
Meski Setu terkenal jahat, tetapi akhir-akhir ini ia sudah memiliki belas kasihan. Ia iba terhadap pria paruh baya itu.
"Baguslah. Segera angkat kakimu dari ruangan saya. Karena saya tak sudi berhubungan lagi dengan pria lemah seperti kamu!" hardik Rebecca. "
"Dasar wanita sinting. Tidak waras. Saya sebagai pria yang waras lebih baik mengalah terhadap wanita ular seperti kamu. Jangan kira saya bodoh yang bisa kamu kibulin."
"Pergi kamu! Dasar laki-laki sinting. Nggak punya pendirian. Nggak guna aku bicara sama lelaki nggak jelas seperti kamu Buang waktu dan tenaga aku."
"Katanya masih cinta, tapi nggak berani memperjuangkan. Cih! Cinta apa itu? Cinta monyet?"
Rebecca mengomel lagi dan lagi. Sementara Setu Sandoro sudah tak ada lagi di dekatnya.
****
Sepulang bertemu dengan Rebecca, ia malah kena omel lagi oleh ibu Sirlina. Soal apalagi kalau bukan tentang Salin, Salin dan Salin.
"Ibu, sudahlah. Jangan bujuk aku lagi untuk mendekati Salin. Salin udah cinta sama orang lain, ibu," ucap Setu menyerah.
"Kamu gimana sih, nak? Dikasitau malah ngeyel. Ingat, selagi janur kuning belum melengkung, Salin belum jadi milik siapa - siapa. Jadi kamu, jangan nyerah gitu aja, dong. Sayang Salin bila sampai jatuh ke tangan pria lain. Salin itu langka, unik, baik, hormat pada orang tua dan pastinya jago masak "
Itulah ungkapan pujian untuk Salina Xavier entah yang ke berapa kali. Sampai Setu Sandoro bosan mendengarnya. Walau ia mengakui dalam hati jika ucapan ibunya itu benar. Menyesal ia menandatangani surat perceraian kala itu.
Mencampakkan Salin, demi Weni yang ternyata mengkhianati dirinya. Mengaku hamil anaknya, eh ternyata dengan pria lain. Usia kehamilannya tak sesuai dengan saat mereka melakukan hubungan itu.
"Jangan nyerah dong ah. Kayak bukan anaknya ibu," omel ibu Sirlina.
"Bu, sudahlah. Setu sudah menyerah, Bu. Setu tak ingin lagi memberi luka untuk orang yang Setu cintai."
"Terus gimana perasaan kamu?"
"Ini karma buat aku, Bu. Mencintai setelah ia pergi dari hidupku," gumam Setu nyaris gak bersuara. Ada embun di dalam bola matanya.
"Cinta sudah terlambat, Bu."
"Nak, tak ada kata terlambat untuk cinta. Coba sekali lagi kamu bicara baik-baik sama dia. Kalau memang jawabannya tidak ya sudah, kamu mundur. Tapi jangan mundur sebelum beraksi." Ibu Sirlina masih berusaha menguatkan putranya. Memberi semangat untuk memperjuangkan cinta yang ia ucap sudah terlambat.
"Sudahlah, Bu. Kalau memang kita berjodoh, pasti suatu saat akan bersatu."
"Iya, tapi kapan?"
"Nggak taulah, Bu. Setu mah bukan Tuhan. Kan hanya Tuhan yang menentukan siapa jodoh Setu."
Ibu Sirlina hanya geleng-geleng melihat anaknya sekarang. Jauh berbeda ketika ia masih hidup bersama Salin. Sekarang lebih dewasa dan pikirannya lebih terbuka.
Ya, kedua anak dan ibu itu menyesal. Mengapa baru sekarang mereka merasakan kehilangan sosok Salin? Kenapa baru sekarang mereka merasa menyayangi sosok Salin?
Cinta memang tak dapat di tebak. Kapan akan datang dan kepada siapa ia hinggap. Karena cinta itu sendiri yang memilih ke pulau mana ia berlabuh. Tek peduli ia miskin, kaya, baik, buruk, humble atau cuek.
****
Sementara di sebuah taman. Seorang pria sedang duduk termenung di bangku taman itu. Ia ijin kepada opa dan oma untuk menenangkan dirinya.
Oma dan opa sempat merasa takut. Karena ciri-ciri Alister sekarang adalah nyaris seperti dulu saat ditinggalkan oleh Rebecca. Entah apa masalah yang ia hadapi, ia malah tidak cerita lagi kepada oma, opa ataupun tuan Aaron. Ia lebih memendam sendiri. Takut kalau oma sakit karena memikirkan permasalahannya.
Sedang asyik termenung, tiba-tiba dua buah lengan memeluk ia dari belakang. Menjadikan kulit mereka bersentuhan, semakin erat bersatu.
