
"Oke. Nanti kakak jemput ya. Kamu siap-siap. Kira-kira jam tujuh malam kakak datang."
"Oke deh, kak. Aku tunggu."
"Nan..."
"Iya, kak."
"Kamu dandan yang cantik ya."
"Hah?"
"Bukan hah. Tapi ya. Pokoknya kamu dandan yang cantik. Pakai baju yang kamu sukai. Kalau bisa warna biru karena itu warna kesukaan kakak."
"Ya tapi, buat apa kak? Emangnya kita mau kemana?"
"Ada deh. Kakak mau kasih surprise buat kamu. Dan kakak yakin kalau kamu pasti akan suka."
"Emangnya kemana sih, kak?"
"Nanti kamu akan tau. Kalau kakak bilang sekarang, itu mamanya bukan lagi kejutan. Tapi pemberitahuan."
"Iya iya. Bawel banget sih. Udah ya, kak. Nantha masih ada kelas."
"Iya, sayang."
Deg
Dengan tangan yang masih menggenggam smartphonenya, masih telponan dengan Ardan, Nantha terkejut mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Ardan.
Baru kali ini ia dipanggil sayang oleh lelaki selain papa, opa dan kakak sepupunya.
Debaran jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Untung saja itu hanya lewat telpon. Coba kalau bertatap muka, entah bagaimana cara Nantha menghadapi pria yang berjarak delapan tahun dengannya itu.
Hampir menyerupai Alister usia Ardan. Hanya saja Ardan lebih tua, selisih dua tahun.
"Nan..." panggil Ardan lembut.
Seketika ia tersadar bahwa sedari tadi Nantha tak bersuara. Ia pun baru sadar kalau Nantha tak merespon ucapannya.
"Nan ..." panggil Ardan lagi.
Tetapi Nantha masih saja sibuk dengan kebisuannya.
"Agnesrani Anantha Pradina." Seseorang memanggil namanya dengan lengkap.
"Iya, kak. Kenapa?" pekiknya bercampur kaget.
Seluruh kelas otomatis perhatiannya fokus kepada Nantha yang tiba-tiba memekik entah pada siapa. Sementara guru sedang sibuk memberi penjelasan pemecahan soal di depan kelas.
"Kakak? Sejak kapan kamu memanggil saya kakak?"
"P-p-pak Paul?"
Ya, orang yang memanggil nama Nantha dengan lengkap adalah bapak Paul. Guru fisika di sekolah Nantha.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya pak Paul lagi. Matanya menatap tangan Nantha yang masih menggenggam ponsel, sedang telponan.
"A-a-anu, pak. Nantha... Nantha..." Nantha bingung harus menjawab apa. Tak ada kata di dalam benaknya yang ia ingin sampaikan kepada guru fisikanya itu.
Ardan yang berada di balik telpon, hanya bisa tersenyum mendengar semuanya. Teringat ia dengan masa-masa sekolahnya dulu.
"Sini hp kamu!" titah pak Paul.
"Buat apa, pak?" Nantha bertanya dengan polosnya.
"Ponsel kamu, akan bapak tahan. Sini!"
"Ja-jangan dong, pak. Nanti kalau bapak tahan, gimana saya mau ketemuan sama pacar saya? Saya sudah janjian dengannya, pak," rengek Nantha.
"Huuuuu." Begitu sorak protes dari teman-teman Nantha satu kelas.
"Saya tidak menerima alasan apapun. Sekarang pilih, kasih hp ke saya atau saya akan laporkan kamu ke bapak kepala sekolah supaya menahan hp kamu selama berada di sekolah. Artinya, kamu tidak boleh memegang ponsel selama di sekolah."
"Jangan dong, pak. Kasihani saya dong, pak. Kami belum jadian. Nanti kalau bapak kepala sekolah yang megang, yang ada saya patah hati, pak. Saya sedih, pak. Nanti nggak bisa video call dengan ayang beb."
Turut
Ardan pun memutuskan panggilan itu pada akhirnya. Karena ujungnya nanti itu ponsel akan ditahan oleh pak Paul, guru fisika Nantha.
****
"Ardan."
"Iya, pa."
Ardan menghentikan aktivitasnya di depan laptop. Ia menemukan control + s, lalu fokus kepada sang papa.
"Ada apa, pa?"
