Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan



Salin menggeleng mendengar pertanyaan dari pria yang bernama Alister itu. Suatu keajaiban bagi Salin karena Alister berhasil menemukan keberadaannya.


"Ter, awas!"


Salin memekik. Spontan Alister menghindar. Ternyata, si sopir taksi tadi ingin memukul Alister dengan sebuah besi panjang. Entah dari mana ia dapat itu.


Untung saja Alister segera menghindar. Kalau tidak, kepalanya bisa bocor akibat terkena besi itu.


Terjadilah adu kekuatan di lorong sepi dan sempit itu. Sementara Salin hanya bisa berdoa dalam hati. Memohon agar Alister bisa melawan pria yang arogan seperti sopir taksi itu. Ia mencari posisi yang aman untuknya. Yang masih bisa ia jangkau bagaimana sengitnya perang itu.


Perkelahian sengit itu memakan waktu yang bisa dibilang lumayan lama. Tetapi masih saja seimbang. Belum ada yang bisa menjatuhkan lawan.


Hingga akhirnya, sopir taksi itu pun jatuh ke tanah. Ia berada dalam genggaman Alister sekarang.


"Katakan, apa alasan kamu membawa kabur Salin?" tanya Alister pada pria itu. Tangan sopir taksi itu ia pelintir ke belakang. Sementara wajahnya menyentuh tanah.


"Katakan!" Alister murka dengan kebisuan pria itu.


"Bagaimana bisa kamu menemukan dia. Apa kamu mengenalnya? Kamu pernah diusiknya? Katakan!"


Lelaki itu masih diam. Ia hanya meringis menahan sakit pada kedua tangannya. Ditambah lagi wajahnya yang sudah kotor akibat mencium tanah itu. Ingin ia kabur, tapi tak bisa. Ia sudah kalah. Memang ia tak bisa bela diri.


Tapi karena ia ingat uang itu, ia pun mencoba melawan Alister. Karena menurutnya Alister tidak bisa apa-apa. Hanya anak kemarin sore yang tidak bisa berkelahi. Yang hanya bisa pamer bak pahlawan kesiangan.


Nyatanya, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Malah dia yang kalah jauh dengan Alister. Ternyata, kekuatan otot karena uang akan kalah dengan dia hang punya keahlian dalam bela diri. Meski ia kerahkan seluruh tenaganya, nyatanya ia tetap kalah.


"Jawab!" pekik Alister sembari menarik keras kedua tangannya. Sudahlah dipelintir, ditarik pula. Berlipat gandalah sakit yang dirasakan sopir taksi itu.


"Ma-maafkan sa-saya, tu-tuan. Sa-saya hanya disuruh." Akhirnya keluarlah kalimat pengakuan dari mulut pria itu. Meski terbata, tapi cukup jelas bagi Alister.


Salin pun mendekati mereka, karena melihat bahwa sopir taksi itu yang kalah, makanya ia berani.


"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Alister lagi. Ia sudah mengurangi cengkeramannya pada pria itu. Ia tau, pasti lelaki itu melakukannya demi uang.


"No-no-nona Rebecca, tuan."


Nah kan, kecurigaan Alister benar. Rebecca lah dalang dibalik semua ini. Alister sudah menduganya. Manusia seperti Rebecca tidak akan menyerah begitu saja. Meski ia sudah melakukan banyak cara, jika belum berhasil maka ia tidak akan diam saja.


Kemudian, Alister membiarkan lelaki itu bebas. Setelah mereka membicarakan suatu hal. Alister berjanji, ia akan membayarnya lebih jika pria itu mau membantunya.


"Ini, sebagai bayaran pertamamu. Tugasmu di sini adakah hanya mengawasi dia. Memata-matai dia dan merekam semua apa yang ia lakukan. Bila perlu, kamu teror dia. Kita harus mencari bukti sebanyak-banyaknya agar ia tidak bisa berkutik," ucap Alister. Menerangkan tugas sopir taksi itu padanya.


Berlagak lah jika kamu dengannya satu tim. Agar kamu bisa tau semua hal tentangnya. Untuk bisa mengetahui rencana musuh, kita harus dekat dengannya. Menjadi teman baiknya."


"Baik, tuan," sahut pria itu.


Ternganga ia melihat uang yang sangat banyak yang diberikan Alister padanya. Jauh berbeda jumlahnya dengan yang diberikan Rebecca.


