
"Ih, kasian banget ya cowok itu. Dapatnya wanita gila. stres."
"Iya, kasian banget. Mana ganteng lagi cowoknya."
"Wanita gila mah harus di bawa ke RSJ. Nggak cocok keluar kayak kita-kita."
"Kalau aku sih, mana mau sama cewek yang kayak gitu. Buat apa cantik kalau nggak waras."
"Aku malah kasian sama cewek itu. Kayaknya dia banyak masalah."
"Banyak masalah ya di selesaikan. Bukan di pendam. Gini jadinya. Jadi nggak mood aku makan. Yok ah pergi."
Begitulah cibiran, cacian dan judge pengunjung kafe itu terhadap Salin. Bahkan banyak yang jadinya meninggalkan kafe itu, padahal mereka sudah pesan.
"Tuan, maaf sebelumnya. Pelanggan saya pada kabur gara-gara teman wanita tuan. Boleh saya minta tuan bertanggung jawab untuk itu? Dan meninggalkan kafe saya. Saya takut nanti malah jadi viral dan kafe saya sepi pengunjung, tuan. Maaf banget ya, tuan. Semoga tuan mengerti. Karena kafe saya dari tadi pagi sepi, tuan. Ini baru rame. Tapi sepi lagi karena ...."
"Berapa semua?" sela Alister. Ia geram terhadap sikap orang-orang terhadap Salin. Termasuk juga kepada manajer kafe itu yang sekaligus pemilik kafe itu sendiri.
Tak ingin orang lain memandang Salin semakin menjadi, ia pun ingin membungkam mulut orang-orang, juga pemilik atau para pekerja kafe itu.
"Maaf ya, pak. Tapi, bapak sebagai manajer atau pemilik kafe ini, tidak seharusnya bersikap seperti itu. Saya dan dia juga pelanggan anda," tunjuk Salin pada dirinya sendiri dan Salin.
"Saya bisa saja mengadukan anda atau kalian semua yang mencoba menghakimi kekasih saya kepada yang berwajib. Tetapi saya pikir-pikir, kalau saya melakukan itu sama saja saya seperti kalian semua."
Alister mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Lalu mengeluarkan uang ratusan banyak lembarnya.
Plak
Alister meletakkan dengan kasar uang itu diatas meja.
"Nah, ambil. Ayo, sayang kita pergi." Alister menarik tangan Salin, lalu membawa wanita itu bersamanya, meninggalkan kafe itu. Kafe yang tiba-tiba hening itu.
"Semoga dengan perginya kita, kafe anda ramai," ucapnya sembari tersenyum kecut. Bukan dia atau senyum ketulusan.
Usai kepergian dua insan itu, sang manajer kafe langsung mengambil uang yang tergeletak diatas meja itu.
"Ba-banyak sekali uangnya," ucapnya ternganga. Tanpa sadar ia menutup mulutnya dengan satu tangannya.
Sama halnya dengan sang manajer, penghuni kafe lainnya pun terpana dan terpaku. Tak bisa berkata apa-apa mereka. Terutama sisa orang-orang yang mencibir tadi.
***
"Maaf ya, Ter. Gara-gara aku semuanya jadi berantakan. Tadi aku cuma teringat dengan masa lalu. Jadi aku nggak sadar kalau aku sudah bentak kamu. Maaf ya, Ter. Aku nggak sengaja. Aku hanya..."
"Sssst. Jangan dibahas lagi. Aku ngerti kok," sahut Alister lembut. Ia memasang seat belt untuk Salin.
"Tapi ini harus dibahas, Ter. Aku ..."
Alister memandang Salin tanpa Salin tau apa arti tatapan itu.
"Gara-gara inilah makanya aku nggak mudah untuk membuka hati pada pria yang lain, Ter. Apalagi pria yang baru kukenal seperti kamu. Maaf, tapi walau bagaimanapun aku pernah berada di titik itu, Ter. Aku akui, kamu adalah lelaki ternyaman yang pernah aku temui sejauh ini."
Alister menatap Salin seksama. Sembari mendengarkan penjelasan wanita itu.
"Kuakui, Ter aku nyaman di dekat kamu. Nyaman cerita sama kamu. Karena ku bisa jadi diri sendiri. Nggak harus perfect di depan kamu. Tidak seperti dulu aku harus begini, harus begitu, supaya baik di depan mata orang lain." Salin menambahkan.