Tangan wanita itu mulai liar. Pegang sana, pegang sini, usap sana usap sini. Tak se-inci tubuh pun yang ia lewatkan. Roti sobek itulah yang menjadi tempat favoritnya. Sampai ia labuhkan jari-jari lembutnya demi menggapai roti sobek itu.
"Ahh," katanya. Ia mengeluarkan suara yang melenguh. Seperti menahan sesuatu.
"Aku kangen kamu, sayang. Apa kamu nggak kangen aku? Kamu nggak ingin kita ke masa-masa dulu?"
Dengan suara yang manja di buat-buat, berharap ia Setu membalas belaiannya.
Muak rasanya Alister dengan tingkah wanita seperti Rebecca. Jijik ia tubuhnya di sentuh oleh perempuan itu. Ia pun berdiri. Sontak membuat lengan Rebecca yang bergelayut manja tadi terhempas begitu saja.
"Mau kemana kamu, sayang. Aku masih kangen," kata Rebecca lagi tak tau malu.
Orang-orang yang lalu lalang di taman itu, menatap sinis kepada Rebecca. Bahkan ada beberapa yang jijik dengan tingkahnya. Seperti wanita yang sedang merasa gatal. Entah apa yang gatal, hanya Rebecca lah yang tau.
"Jangan ganggu aku," ucap Alister dengan gigi rapat. Ia menekankan pada kalimat itu.
"Tapi sayang...."
"Berapa kali saya harus bilang? Apa kamu tidak mengerti bahasa Indonesia? Haruskah saya pakai bahasa zombie agar kau mengerti?" hardik Alister akhirnya.
Sudah teramat tebal rasa muak yang tertanam di dalam hati Alister terhadap perempuan yang tidak waras seperti Rebecca.
"Aku sudah merekam semua yang kita lakukan ini, sayang. Kalau kamu tetap berkeras hati nggak mau juga kembali ke aku, maka ...."
Alister malah santai saja meski nada Rebecca seperti sebuah ancaman.
"Akan kukirim semua ini kepada Salin. Akan aku edit, seolah-olah kamu masih cinta sama aku. Pasti Salin akan percaya sama video itu. Kamu tenang saja sayang...."
"Aku akan selalu menerima kamu kok, kalau nanti Salin nggak terima kamu. Aku siap pasang badan untuk ada di dekat kamu, lindungi kamu, jaga nama baik kamu."
"TIDAK PERLU!" sela Alister cepat.
"Salin bukan wanita yang sama seperti kamu. Level kalian sungguh jauh berbeda. Mungkin dari segi kekuasaan dan kedudukan, kalian berbeda. Tapi, Salin itu wanita berkelas. Cerdas, pintar dan punya harga diri. Serta punya pendirian. Bukan seperti anda, yang tidak ada prinsip."
"Kamu, nggak bisa dibandingkan dengan Salin walau seperempatnya pun. Dia jauh lebih diatas kamu. Lebih terhormat."
"Cukup, sayang. Hati aku sakit dengarnya. Bisakah sedikit saja kamu hargai perasaan ku?" ucap Rebecca merajuk.
"Lalu, bagaimana kalau saya kembalikan pertanyaan anda itu ke anda sendiri? Bisakah kamu menghargai perasaan saya, yang sudah jatuh cinta kepada orang lain? Dan tidak ada sedikit pun cinta itu untuk anda? Bisa?"
Rebecca diam, memaku di tempat.
"Nggak bisa kan kamu jawab? Tapi kalau saya bisa beri saran, carilah pria yang se level dengan kamu. Punya uang banyak, good looking, dan yang paling penting bisa kamu jadikan budak," ucap Alister. Pedas sekali perkataannya itu terhadap Rebecca.
"Kalau begitu, aku kirim videonya kepada Salin sekarang."
"Silakan kirim. Puaskan dirimu dengan mengirim banyak video. Karena saya lebih tau Salin yang sebenarnya. Dia tidak akan terhasut, dia tidak akan tergoda oleh video palsu yang kamu kirim."
"Cinta kita itu kuat. Tak perlu mengumbar, tak perlu pula posting sana posting sini. Cukup hati yang saling terbuka dan berani saling mengungkapkan cinta kami masing-masing. Gimana? Belum nyerah?"
"Sialan," umpat Rebecca di hati. Sungguh kesal ja sekarang.
Niat hati ingin membuat hubungan Salin dengan Alister semakin renggang, malah gak berhasil. Sudah terlanjur cinta Alister terhadap Salin. Sehingga apapun kata orang, ia tak akan percaya begitu saja. Karena baginya, setiap orang mempunyai alasan atas apa yang ia perbuat.