Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 103. Lamaran Ditolak



Salin pun mematikan ponselnya. Lalu memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Ia menikmati instrumen lagu yang sungguh romantis itu.


Lalu, disahuti oleh beberapa suara yang menyanyikan lagu tersebut. Ternyata instrumen yang berbunyi tadi adalah intro.


Salin mematung. Mendengar lagu itu hingga selesai. Kemudian, usai lagu itu dinyanyikan, ia mendengar suara pria yang bertanya kepadanya.


"Salina Xavier, mau kah kamu menikah denganku?"


Salin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ya, dia adalah Alister. Ia yakin itu. Ternyata Alister tidak main-main dengan ucapannya. Lagi itu, instrumen itu adalah bentuk lamaran yang diberikan Alister terhadapnya.


"Terima... Terima.... Terima...."


Terdengar suara-suara sorak sorai yang memprovokasi Salin untuk menerima lamaran itu.


"Tak peduli sakit atau sehat, susah atau senang, sedih atau tertawa, aku akan selalu ada bersamamu. Maukah kamu untuk membangun mahligai itu bersama? Maukah kamu berlayar denganku dimana akulah yang akan menjadi nakhodannya?"


Salin diam saja. Belum mampu ia untuk menjawab. Ia shock dengan apa yang dilakukan Alister kepadanya. Ditambah lagi tim hore, ada papa Sande, mama Sefarina, Stephania, oma, opa, tuan Aaron dan Nantha. Merekalah paduan suara yang bernyanyi tadi.


Ya, mereka dengan sukarela mempersembahkan lagu itu untuk melancarkan aksi lamaran Alister malam ini. Meski suara pas-pasan atau kurang pas mereka melakukan nya dengan bahagia.


"Terima.... terima.... terima..."


Mereka bersuara lagi begitu antusias. Senang meraka pabila kedua sejoli itu menyatu. Karena mereka juga bisa membaca jika Salin dan Alister saling mencintai. Hanya saja Salin belum mau jujur terhadap hatinya. Alasannya adalah trauma untuk berumah tangga lagi.


"Ter kamu. ...."


Salin tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia menangis. Tetapi tidak mengeluarkan suara. Hanya air mata yang cukup mewakilkan, memberitahu Alister bahwa ia menangis.


"Lin, apakah aku tidak punya kesempatan itu? Bisakah kamu membuka hati untuk ku? Aku tidak sama dengan masa lalu kamu, Lin."


Alister mencoba untuk meyakinkan Salin.


"Tapi, Ter aku belum siap."


"Lalu, kapan kamu akan siap, Lin?"


Salin terdiam. Ia tak mempunyai jawaban untuk saat ini. Bukan tak punya hanya ia belum siap untuk menjawab alasannya. Yang jelas salah satunya adalah dia tidak mau menjadi beban untuk Alister. Retinitis pigmentosa yang ia derita, tak mau ia membuat kesulitan pada pria itu.


Lalu bagaimana kelak jika mereka menikah? Dan dia akan punya anak? Tidak mau ia kalau sampai anak-anaknya kelak mengalami seperti yang ia alami.


"Maaf, Ter. Permisi!"


Stephania yang melihat sang kakak pergi, mengejarnya dengan berlari juga. Diikuti oleh papa Sande dan mama Sefarina. Sementara keluarga Alister menunggu Alister dengan setia. Mereka iba dengan kondisi Alister sekarang. Tetapi mereka membisu. Hingga Alister memutuskan untuk mundur dan meminta mereka semua untuk pulang.


"Oma, opa, aku menyerah. Segala cara sudah aku coba. Tetapi dia tetap dengan keras kepalanya. Padahal aku mencintai dia dengan setulus hatiku. Tetapi dia tetap tak percaya dan lebih memilih menolakmu," adunya pada oma dan opanya.


Bahkan Alister memeluk oma, melampiaskan rasa yang ia punya sekarang. Mencari ketenangan dari keluarga tercinta.


"Sekarang bagaimana?" tanya oma dengan lembut.


"Aku tidak akan menikah lagi," sahut Alister pasrah. Suaranya serak.


"Eh, jangan ngomong gitu. Nggak boleh. Kakak harus tetap menikah. Karena aku melihat ada cinta di hati kak Salin untuk kakak," bantah Nantha.


Bagi Nantha, Alister dan Salin adalah pasangan yang serasi. Ia bisa melihat cinta Salin untuk Alister dan begitu juga cinta Alister kepada Salin.


"Aku punya ide," ucap Nantha kemudian.


Seperti ada ilham yang muncul di dalam kepalanya menunjukkan jalan dengan cahaya lampu yang bersinar terang.


"Ide apa?" tanya oma dan opa serentak.


Sementara tuan Aaron hanya diam saja. Ia tak memberi reaksi apapun. Tapi dia tetap berdiri setia mendukung apapun keputusan Alister.


"Sini, aku bisikin! Aku yakin ini pasti berhasil.


Alister pun mendekati adik sepupunya itu. Lalu menyendengkan telinganya demi bisa mendengar ide sang adik. Seolah mereka yang ada di sana tidak boleh mendengar ide itu. Meski itu bukan lah sebuah rahasia yang harus disembunyikan.


Ketiga orang itu menunggu dengan setia apa yang akan disampaikan Nantha nantinya.


"Baiklah. Malam ini aku memutuskan bahwa aku akan pergi dari sini. Pergi ke luar negeri demi mengobati luka yang aku alami. Sakit karena terus ditolak oleh Salina Xavier, wanita yang aku cintai."


"Apa?" Serentak oma, opa dan tuan Aaron bertanya. Mereka terkejut dengan keputusan Alister yang tiba-tiba.


"Kok ke luar negeri? Aku kan nggak bilang itu?" tanya Nantha heran. Ia tidak membisikkan itu tadi. Kenapa sang kakak malah membuat keputusan sepihak. Percuma ia capek-capek memberi ide tapi tak didengarkan.


"Ya udah deh. Terserah. Bye...."


Nantha menghentakkan kakinya meninggalkan keempat orang itu. Membuat keempat nya bergegas mengikuti kemana kaki Nantha melangkah.