
"Dimana aku?" ucap wanita itu lemah. Matanya masih terpejam. Tetapi ia merasakan tubuhnya lemah, kepalanya pusing dan ia merasa udara dalam ruangan ini begitu dingin.
Perlahan ia membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar berwarna putih lalu, ia melirik ke samping, tembok dengan cat putih itu.
"Sudah bangun, nona?"
Suara bariton mengejutkannya. Ia langsung menoleh ke arah suara itu. Menghentikan aktivitasnya untuk menelusuri ruangan itu.
"Siapa anda? Dan..... dimana aku? Kenapa kamu bersama saya?"
"Maaf nona. Sebaiknya ada jangan terlalu bergerak dulu. Kondisi anda belum baik-baik saja," ucap pria itu lembut.
"Aku... aku merasa tidak apa-apa. Dan kenapa.. "
"Anda sedang berada di rumah sakit, nona. Dokter mengatakan kalau anda harus banyak beristirahat."
Salin mencoba mengingat segala yang terjadi padanya. Seketika ia sadar. Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Tapi kepalanya masih agak sedikit pusing.
"Nona, anda mau kemana?" tanya pria yang bernama Alister itu.
Ia melihat Salin menyibakkan selimut biru itu. Lalu hendak menurunkan kakinya dari ranjang pasien itu.
"Aku mau pulang."
"Tapi, nona anda belum pulih. Dokter belum memberi ijin anda untuk pulang. Anda masih butuh penanganan."
"Aku mau pulang. Kalau aku nggak pulang, takutnya.... suamiku....khawatir. Aku nggak mau kalau sampai ia cemas."
Salin berucap dengan terbata. Ia bermaksud menutupi apa yang terjadi dengan dirinya pada orang lain. Tapi tidak bagi Alister. Ia sudah tau semua.
Segala kesengsaraan yang dialami Salin, segala kekejaman yang dilakukan suaminya padanya. Ia sungguh sungguh iba. Di jaman sekarang ini, masih saja ada seorang suami yang sesuka hati melakukan KDRT kepada istrinya.
"Tapi, nona anda belum diijinkan pulang. Anda harus istirahat sampai pulih."
"Maaf. Anda tidak berhak melarang saya. Saya permisi," ucap Salin dingin.
Alister yang mendengar itu kicep. Tak bisa berkata apa-apa. Karena yang Salin katakan benar. Tapi ia merasa sakit saat Salin menolak bantuannya. Menolak perhatiannya.
"Saya hanya ingin yang terbaik bagi anda nona, karena anda pantas mendapatkannya," ucap Alister lagi. Saat Salin hendak keluar dari pintu ruangan itu.
"Saya yang tau mana yang terbaik buat saya. Anda tidak tau apa-apa. Karena anda, bukan siapa-siapa saya," sahut Salin masih dingin, sembari berjalan meninggalkan Alister yang masih terpaku di dalam ruangan itu.
Rasanya semakin terluka hatinya saat ada seseorang yang mengatakan hal itu padanya. Entah mengapa, Alister merasa ada perasaan lain saat bertemu dengan Salin. Ada hal misterius yang membuat Alister nyaman dekat dengannya.
Tak ingin terjadi sesuatu pada Salin, Alister memutuskan untuk mengikutinya dari jauh. Tentu tanpa Salin ketahui. Dari jauh, ia ikuti jejak wanita itu. Wanita yang membuat ia penasaran. Bahkan pekerjaannya ia serahkan pada asistennya.
Alister memperhatikan Salin yang nyaris saya terjatuh, tapi ia bisa melihat Salin bangkit lagi dengan perlahan. Sampai akhirnya Salin menaiki taksi yang baru saja ia berhentikan.
"Senggaknya aku masih bisa melihatnya berdiri tegak," batin Alister.
****
"Kamu kenapa sih pulang marah-marah?"
"Memang ibu salah sama kamu? Apa salah ibu?"
"Kenapa kamu nggak kerja? Kenapa malah udah pulang jam segini?"
"Ibu bisa nggak sih jangan banyak tanya. Aku lagi capek, Bu. Aku lelah," omel Setu.
"Kenapa sih kamu malah ngomel sama ibu. Apa ibu salah bertanya pada anaknya?" omel ibu Sirlina balik.
Setu pun terdiam.
"Maaf, Bu," lirihnya.