
"Baik, tuan. Saya akan segera ke sana."
Salin menutup telponnya setelah orang yang menghubunginya juga mengakhiri lebih dulu.
Malam ini, entah apa yang terjadi ia mendapat telpon dari kantor. Ada masalah mengenai keuangan perusahaan. Dimana dana yang sangat besar keluar tanpa adanya persetujuan direktur perusahaan.
Salin sendiri bingung. Dana apa kira-kira? Siapa yang mencoba bermain-main di perusahaan besar milik tuan Aaron.
Setelah merapikan rambut dan pakaiannya, ia pun berpamitan kepada kedua orang tuanya juga Stephania. Lalu menunggu taksi di depan rumahnya. Papa Sande memberi saran agar ia yang mengantar putrinya itu ke perusahaan karena sudah malam. Tapi Salin menolak.
Bahkan papa Sande juga tak habis akal. Beliau meminta sopir mereka untuk mengantarkan Salin. Tapi lagi lagi Salin menolak. Ia tak ingin merepotkan siapa pun. Tak ingin ia papa Sande tau kasus yang sedang terjadi sekarang. Takut sakitnya akan kambuh lagi.
Sudah 10 menit Salin menunggu taksi yang lewat, tetapi tak ada juga. Ia sudah mencoba memesan taksi online, tapi semuanya menolak. Entah apa yang terjadi. Ia takut sampai di kantor akan kemalaman.
Beberapa saat kemudian, sebuah taksi melintas di depannya.
"Taksi!" panggil Salin dengan suara memekik. Tak ingin ia membuang waktu dengan percuma.
Usai menyebutkan alamat yang dituju sopir taksi pun mulai menjalankan mobilnya. Salin pun dengan santainya, bermain dengan ponselnya. Sembari menunggu tiba di perusahaan, ia menonton video menarik di YouTube.
Tersadar akan suatu hal, Salin pun menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah terlalu lama ia berada di dalam taksi itu. Tetapi kenapa belum sampai juga. Salin pun mulai merasa aneh. Ada sesuatu yang tidak beres.
Salin menarik napas dalam-dalam. Berusaha terlihat tenang. Tak mau ia tunjukkan bahwa ia panik kepada sopir taksi tersebut.
"Pak, kita mau kemana ya?" tanya Salin tenang. "Ini bukan jalan ke tempat tujuan saya, pak "
"Maaf, bu. Tetapi, jalan yang biasa ibu lalui sedang mengalami perbaikan. Jadi saya lewat jalur lain yang memang butuh waktu banyak, karena berputar-putar." Sopir taksi itu pun menjelaskan dengan tenang. Seolah tak terjadi sesuatu. Seolah ia tidak ada niat yang tidak baik untuk Salin.
"Kalau begitu saya turun di sini saja, pak "
"Oh, tidak bisa bu. Ibu tidak boleh turun sembarangan di tengah jalan seperti ini. Pertama, ini bukan wilayah pemberhentian saya. Kedua, kalau kita tiba-tiba berhenti di sini maka polisi akan menilang kita. Waktu ibu akan banyak terbuang. Sedangkan ibu bilang tadi hal mendesak hingga sampai ke tujuan."
"Nggak apa-apa, pak. Turunkan saja saya di depan," sahut Salin kekeh dengan pendiriannya. Dalam hati ia sudah sangat ketakutan sekarang. Tetapi ia berusaha terlihat tenang, supaya si sopir tidak menaruh curiga akan ketakutannya.
"Kamu tidak akan bisa selamat, nona," ucap sopir taksi itu dalam hati. Tersenyum ia bisa mengerjai wanita itu.
Di tengah kerisauannya, ponsel Salin berbunyi. Segera ia mengklik pada tulisan jawab. Tangannya sudah gemetaran. Ditambah si sopir mengemudikan mobilnya dengan kencang. Membuat Salin harus berpegangan erat agar tidak terjatuh.
"Ha-halo, Ter."
"Halo, Lin. Kamu dimana? Kata tante kamu ke perusahaan? Ada masalah?"
