Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung



"Gimana ciri-ciri cowoknya?" tanya Alister pada akhirnya. ia tak terkejut dengan tepukan sang adik.


"Orangnya....."


Nantha menceritakan ciri-ciri orang yang duduk berdua dengan Salin waktu itu di sebuah restoran.


"Tuh kan, orang yang sama!" pekik Alister.


"Maksudnya kak?"


"Eh, mak-maksudnya, kakak juga melihat Salin sering jalan berdua dengan ciri-ciri yang sama seperti yang kamu sebutkan barusan?" ujar Alister tergagap.


Sebenarnya ia tak ingin cerita tapi karena terlanjur keceplosan, ia pun akhirnya memilih untuk jujur.


"Kakak juga melihat kak Salin dengan seorang pria? Prianya seperti ciri-ciri yang Nantha bilang barusan?"


Alister menunduk, mengiyakan. Nantha seketika lemas. Keduanya pun lemas bersamaan. Tak bersemangat untuk sekarang.


"Kalian berdua kenapa?"


Tiba-tiba oma dan opa sudah berdiri di sana, di samping mereka berdua.


"Kayak lagi patah hati," timpal sang opa.


"Jangan bilang cinta ditolak," celetuk tuan Aaron.


Mendengar ocehan tuan Aaron, oma mendelik, menatap tajam tuan Aaron. Membuat Aaron kicep. Mengunci mulutnya dengan isyarat kedua tangan ia arahkan di bibir kemudian ia geser dari kiri ke kanan.


Tangannya ia katup ke dada sebagai tanda permintaan maaf kepada mamanya itu.


Oma menghampiri Alister dan duduk di sampingnya. Begitupun opa, duduk di samping Nantha.


"Kenapa lagi? Hmm?" tanya oma lembut.


"Nggak kenapa-kenapa, oma."


"Nggak kenapa-kenapa tapi mukanya ditekuk gitu. Kayak jemuran yang belum disetrika. Padahal jemuran kita udah disetrika sama Nantha. Kamu mau disetrika sama oma?"


Oma mencoba bergurau, menggoda, mengajar kedua cucunya itu untuk bercanda. Dengan maksud mencari tau ada apa dengan mereka. Mengapa seperti patah hati berjamaah.


"Oma tega," sahut Alister manja. Ia merebahkan kepalanya di pundak omanya. Hal yang sama pun dilakukan Nantha.


"Ih, ngekor," omel Alister pada Nantha. Ia merasa adiknya meniru apa yang ia lakukan.


"Mana ada. Enak aja niru. Nantha emang pengen kak gini kok. Weeek"


Keduanya malah berdebat. Membuat oma dan opa tersenyum dengan tingkah cucu mereka. Cucu dari dua wanita yang berbeda.


"Kemarin happy banget. Kayak anak ABG yang sedang kasmaran. Sekarang malah kayak ABG yang sedang putus cinta. Kamu kayak gini, seperti Nantha waktu SMP kelas tiga," goda oma.


Flashback on


"Oma, opa, papa....!"


Nantha memekik mengabsen seisi rumah. Bahkan bibi pelayan pun ikut dipanggil.


"Ada apa sih, Tha ngabsen semua orang," ucap sang oma. Ia menguap, menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Iya, opa lagi enak mimpi malah digangguin. Dasar kamu. Nggak bisa lihat opa dan oma santai sedikit," timpal opa.


"Ihh, ini udah sore. Nggak baik kelamaan tidur siang. Tar jadi penyakit. Nantha aja pulang sekolah nggak tidur. Malah sibuk ngerjain tugas sekolah."


"Terus oma kamu suruh ngerjain tugas sekolah gitu? Oma kan nggak sekolah lagi. Udah senja juga. Tinggal nunggu beberapa kalender lagi."


"Oma apa sih ngomong kayak gitu. Nggak suka Nantha dengarnya."


"Iya, sayang. Cucu oma yang paliiiiing cantik. Oma minta maaf ya." Si oma pun merangkul Nantha dari samping.


"Coba cerita ke oma, ada apa siang bolong gini udah ribut? Udah selesai PR nya?"


"Udah lah oma. Bahkan ini lebih penting dari PR Nantha."


"Oh ya? Apa itu?"


"Kenapa siang gini malah ribut? Bisanya semedi di kamar masing-masing. Alister mana?"


Tuan Aaron yang baru pulang dari kantor, ikut nimbrung diantara mereka. Pemasangan juga dengan keributan yang ada di ruangan itu di siang bolong seperti ini.


