Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 58. Jangan Salah Paham



"Jauhi tangan kotor mu dari tubuhku!" titah Alister menahan amarahnya. Sembari ia berusaha melepaskan dekapan wanita itu dari tubuhnya. Meski ia berhasil mengeluarkan tangan mungil wanita itu dari roti sobeknya tapi tidak dari tubuhnya.


Wanita itu bahkan semakin erat memeluknya. Seolah tak ingin kehilangan.


"Kamu jahat banget sih, sayang? Masa aku nggak bisa memelukmu," goda wanita itu manja.


"Rebecca, saya tidak mau kalau sampai saya berbuat kasar padamu. Atau kamu mau saya kasar?"


"Lakukan saja, sayang," sahut Rebecca tersenyum. Ia sangat yakin sekali bahwa Alister tidak akan melakukan itu.


Rebecca tau, Alister sangat menyayangi makhluk berjenis kelamin wanita atau perempuan. Baik tua maupun muda, terlebih orang yang ia sayangi.


"Baiklah, lalukan semaumu," ucap Alister mengalah.


Menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih yang lumayan lama, membuat keduanya sudah saling tau kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dari mulai makanan favorit, warna favorit, semuanya mereka sudah tau.


"Aku tau, kamu nggak akan pernah sanggup melakukan itu padaku sayang," ucap Rebecca bangga. "Ternyata kamu nggak berubah ya."


Rebecca adalah, mantan kekasih Alister setahun yang lalu. Hubungan mereka yang terhitung sudah tiga tahun harus kandas karena penghianatan Rebecca atas Alister.


Rebecca pergi ke luar negeri dengan dalih, melanjutkan mimpinya sebagai model dan designer. Tetapi ia malah tergoda dengan asistennya bahkan sampai tidur sekamar dengan asistennya itu.


Dan semuanya itu terbongkar di saat hari pernikahan mereka yang sudah digadang-gadang beberapa lama, direncanakan begitu matang. Tetapi kandas, dia hari sebelum tiba harinya pernikahan.


Disitulah Alister tau semua kabar itu. Kabar mengenai kaburnya Rebecca ke Ausi demi cita-cita. Alister kecewa terhadap orang tua Rebecca yang menyembunyikan kebenaran itu. Padahal jadwal hari pernikahan sudah di depan mata.


Seandainya mereka segera memberi tau kabar ini, seandainya mereka jujur dari awal, seandainya Rebecca tak pergi, Alister tidak akan sepatah itu. Ia tak akan se terluka itu.


Dan sekarang, dengan tanpa rasa bersalah Rebecca datang?


Alister bak patung bernafas, tak bereaksi sama sekali. Meski Rebecca telah melakukan sesuatu yang ia mau. Membelai, mengusap, semua area favorit dia. Area yang selalu ia rindukan. Area yang sering ia sentuh saat mereka masih bersama.


"Kamu boleh pegang apa yang kamu mau. Kamu boleh ambil semua yang kamu mau. Kamu bahkan boleh miliki tubuh ini. Tapi satu hal yang harus kamu tau, hati ini sudah mati untukmu."


"Ambil, ambillah tubuhku. Gunakan sepuas nafsumu. Tapi hatiku sudah seperti batu untukmu. Apa pun yang kamu ucapkan, apapun yang kamu tancapkan, tidak akan berubah. Tidak akan melunak sesuai mau mu."


"Aku yang punya hati, aku yang punya rasa. Tak kan bisa kamu otak-atik sesukamu."


Ucapan dingin dan menohok dari Alister seolah tak berpengaruh apa-apa pada Rebecca. Ia bahkan semakin gencar melakukan aksinya.


"Sayang, kamu kok dingin banget sih? Kamu nggak kangen sama aku?" ucap Rebecca mulai protes. Tapi tangannya tetap bicara. Tak diam sama sekali. Entah apa yang ia cari, belum dapat yang ia mau.


Sekarang tangan mungil Rebecca malah meraba tubuh bagian belakang Alister. Memberikan hembusan nafas sensual di sana. Turun tangannya sampai ada pinggang pria itu. Ia sudah selesai bermain dengan kotak-kotak yang ada di sana. Sekarang pindah ke bagian pinggang.