"Lho, bukannya kamu yang suruh orang kantor buat nelpon aku, Ter? Kan kamu yang minta aku ke kantor "
"Aku? Kapan?"
"Lho? Yang tadi sore?"
Salin terkejut dengan penuturan Alister. Benar dugaannya. Ada yang tidak beres. Semakin kuat dugaannya, jika si sopir ini terlibat dalam hal tersebut.
"Dimana kamu sekarang?"
"Aku.. aku... aku nggak tau dimana ini, Ter. Yang jelas udah jauh dari jalur biasa aku ke kantor."
Salin mulai panik. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya bahkan kini sudah menetes. Takut ia sekarang. Apalagi ini sudah malam.
"Ya udah. Kamu tenang dulu, ceritakan ke aku apa saja yang kamu lihat. Bangunan atau apa yang mudah diingat. Kamu jangan panik. Oke?"
"Ter, aku... aku takut, Ter." Suara Salin berbisik. Ia tak mau didengar oleh sopir taksi tersebut.
"Nona nona. Kamu kira saya bodoh? hah?" batin sopir taksi itu dengan geram. Ia sudah dapat bayaran mahal. Tak mau ia kalau sampai misi ini gagal. Uangnya bisa lenyap kembali.
"Kamu tenang. Aku akan menemukan kamu." Alister mencoba menghibur Salin. Memberi arahan agar ia tak panik. Agar ia tetap tenang dan berdoa dalam hati.
"Baru saja kami melewati hotel .... hotel ... Maharani dan sekarang melewati tugu. Selanjutnya ..."
Semakin kencang saja mobil itu melaju. Sengaja memang agar Salin segera mengakhiri panggilannya. Tetapi Salin masih berusaha memberi petunjuk walau penglihatannya minim akan sekitar akibat gelapnya malam.
Karena kencangnya laju mobil, ponsel Salin pun terlepas dari genggaman. Ia mau mengambil ke bawah tapi sayang belum berhasil. Dan tiba-tiba mobil yang ia tumpangi berbelok ke arah kanan. Masuk ke rumah-rumah penduduk.
Sementara Alister, sambil menyetir, ia menelpon anak buahnya. Meminta mereka untuk melacak dimana ponsel Salin kini berada. Mobilnya pun ja bawa dengan kecepatan tinggi. Tak mau ia Salin sampai kenapa-kenapa.
Lalu, taksi itu pun berhenti. Saat sopir taksi itu keluar, kesempatan itu pun Salin gunakan untuk kabur. Tak peduli lagi ia dengan ponselnya yang terjatuh tepat di bawah kursinya tadi duduk.
Salin berlari sekuat yang ia bisa. Tapi sayang, ia berhasil ditangkap lelaki itu.
"Mau kemana kamu?" sergah pria itu. Ia meraih dengan paksa pergelangan tangan Salin. Membuat Salin merasa ketakutan.
"Lepaskan! Tolong!" Ia menjerit sekuat tenaga. Berharap ada yang mendengar jeritannya.
Lelaki itu mencekal pergelangan tangan Salin sekuatnya. Salin pun berusaha melepaskan. Ia meronta. Mencoba menggapai apa yang bisa demi bisa lepas dari lelaki tak bertanggung jawab itu. Hingga akhirnya Salin berhasil lepas setelah ia menendang lutut pria itu.
Akan tetapi, tak semudah itu Salin melarikan diri. Lelaki itu telah bangkit dari rasa sakitnya dan kini mengejar Salin kembali.
Salin berlari sekencang mungkin. Hingga akhirnya ia sampai pada jalan buntu. Di depan hanya ada jalan buntu, di samping kiri ada tembok dan di samping kanan ada semak-semak.
Salin bingung. Jalan satu-satunya hanyalah ke samping kanan. Tak tau ia apa yang ada di balik semak-semak itu.
"Mau kemana kamu? Kamu nggak bisa kabur, nona. Kamu sudah terjebak."
Lelaki itu tertawa mengejek.