
Tak ada yang bisa Alister lakukan saat Setu dengan kasarnya menarik paksa pergelangan tangan Salin. Menggeret ia bagai hewan ternak berkaki empat yang harus diikat agar tak berkeliaran.
Alister menyaksikan sendiri, betapa sakit yang dirasakan Salin. Betapa luka yang ia derita. Betapa tak berdayanya Salin dengan suaminya yang kuat itu.
"Lepas, mas!" pekik Salin dengan suara tertahan. Ingin ia meneriakkan makian kepada suaminya. Ingin rasanya ia meneriakkan kepada khalayak kalau suaminya itu adalah lelaki bejat. Yang tak menghargai perempuan.
Tapi ia bisa apa? Tenaganya tak kuat untuk melawan atau menepis dari kekuasaan Setu. Bahkan suaranya tak mampu ia teriakkan dengan lantang. Sungguh ia menyesal dulu tak pernah belajar karate atau pencak silat lainnya agar bisa menghindar dari hal-hal seperti sekarang ini.
Bukan waktu yang tepat pula Salin memikirkan penyesalan karena tak pernah belajar beladiri. Bukan. Tak ada guna saat semuanya sudah terjadi. Ia mengira bahwa Setu adalah pria yang bisa melindungi perempuan.
Terlanjur ia menganggap Setu adakah malaikat tak bersayap untuknya. Nyatanya semuanya bohong, topeng belaka. Yang suatu waktu akan terbuka juga menampilkan aslinya.
"Diam kamu!" hardik Setu. Seolah Salin tak punya hak untuk membela atau meminta pengasihannya.
"Dasar perempuan j*Lang!" makinya dengan kuat. Tanpa memikirkan tatapan orang-orang kepada Salin. Tatapan kebencian karena telah merendahkan harga dirinya sebagai perempuan.
Sementara Alister, sedikit pun pandangannya tak teralihkan dari Salin maupun Setu. Salin yang disakiti tapi dia yang meringis.
Tanpa ia sadari, air matanya telah jatuh. Terkesan cengeng memang tapi mau bagaimana lagi. Tak sanggup ia rasanya menyaksikan seorang perempuan disakiti.
Ia yang merindukan sosok seorang ibu, merasa terluka karena perempuan diperlakukan tidak adil di depan matanya. Walau ia hanya dibesarkan oleh opa dan omanya, tak membuat ia semena-mena terhadap kaum perempuan.
****
"Kenapa sih suka banget buat orang marah? Kenapa suka banget nyari perkara?"
"Suami lagi kerja malah sibuk selingkuh! Perempuan yang nggak beres memang."
Cacian dan makian serta hinaan, lagi lagi harus ia terima dari ibu mertuanya sendiri. Seolah dirinya bukanlah perempuan. Tak sedikit pun ia memposisikan drinya sebagai Salin.
"Ibu mendukungmu, nak. Istri seperti ini sangat pantas kaku beri hukuman agar ia sadar dimana posisinya sebenarnya."
Rasa-rasanya tak ada guna untuk menyuarakan pembelaan terhadap diri sendiri. Percuma! Tidak akan ada artinya di hadapan Setu dan ibunya itu. Oleh karena itu Salin pasrah. Yang paling penting saat ini dan benar-benar harus ia pikirkan adalah bagaimana merekam semua kejahatan yang Setu dan ibunya lakukan kepadanya agar kelak bisa menguatkan saat ia melaporkan pada pihak yang berwajib.
Ya, semakin mantap hati Salin untuk melaporkan Setu pada pihak yang berwajib. Rasanya ia sudah tak kuat lagi kalau harus mendapatkan siksaan batin dan raga seperti ini dalam kurun waktu yang tidak jarang. Sering atau bahkan nyaris setiap hari.
Benar apa kata Alister, dulu saja Salin malah mati-matian menjadi pembela seorang wanita yang diperkirakan secara tidak adil oleh suaminya. Kenapa ia tak melakukan itu pada dirinya sendiri.
Bruk
Tanpa ba bi bu, Salin terjatuh ke lantai dan pingsan. Membuat Setu dan ibunya menghentikan sementara penyiksaan terhadap Salin.
"Lihat tuh, Bu. Dia sudah pingsan. Percuma kita marah-marah lagi sama dia. Buang-buang tenaga. Orangnya juga nggak akan dengar," tegas Setu.
"Hah? Pingsan? Gitu aja pingsan?" cibir ibu Sirlina.
Gitu aja katanya? Astaga, terbuat dari sapa sih sebenarnya hati ibu Sirlina ini? Menantunya pingsan bukannya di tolong malah dibilang gitu saja pingsan. Ckckck. Sungguh terlalu.
****
"Bisa kita ketemu, Ter?"
"Bisa. Kenapa, Lin? Apa suami kamu menyiksamu lagi? Lalu apa kamu baik-baik saja?"
Begitu kagetnya Alister siang itu saat tiba-tiba Salin menelpon dirinya. Sudah hampir sebulan usai ia bertukar nomor ponsel dengan Salin. Sudah hampir sebulan juga ia tak pernah bertemu dengan Salin lagi. Bahkan memang ia tau Salin tak pernah keluar rumah lagi. Bahkan telponnya diabaikan oleh Salin. Chat darinya juga tak pernah mendapat balasan. Membuat Alister takut.
Maka hari ini, saat Salin menghubunginya, ia sangat bersemangat. Kasih dering pendek ponselnya berbunyi sudah langsung ia angkat.
"Aku baik. Sebaiknya nanti saja aku ceritakan semuanya. Sekarang aku ingin kita ketemu. Ada yang ingin aku bicarakan ke kamu. Penting dan urgen."
"Suamimu gimana? Apa memberimu ijin?" tanya Alister waspada.
"Dia sedang tak ada di mansion. Dia sedang pergi dengan selingkuhannya dan ibu mertuaku juga sedang pergi arisan."
"Kalau gitu ku jemput ya?"
"Nggak usah. Aku nggak mau tetangga berpikiran yang tidak-tidak nanti. Sekarang bilang saja dimana kita ketemunya? Kalau bisa carilah tempat yang cocok yang nggak mungkin mudah dijangkau oleh mas Setu."
"Baiklah. Baiklah. Aku ada rekomendasi tempat. Aku akan share lock ke kamu sekarang."
"Ya sudah. Aku siap-siap dulu," ucap Salin mengakhiri obrolannya segera sambil menunggu share lock dari Alister ia bersiap-siap.
Salin dikejar oleh waktu. Jangan sampai Setu dan ibu mertuanya pulang, tak mendapati ia berada di rumah Berabe. Akan jadi korban kekerasan lagi nanti tubuh Salin. Dan tentunya dihiasi dengan makian, cacian, kemarahan dari ibu Sirlina.