister.
"Kalau kamu memang belum move dari Setu, seharusnya kamu terima lamaran aku. Seharusnya kamu mau menjadi teman hidupku. Gimana?"
Alister mengulang kembali pertanyaannya waktu itu.
"Tapi kan aku...."
"Kenapa? Trauma? Sampai kapan?"
Alister mencecar Salin dengan banyak pertanyaan.
"Alasan klasik kalau kamu masih trauma. Sementara yang aku rasa, kamu betah betah saja saat bersamaku. Kamu nggak menolak saat aku cium waktu itu," tambah Alister. Membuat pipi Salin merona merah.