Dulu, ketika mereka bersama, bagian pinggang adalah hal yang sangat menggelikan bagi Alister. Sering ia tak bisa menahan bila sudah disentuh Rebecca bagian itu. Ia mulai mengeluarkan kemeja dari balik celana Alister. Sekarang penampilan Alister tak se rapi tadi. Kemejanya sudah keluar.


Tersentak Alister mendengar suara. Entah itu suara apa. Tetapi sejurus kemudian, pandangannya menatap ke arah pintu. Pintu itu masih bergerak walau pelan Tapi dapat ia pastikan, ada seseorang tadi di sana. Ia melihat bayangan seseorang. Bahkan punggung orang itu ia lihat dengan jelas.


Warna baju, tinggi badan dan juga bahasan tubuhnya seperti ia kenal. Tetapi ia meragu. Apa benar orang itu adalah orang yang dalam bayangannya?


"Awas!" pekik Alister.


Dengan kasar Alister menghempas tangan Rebecca yang masih menggerayangi tubuhnya. Ia langsung berlari meninggalkan wanita itu. Tak peduli ia dengan kekecewaan yang terpancar jelas di wajah Rebecca. Yang ia ingin tau, siapa orang yang sudah melihatnya bersama Rebecca.


Alister yakin itu bukan si resepsionis tadi, atau pula bukan si security atau pamannya.


"Sayang, kamu kok tinggalin aku sih," pekik Rebecca tak terima. Ia menghentakkan kakinya, bagai seorang kekasih yang tak mengabulkan inginnya. Meski tak ada yang melihat tingkahnya di dalam ruangan sepi itu.


"Tunggu saja. Aku nggak akan diam. Kamu akan aku dapatkan kembali. Lihat saja nanti." Rebecca berucap pada dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya bahwa ia akan memiliki kembali lelaki yang bernama Alister itu. Lelaki yang tak pernah ia bisa lupa. Ia menyesal karena telah menyia-nyiakan lelaki itu. Ia menyesal karena telah membatalkan pernikahan mereka.


Rebecca pun mengambil tasnya, segera ia menyusul Alister.


"Salin..."


Alister memanggil nama Salin, sembari mengejar langkah wanita itu. Ya, ia sangat yakin, punggung yang ia lihat tadi adalah punggung Salin. Warna baju yang sama dengan postur tubuh yang sama. Sepasang memeluk map di dadanya.


"Salin, tunggu," ujarnya mengulangi. Tetapi Salin seolah tuli. Ia tak mendengar panggilan lelaki dewasa itu.


"Lin," ucap Alister lagi. Ia sudah berhasil menyamakan langkahnya dengan wanita itu.


"Dengar dulu penjelasan aku. Ini gak seperti yang kamu bayangin," ucapnya. Alister mencoba berbicara baik-baik dengan Salin. Entah apa maksudnya ia berkata begitu.


"Penjelasan apa?" tanya Salin dengan kening berkerut. Ia masih mencoba untuk kabur dari hadapan pria itu. Pria yang baru saja ia tau bahwa dialah CEO di perusahaan ini. Perusahaan tempat ia bekerja sekarang.


Dua hal yang sangat membuat ia shock di pagi menjelang siang hari ini. Yang pertama adalah, ia baru tau bahwa selama ini bos nya tak lain dan tak bukan adalah Alister Galeh Pratama. Orang yang selama ini membantunya, menyelamatkan permasalahannya termasuk perceraiannya dengan mantan suami.


Lelaki itu pula yang mencoba mendekati Salin, meminta padanya untuk menjadi teman hidupnya sampai tua kelak. Mengaku kalau ia mencintai Salin sejak kali pertama mereka bertemu.


Dan yang paling buat Salin terkejut adakah, lelaki yang mengaku mencintainya malah berpelukan dengan wanita lain. Lebih tepatnya si wanita yang memeluk pria itu. Jadi bukan saling berpelukan sebenarnya.


"Aku sama dia itu nggak ada hubungan apa-apa," sahutnya.


"Kita hanya..."


"Adapun nggak apa-apa. Dan tak ada hubungannya dengan saya." Gegas ia meringankan langkahnya. Mencoba meninggalkan Alister tanpa berbuat mendengar penjelasan pria itu.


"Tolong kamu jangan salah paham. Kita nggak ngapa-ngapain kok."