Lelaki itu senang. Ia akan membawa pulang uang ini untuk biaya hidupnya dan ibunya di rumah. Ia akan mengeluarkan ibunya dari rumah sakit jiwa dan membayar semua biaya yang tidak bisa ia tangani selama ini.


"Maafkan saya, tuan. Saya sudah mencoba macam-macam dengan kekasih tuan. Mulai sekarang, saya akan mengikuti apa saja yang tuan perintahkan."


"Hmmm," jawab Alister. Hanya itu yang ia ucapkan. Tapi senyum di bibirnya cukup menjadi bukti bahwa ia senang. Ia bahagia, karena sopir taksi itu mengatakan bahwa Salin adalah kekasihnya.


"Lain kali, kalau saya melihat kamu seperti ini lagi, kepada siapa saja, bukan hanya telinga mu yang hilang. Tapi nyawa akan saya hilangkan juga, lalu saya buang tubuhmu ke jurang. Setuju?"


Sopir taksi itu menoleh pada Salin.


"Maafkan saya, nona. Saya sudah membuat anda ketakutan. Kalau anda ingin, silakan pukul saya. Balas semua apa yang sudah saya lakukan kepada anda."


Salin hanya geleng-geleng kepala.


"Apakah nona tidak mau memaafkan saya? Saya melakukan ini semua karena terpaksa. Ibu saya sedang berada di rumah sakit jiwa sekarang. Saya ingin membebaskannya. Saya ingin menebus semua biaya yang tertunggak selama ini. Maafkan saya, nona."


Salin mengangguk.


"Kenapa ibumu masuk rumah sakit jiwa?" tanya Salin kepo.


"Ceritanya panjang, nona. Intinya, ayah saya tidak terima saya di PHK. Lalu ia memasukkan ibu ke rumah sakit jiwa dengan alasan tak sanggup membiayai ibu. Padahal honor saya selama bekerja, saya setor semuanya kepada ibu. Dan ibu memberikan semuanya kepada bapak."


Mata Salin berembun. Sedih ia mendengar cerita pilu dari sopir taksi itu. Ternyata kisah hidup ibunya sangat menyedihkan. Dimana seorang suami, tega memasukkan istrinya ke dalam rumah sakit jiwa dengan alasan tidak sanggup membiayai hidupnya.


"Sudah ceritanya? Kamu tidak lihat kekasih saya hampir saja menangis karena ulah kamu?" tuding Alister.


"Maafkan saya, tuan. Kalau begitu saya permisi. Saya mau bertemu dengan ibu saya."


"Oh ya, tuan saya harus memanggil anda apa? Dan.... bagaimana saya harus menghubungi tuan untuk semua rencana ini?"


"Kamu baru sadar? Terlalu asyik kamu bercerita kepada kekasihku sampai kamu nggak ingat tanya namaku. Kamu tertarik dengan wanita cantik ini?"


"Ti-tidak, tuan. Bukan begitu maksud saya. Tadi, saya hanya...."


"Sudahlah. Terlalu banyak kamu cerita. Katanya mau menemui ibumu. Ya sudah sana!" omel Alister, seraya menyodorkan kartu namanya kepada pria itu.


"Simpan ini baik-baik. Jangan sampai hilang!" ucapnya kemudian.


"Baik, tuan. Trimakasih. Kalau begitu saya permisi, tuan." Lelaki itu menunduk hormat.


"Mari, nona." Ia pun menunduk pada Salin.


Salin dan Alister menatap kepergian lelaki itu. Yang semakin lama semakin menghilang dibalik tembok.


"Masih mau di sini?" tanya Alister, membayarkan kebisuan Salin.


"Ya nggaklah. Ngapain juga aku di sini?"


"Siapa tau ya kan. Ya udah, yok pulang. Tante dan om pasti nungguin kamu. Belum lagi si...."


"Siapa?"


"Itulah. Si cerewet Nia."


Salin tersenyum mendengar julukan yang diberikan Alister pada adiknya. Ia senang karena Alister dan Stephania dekat.


"Dia nggak cerewet. Dia kalem kok "


"Iya kalem. Kalau baru ketemu. Setelah udah lama kenal, kalemnya hilang, barbarnya yang semakin menonjol."


"Dasar," ucap Salin sembari menoel pinggang Alister. Membuat Alister kegelian.