
"Aku mengaku kalah. Aku udah nggak kuat." Begitu batin Salin. Sudah tak sanggup lagi ia menahan rasa sakit di tangan, wajah dan juga tubuhnya. Kini ia pasrah akan apa yang dilakukan Setu padanya.
Rasanya tak guna lagi memperjuangkan dirinya sendiri, mempertahankan harga dirinya yang sudah diinjak-injak oleh suaminya sendiri. Karena memang ia sudah tak sanggup lagi untuk mengelak. Bahkan suara lembutnya pun tak mampu ia keluarkan. Hanya air mata yang menjadi tempat pemuasannya.
Hingga sampai seluruh dunia gelap. Bumi yang ia pihak seolah berhenti berputar. Ya, Salin pingsan. Tak sadarkan diri. Terbujur di lantai yang dingin itu.
Bug
Bug
"Anda sudah keterlaluan!" pekik seseorang.
"Ini bukan urusan anda. Dia istri saya, saya berhak melakukan apa pun kepada istri saya. Dan anda siapa?" jawab Setu.
"Ya, saya memang bukan siapa-siapa anda maupun istri anda. Tapi saya tidak bisa melihat seseorang berbuat kasar kepada seorang wanita apalagi itu istri anda. Dimana hari nurani anda sebagai manusia?" Pria itu mengepalkan tangannya, geram, marah, kesal dengan Setu yang masih mencoba merasa dirinya tidak salah.
"Sebaiknya urus urusan anda. Dan jangan usik rumah tangga saya!" sergah Setu. Ia menantang lelaki yang mencoba membela Salin itu.
"Saya mengerti. Tapi saya, sebagai lelaki yang punya ibu, yang punya saudari perempuan, saya tidak bisa diam saja melihat anda menyiksa wanita, apalagi itu istri anda. Saya bisa menuntut Anda ke pihak yang berwajib atas dasar kasus KDRT. Dan anda tau, itu sudah ada undang-undangnya," terang pria itu lagi.
"Oh, jadi anda mau jadi pahlawan kesiangan? Siapa anda? HM?"
"Saya...."
"Apa? Anda nggak bisa jawab kan? Sebaliknya Anda akan kena sanksi karena telah ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Anda kan bukan siapa-siapa istri saya," sela Setu.
Puas ia melihat kebungkaman pria yang mencoba membela Salin itu.
Pria itu sadar. Apa yang harus ia jawab. Benar apa kata Setu. Ia tak berhak. Tapi ia tak tahan dengan kekerasan ini. Dan satu hal yang bisa menuntut pria itu adalah si korban itu sendiri. Ya, Salin lah yang bisa menuntut suaminya itu atas tindakan KDRT.
Pertama kali ia melihat Salin kala itu, saat Salin menunggu taksi di pinggir jalan, sambil menenteng map di dalam dekapannya. Ia sungguh penasaran dengan Salin.
Hingga ia sering menunggu Salin di tempat yang sama, tempat pertama kali ia bertemu dengan Salin. Sengaja nanti dia duluan berdiri di sana, berharap bisa bertemu dengan wanita itu. Atau setidaknya melihat wanita itu walau dari jauh.
"Bagaimana aku bisa meyakinkan wanita itu?" batin pria itu.
"Apakah Salin nanti mau mendengarkan aku," batin pria itu lagi.
Ya, pria yang menolong Salin itu bernama Alister. Lengkapnya, Alister Galeh Pratama. Beliau adalah CEO dari sebuah perusahaan yang sangat mendominasi. Yang mengalahkan beberapa perusahaan yang ada di negara ini. Ketenaran dan kesuksesan perusahaannya tentu membuat CEO nya pun di kenal banyak orang.
Alister juga merupakan pemilik mall bahkan toko yang saat ini menjadi tempat Salin mengais rejeki. Gita jugalah yang merekomendasikan Salin untuk bekerja di toko Alister. Dimana Gita adalah sepupu dari Alister.
Jadi perjalanan hidup Salin selama ini, tak luput dari campur tangan Alister dan Gita.
Alister diam-diam selama ini mengawasi Salin. Bahkan ia lancang mencari tau tentang Salin karena ia sangat penasaran. Tak jarang pula Alister melihat luka, lebam atau memar pada dahi, wajah, tangan atau apa saja yang dapat dijangkau oleh penglihatannya.
Hal itu lah yang membuatnya mencaritahu tentang Salin. Di samping ia merasa ada hal aneh terjadi pada dirinya saat pertama kali bertemu dengan wanita itu. Pertemuan yang tak akan pernah jia lupakan seumur hidupnya.
Seorang wanita yang mampu mengalihkan dunianya. Seorang wanita yang mampu menggetarkan hatinya, setelah sekian lama ia patah, jatuh, hancur sehancur-hancurnya karena ditinggal oleh pujaannya beberapa tahun yang lalu.
"Tuan, tolong wanita itu, tuan," ucap seorang wanita. Memecah lamunan Alister.
"Iya, tuan. Tolong Salin. Dia pingsan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," timpal Fradina.
Seketika Alister teringat dengan Salin yang saat ini terbujur di lantai. Gegas ia menghampiri Salin dan membawanya ke rumah sakit. Tak peduli ia dengan Setu yang mencoba menahannya.
Untuk saat ini, keselamatan Salin yang paling utama. Toh nanti ia masih bisa memberi Setu pelajaran, setelah Salin merasa lebih baik.