"Perusahaan cabang yang di Kalimantan sedang ada masalah. Butuh kita untuk menghandle agar kembali berolahraga seperti biasa. Apakah kamu bersedia untuk menanganinya?"
Papa Sande langsung bertanya to the point.
"Di sana kan ada pak Denri, pa yang mengurus perusahaan selama ini. Memangnya beliau tidak bisa, pa?"
"Nggak bisa, nak. Pak Denri sudah berusaha, tetapi para pemegang saham inginnya salah satu dari kita ada di sana. Kalau nggak, mereka akan membatalkan investasinya dengan perusahaan itu. Kamu mau karyawan disana kena PHK semua kalau perusahaannya tutup?"
"Nggak lah, pa. Kasihan mereka."
"Makanya itu, papa mau kamu yang pergi. Kalau papa sudah nggak mungkin. Kamu tau kondisi papa sekarang. Sudah tak kuat lagi untuk perjalanan jauh."
"Ya sudah kalau begitu. Buat Ardan saja yang pergi. Kapan, pa kira-kira?"
"Malam nanti jam 7. Papa sudah mengatur semuanya. Termasuk orang yang akan menjemput kamu di bandara. Mereka sudah menyiapkan tempat untuk kamu nanti menginap di sana?" terang papa Sande panjang lebar.
"Menginap?" tanya Ardan kemudian. "Kapan, pa? Dan berapa lama?"
"Lho, tadi kan sudah papa bilang jam 7. Kenapa nanya lagi?"
Papa Sande menepuk pundak anaknya itu.
"Kamu menginap sesuai kondisi perusahaan itu saja. Kalau semuanya sudah stabil dan normal kembali, kamu bisa pulang. Nanti berkabar saja, papa akan mengatur segalanya."
"Dan kalau disana nanti kamu menemukan kesulitan, kamu boleh bertanya ke papa. Ponsel papa on selama dua puluh empat jam."
"Baik, pa." Akhirnya Ardan mengiyakan titah sang papa.
"Kalau begitu, Ardan siap-siap dulu ya, pa."
"Iya, nak." Papa Sande mengangguk kepada anaknya itu.
Papa Sande tersenyum penuh arti kepada putranya itu. Ia tau, Ardan adalah anak yang baik dan penurut. Selama ia hidup belum pernah sekalipun Ardan melawan terhadapnya. Belum pernah ia menentang perintah papa Sande.
"Ardan, apa yang papa lakukan adalah yang terbaik untukmu. Kamu akan berterimakasih kepada papa nantinya setelah kamu pulang dari Kalimantan," gumam papa Sande di dalam hatinya.
"Ya sudah. Papa keluar ya. Kamu siap-siap. Bawa semua berkas dan pakaian yang kamu perlukan. Supaya nanti nggak kerepotan. Kamu kan nggak bawa asisten. Atau perlu asisten?"
"Nggak usah, pa. Ardan bisa sendiri." Tolak Ardan dengan cepat. "Ardan bisa handle sendiri, pa."
"Okelah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan ya, nak. Papa doakan semoga semuanya lancar."
Papa Sande menepuk-nepuk punggung putranya itu. Kemudian, ia berlalu meninggalkan Ardan yang masih setia di meja kerjanya.
Sejak kepergian Nia dan bibi Sefarina, Ardan lebih suka berkutat di meja kerjanya. Mencari kesibukan agar tak merasa kesepian. Bahkan sering kerjaan kantor ia bawa ke rumah.
Kembali ia menatap pada layar benda persegi panjangnya itu.
"Semoga kalian senang dengan nama ini. Dan semoga, papa berubah hatinya untuk kalian berdua, adik-adikku. Di mataku, kalian berdua adalah sama. Orang yang kakak sangat cintai," gumam Ardan.
Sekarang gantian, fokus netranya saat ini adalah memandang pigura yang ada diatas mejanya. Ada gambar Salin, Nia dan Ardan di dalam bingkai itu.
"Kakak berharap kita bisa berkumpul kembali seperti dulu. Ada bibi, papa, Salin dan Nia," ucapnya lagi.
Ardan sangat berharap kondisi keluarganya segera membaik. Bersatu kembali seperti sediakala.
Saking sibuknya ia dengan pikirannya, ia tidak mengingat janjinya malam ini untuk bertemu dengan Nantha. Memberikan surprise untuk gadis itu.