Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah



"Pa, tolong. Ardan mohon tenangkan diri papa dulu. Kasihan bibi , pa," pinta Ardan kepada sang papa.


"Tahan emosi papa. Sedikit saja. ini di rumah sakit, pa. Bukan di rumah yang seenaknya papa bisa marah."


Huh


Papa Sande menghela nafas kasar. Mencoba menenangkan diri lebih tepatnya sesuai arahan sang putra. Ia membenarkan ucapan Ardan, walau gengsi mengakuinya. Walau gengsi mengungkapkan nya.


Sebagai anak yang paling besar, tentu ia merasa kecewa dengan keluarganya ini. Ia merasa gagal sebagai kakak yang tak bisa melindungi adik-adiknya. Ia merasa gagal menjadi anak laki-laki yang tak bisa menjaga keharmonisan keluarganya.


Apakah itu terlalu jauh? Bukankah tugas seorang ibu dan ayah, bukankah tanggung jawab mereka terhadap keharmonisan keluarga?


"Papa tolong jaga bibi, ya. Ardan ke kantor sebentar. Katanya ada urgen yang nggak bisa ditangani mereka," ujar Ardan.


Papa Sande segera mengangkat kepalanya. Semangatnya kembali bangkit.


"Baiklah, anakku. Papa percaya padamu," ucapnya tersenyum. Kemarahan yang tadi meluap-luap kini sirna seketika.


Jika membahas tentang perusahaan, papa Sande merasa tertantang. Ia merasa bahwa sang putra layak untuk menjabat sebagai CEO menggantikan dirinya. Papa Sande yakin, Ardan mampu bersaing dengan pebisnis lain, bahkan manca negara sekali pun.


Dengan Ardan yang memegang kendali perusahaan SANDAR Group, ia yakin perusahaan akan semakin maju, bahkan akan melahirkan cabang-cabang baru di berbagai tempat.


Ya, meski terbilang Ardan masih baru di perusahaan itu, tapi ia sudah mampu menelurkan dua cabang perusahaan di kota lain. Papa Sande yakin, Ardan akan mampu melebarkan sayapnya sampai ke luar negeri.


SANDAR Group adalah singkatan dari nama papa Sande dan Ardan. Lalu dimana nama kedua putrinya? Nah, itulah yang menjadi perkara dari dulu sampai sekarang. Papa Sande tak mau memasukkan nama kedua putrinya di depan atau di tengah atau bahkan di belakang nama perusahaan itu.


Karena ia tidak pernah mau membiarkan putri-putrinya mengembangkan sayap di dunia pendidikan tinggi bahkan di perusahaan sekalipun.


Hal itulah yang membuatnya marah pada Salin dan Stephania yang tak mau mendengarkan atau mengikuti aturan darinya. Mereka diam-diam sekolah tanpa ia tau. Bahkan tanpa biaya darinya. Bahkan saat ini, Stephania sudah mendaftar diri di salah satu perusahaan ternama dan terbaik di luar kota tanpa sepengetahuan papa Sande.


Beda halnya dengan mama Sefarina, ia mendukung sekali anak perempuan. Tak ingin ia putri-putrinya seperti dirinya, yang tak mengenal dunia pendidikan. Dikarenakan papanya dulu masih menganut ajaran zaman dulu, kalau seorang perempuan itu tugasnya adalah di rumah. Mengurus rumah tangga, memasak, mencuci, tanpa harus capek - capek mengenyam pendidikan atau bekerja.


***


Bugh bugh


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Salin? Hah? Kenapa kau menceraikan dia? Bukankah kalian dulu menikah dengan baik-baik? Lalu kenapa sekarang kau ceraikan dia?" hardik Ardan.


Setu yang menerima bogeman mentah secara tiba-tiba dari kakak iparnya itu, meringis menahan sakit. Ia mengusap bibirnya yang luka bahkan berdarah akibat pukulan dari Ardan.


Ya, Ardan meminta ijin memang kepada papa Sande untuk urusan perusahaan. Tapi apa? Ardan malah ke sini, ke perusahaan Setu. Ia ingin memberi pelajaran kepada lelaki itu, mantan suami sang adik.


"Gara-gara kamu, bibi sampai masuk rumah sakit. Gara-gara kamu, papa dan Nia sampai berdebat. Puas kamu? Hah?" bentak Ardan geram.


"Puas kamu membuat keluarga saya berantakan? Puas kamu membuat keluarga saya bercerai berai?" hardiknya lagi.