"Kak Lister oma, opa, papa."


"Alister?" tanya ketiganya serentak.


"Alister kenapa lagi?" ucap mereka masih serentak.


"Kak Alister sudah kembali." Nantha hanya menjawab satu-satu, membuat ketiganya semakin penasaran.


Sementara si bibi pelayan menghampiri mereka sembari membawa nampan berisi minuman segar.


"Ini minumnya nyonya, tuan, tuan muda, nona, silakan!" ujar si bibi pelayan.


Fokus mereka pun semua akhirnya pada suara si bibi.


"Wih, jus Martabe," seru Nantha riang. "Bibi memang paling tau deh kalau Nantha itu kangen jus ini," imbuhnya. Tangannya langsung mengambil jus yang sudah terletak diatas meja kaca itu.


"Pelan-pelan, non," ucap si bibi lembut. Ia mengusap punggung nona mudanya itu. Gadis yang ia jaga sejak bayi. Sudah sayang ia pada gadis itu. Menganggapnya seperti putri sendiri.


"Hmmm," ucapnya menikmati minuman itu. "Sebenarnya awal pertama aku dengarnya nggak selera gitu. Agak aneh namanya. Tetapi setelah bibi bujuk-bujuk, aku coba dan akhirnya ketagihan," serunya.


"Sering-sering ya, bi."


"Jangan, non."


"Lho, kenapa bi? Kan aku nya suka."


"Iya, bibi tau. Tetapi sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, non."


"Hehehe." Nantha pun nyengir ujungnya.


"Entah. Rakus," ejek sang kakak.


"Biarin. Weeeek!"


"Terus, tadi itu kenapa? Jadi lupa kan gara-gara jus Martabe ini," celetuk oma.


Seketika Nantha dan Alister pun kicep. Tadinya sudah riang karena jus eh luntur karena diingatkan oma tentang kegalauan.


"Kenapa? Hmm?" tanya si oma penasaran.


Aneh aja gitu, kok tiba-tiba kedua cucunya galau dalam waktu yang bersamaan.


"Kak Salin oma," sahut Nantha lirih.


"Kak Salin kenapa?" Oma menatap Nantha. Ia ingin tau jawaban yang sebenarnya.


"Kak Salin udah ada cowok lain."


"Apa?" tanya oma, opa dan tuan Aaron serempak.


"Kompak amat kayak paduan suara. Tapi sayang, suara bass nya kurang bandit," celetuk Nantha. Bukannya fokus pada cerita, dia malah sibuk mengomentari kekompakan ketiga orang tersebut.


"Hmmmm. Anak bunda ya," sahut Alister. Ia menirukan gaya bicara wanita yang sering menyebut semua orang anaknya. Anak bunda. Sedang viral sekarang mah.


"Udah. Serius. Oma kepo nih," sela sang oma. Ia sedari tadi sudah penasaran sekali dengan Salin yang sudah punya kekasih.


Oma takut Alister kembali seperti dulu lagi. Patah, jatuh bahkan hancur karena cinta. Menyakiti diri sendiri hanya karena ditinggal wanita yang ia sayang. Bahkan ia harapkan akan menjadi kekasih halalnya. Oma tak ingin kalau sampai itu terulang kembali.


"Iya, oma. Kak Salin punya cowok. Beberapa kali pernah Nantha liat kak Salin jalan bareng sama cowok itu. Dekeeeet banget. Kayak udah kenal lama gitu. Bahkan nih ya, kak Salin itu ceria banget sama cowok itu. Mereka bahkan pelukan," ucap Nantha.


"Drama dimulai," celetuk si opa.


"Beneran opa. Nantha pernah liat. Bahkan kak Alister juga pernah lihat," sambung Nantha.


"Dan cowok yang bersama Salin itu orang yang Nantha sukai oma, opa," terang Alister. Ia menatap pada tuan Aaron, bermaksud memberitahu.


"Apa?" lagi-lagi mereka paduan suara.


"Tapi, belum tentu itu kekasihnya," ucap si oma tiba-tiba. Membuat semuanya bungkam dan menatap oma dengan seksama.


"Siapa tau temennya. Atau teman kantornya. Atau sahabatnya. Jangan neting dulu," imbuh si oma mengingatkan kedua cucunya.


"Terkadang, tak semua yang kita lihat begitu keadaan sebenarnya. Bisa saja kalian salah paham. Lebih baik tanya langsung," usul si oma.