"Tapi jujur, untuk menjalin hubungan dalam waktu dekat ini aku belum siap, Ter. Aku belum kepikiran kesana sekarang. Yang aku mau saat ini adalah bangkit, tinggalkan masa lalu. Aku ingin menyibukkan diri di karir aku. Dengan begitu, pasti aku akan melupakan masa itu. Kamu paham kan, Ter?"
"Hmmm."
Alister hanya berdehem sambil menganggukkan kepalanya. Untuk sekarang memang, ia tak bisa memaksa wanita pujaannya itu. Jiwanya sedang terguncang. Ia janji dalam hati, ia akan sabar. Ia akan membantu Salin sampai kembali seperti dulu. Ceria dan bawel. Bukan seperti sekarang, yang dingin dan gila kerja.
Kegilaan dalam bekerja bahkan sampai membawa Salin pada tahap dipercayai oleh perusahaan sebagai manajer keuangan. Padahal dia belum genap sebulan di perusahaan itu.
Tanpa sepatah kata, Alister membawa mesin roda empatnya itu dengan kecepatan sedang. Demikian pun Salin. Perjalanan itu pun terasa hampa dan sunyi. Terutama bagi Alister.
Niat Alister yang ingin menceritakan siapa Rebecca yang sebenarnya pupus sudah. Karena ia ingin menjalin hubungan dengan Salin tanpa adanya kebohongan.
****
Hening. Tak ada jawaban. Biasanya Alister akan membalas ledekan adik sepupunya itu.
"Kak ih, ngomong napa? Kayak bukan kak Lister. Kayak batu Malin Kundang itu lho. Nggak bisa ngomong."
"Batu mana bisa ngomong," celetuk Alister.
"Iya juga ya," sahut Nantha. Ia belum sadar kalau yang menjawabnya barusan adalah Alister.
"Eh, udah ngomong kakak. Nah gitu dong. Itu baru kakak aku yang paling bawel dan ceria," imbuhnya lagi setelah ia tersadar.
"Cerita dong kakak kenapa. Kan selama ini aku juga suka cerita ke kakak."
"Udah gimana sama cowok itu?" Alister malah bertanya lain kepada Nantha.
"Ih, ditanya malah balik tanya. Itu nggak usah dibahas. Nggak penting."
"Lho, kenapa?" Alister menaikkan alisnya bingung.
"Udah ada ceweknya, kak."
"Hahahaha. Lagu sebelum berkembang. Hahaha." Alister malah terbahak-bahak mengejek sang adik.
"Gitu banget sih. Adiknya lagi sedih malah diketawain." Nantha memanyunkan bibirnya.
"Sorry sorry. Kakak hanya refleks. Kenapa kenapa."
Alister mendekati adiknya itu.
"Tau kakak?"
"Nggak."
"Ih, aku serius lho kak. Please jangan digituin. Nggak jadi aku cerita ah." Nantha cemberut.
"Ya ya ya. Jangan ngambek dong. Ayo cerita sama kakak. Kenapa rupanya?"
"Ceweknya itu kak Salin, kak?"
Deg
Alister terkejut. Ia membelalakkan matanya. "Salina Xavier? Putrinya tante Sefarina? Kakaknya Nia?"
"Kakak sebutin siapa sih? Mana kenal aku siapa tante dan adik yang kakak sebut. Yang kutau namanya kak Salin. Orang yang kakak cinta."
"Apa? Salina?"
Nantha mengangguk.
"Yang kerja di perusahaan kakak sekarang? Yang suka bikin dompet manik-manik itu?"
"Iya lho, iya."
"Tuh kan," batin Alister. "Alasannya nggak mau dekat sama laki-laki sekarang. Tapi dia malah jalan dengan laki-laki lain. Aku udah lihat dan sekarang Nantha udah lihat juga. Bohong kamu, Lin," imbuh batin Alister.
"Kak " Nantha memukul lengan sang kakak.
"Gimana ciri-ciri cowoknya?" tanya Alister pada akhirnya. ia tak terkejut dengan tepukan sang adik.
"Orangnya....."
Nantha menceritakan ciri-ciri orang yang duduk berdua dengan Salin waktu itu di sebuah restoran.
"Tuh kan, orang yang sama!" pekik Alister.
"Maksudnya kak?"