Ardan masih berusaha menggapai Setu. Ia ingin memberikan pukulan lagi pada mantan suami Salin itu.


Tetapi Setu, dengan tangkas menangkap kepalan tangan Ardan. Ia sudah muak dengan semua tuduhan yang dilontarkan Ardan untuknya. Seolah ia adalah pelaku perceraian ini.


"Sudah ngomongnya?" ujarnya dingin.


"Sudah puas marahnya?" tambahnya lagi.


Ardan yang mendengar itu semakin geram. Ia mengepal tangannya, mengeraskan rahangnya, giginya gemeletuk. Hendak ia layangkan kembali pukulan ke wajah Setu. Tapi ia tahan. ia ingin mendengarkan penjelasan dari Setu. Tetapi sejauh ini, bukan penjelasan yang ia dapat. Melainkan Setu seolah menyalahkan Salina. Menyudutkan Salin atas apa yang terjadi pada mereka.


"Katanya dari keluarga baik-baik, tapi dia malah asyik-asyiknya memberikan tubuhnya pada lelaki lain yang bukan suaminya. Apa pantas itu disebut sebagai istri? Wanita murahan mungkin lebih tepat "


Bugh


Tak tahan lagi Ardan dengan hinaan yang dilontarkan Setu untuknya, ia melayangkan kembali tinjunya ke perut Setu. Membuat Setu yang tak siap siaga, mengasuh kesakitan.


Bugh


Kembali lagi Ardan melayangkan tinjunya kepada Setu. Masih tetap pada perutnya. Setu semakin menunduk menahan sakit.


"Saya tau adik saya. Kamu tidak berhak menghakimi Dia menuduh dia yang tidak-tidak. Saya tidak akan terpengaruh," sergah Ardan.


"Dasar lelaki pengecut. Harusnya kamu kalau sudah tak butuh lagi adik saya, kamu kembalikan dengan baik-baik. Bukan kamu campakkan ibarat sampah yang tidak berarti."


"Memang sampah!" cibir Setu.


"Sampah, kembali memang menjadi sampah. Tak pantas aku menyelipkan namaku di belakang namanya. Tak sudi!" ucap Setu sembari menahan sakit.


Seperti manusia yang tak merasa bersalah, seolah ia tak ada melakukan hal yang menyakiti Salin, yang membuat Salin akhirnya menyerah. Dan memutuskan untuk menceraikannya.


Sebenarnya Setu senang karena pada akhirnya ia terbebas dari wanita seperti Salin. Terbebas dari ikatan keluarga yang selalu menuntutnya harus ini harus itu. Meski ia akui, ia juga menginginkan pernikahan ini kala itu.


Tapi ia tidak menyangka, pernikahan itu sepeti ini ternyata. Belum lagi ia merasa Salin merendahkan dirinya karena gaji Salin lebih tinggi. Karena Salin bekerja di perusahaan yang lebih besar darinya. Karena Salin lah yang banyak mengambil peran dalam di dalam keluarganya.


Baik dari segi finansial, maupun dari segi seluruh pekerjaan di mansion. Terlepas ia adalah seorang wanita karir. Hanya satu pelayan yang membantu Salin, itupun baru-baru ini.


Karena selama ini, Salinlah yang mengerjakan semuanya. Adanya pelayan karena Setu dan ibu Sirlina sering menyiksa Salin, hati dan raga hingga Salin sering gak melaksanakan tugasnya. Terutama dalam hal memasak.


Ibu Sirlina, yang notabenenya sudah bertahun-tahun menjabat sebagai seorang ibu, istri, tak tau memasak. Jauh lebih enak masakan Salin darinya. Dai ia tau itu. Setu juga mengakui akan hal itu. Tapi lagi lagi, mereka tak melisankan betapa mereka tak bisa melupakan masakan Salin begitu saja.


Mereka lebih mempertahankan gengsinya daripada mengungkapkan kesenangannya terhadap masakan Salin.


"Satpam..." seru Setu.


"Satpam...!" serunya lagi.


Tap tap tap


"Iya, tuan!"


"Usir dia dari sini! Dan ingat, jangan pernah biarkan ia masuk ke sini lagi! Bila ia masih bisa masuk ke sini tanpa seijin saya, maka kamu yang saya pecat!" ancam Setu kepada pak security itu.


"Ba-baik, pak." Security menjawab sambil menunduk.


Security itupun mendekati Ardan, hendak menarik tangannya.


"Singkirkan tanganmu! Saya bisa sendiri," ucap Ardan dingin.