
"Cerita kamu yang kemarin masih menggantung. Bersediakah dirimu untuk membaginya denganku?" Alister menagih cerita yang masih menggantung beberapa hari yang lalu, sebelum Salin menghilang, lebih tepatnya bersembunyi.
"Yang mana?" tanya Salin tidak mengerti. Karena memang sama sekali tidak ada dalam benaknya ia ingat. Tak tau ia apa maksud dari pertanyaan Alister.
"Tentang seseorang yang mencoba melecehkan kamu saat kamu duduk di bangku kelas satu SMA."
Salin teringat dengan kisah yang nyaris saja melecehkan dia, kemarin. Ia pula teringat dengan kata-katanya yang hampir saja menceritakan kisah kelamnya di masa lalu. Dan sekarang, Alister menuntut hal tersebut. Dia ingin tau.
Flashback on
"Mira, ayo kita les sore. Brother pasti udah nungguin kita di kelas. Bangunlah!"
Aku menggoyang-goyangkan tubuh Mira, teman se kamarku. Kebetulan kami tinggal di asrama yang sama. Sekolah tersebut memang memiliki asrama. Karena semua yang tinggal di sana berasal dari daerah yang berbeda dan jauh pula.
"Aku malas, Sal. Ngantuk. Kamu aja deh," sahut Mira dengan nada malas. Suaranya serak khas mengantuk aku dengar.
Tinggal di asrama memang harus ikut aturan. Dimana dari mulai jam satu tiga puluh harus istirahat. Dan pada jam tiga sore mengikuti les sesuai dengan minat dan bakat siswa-siswi yang ada di sekolah tersebut.
Karena Mira tak mau bangun dan tak mau les sore, akhirnya aku mengajak temanku yang lain. Tapi semua sama. Tidak ada yang mau les sore itu. Entah kenapa dengan mereka hari itu. Kenapa semuanya serentak tidak mau les sore.
Karena aku suka dengan bahasa Inggris, aku pun memutuskan untuk pergi les meski seorang diri. Aku berharap temannya yang laki-laki sudah hadir di sana. Agar aku punya teman.
"Selamat sore, brother!" sapa ku pada guru les bahasa Inggris tersebut. Brother Daniel namnya.
"Selamat sore, Lin. Biasakan kalau kita masuk les selalu menggunakan bahasa Inggris ya. Jadi percakapan kita dari awal hingga akhir les ini menggunakan bahasa Inggris. Paham?"
"Yes, brother," jawabku patuh.
Brother Daniel memutuskan untuk menunggu teman-temanku yang lain. Aku sudah cerita pada brother Daniel kalau teman-temanku yang perempuan tidak ada yang datang.
Menunggu selama lima belas menit bukanlah waktu yang singkat bagiku. Karena les sore hanya dua jam. Kalau menunggu terlalu lama aku nanti dapat apa. Semakin tipis waktuku untuk belajar bahasa Inggris.
"Ya sudah. Kita mulai saja," ucap brother Daniel dengan bahasa Inggris.
Kebetulan materi bahasa Inggris hari itu adalah penggunaan verb 1 dan verb 2.
Usai memberi penjelasan dan latihan, brother Daniel memberi tugas padaku. Sepuluh soal. Katanya harus selesai dalam waktu 30 menit.
Dengan semangat aku mengerjakan latihan yang diberikan brother Daniel. Bagiku, itu tidaklah sulit. Kalau kita mengikutinya serius dari awal maka akan mudah mengerjakannya.
"Sudah selesai?" tanya brother Daniel menggunakan bahasa Inggris. Waktu baru sepuluh menit berlalu.
"Belum, brother sedikit lagi," jawabku sambil menulis dengan serius. Hanya tusukan-tusukan pen ku yang terdengar di ruangan itu. Kebetulan aku menggunakan huruf braille. Aku bisa tulisan latin, tapi aku juga bisa tulisan braille. Aku suka huruf braille.
Saat aku serius mengerjakan soal ke delapan, aku melihat brother Daniel mendekat ke arahku. Terdengar jelas di telingaku suara sepatunya. Brother Daniel orangnya tinggi. Itu yang masih bisa kusimpulkan.
"Mudah kok, brother," jawabku sambil sibuk dengan tugasku.
"Bisa kamu ajarin brother?" tanyanya lagi.
"Oh. Tentu saja, brother. Bisa kok," jawabku dengan polos. Aku tahu sebagian orang takut dengan huruf ini. Takut mempelajari karena susah katanya sih. Teman-temanku yang sekolah di inklusi pun begitu. Apalagi guru-gurunya.
"Coba, gimana caranya?" tanya brother Daniel lagi.
Aku merasa ada yang aneh. Dia duduk di bangku, bangku yang sama denganku. Kami satu bangku. Padahal itu bangku untuk satu orang. Kalau untuk dua bisa tapi duduknya tidak akan nyaman.
"Yang di sebelah kanan titik satu, dua, tiga namnya. Dan di sebelah kiri titik empat, lima dan enam namnya. Karena huruf braille itu berasal dari keenam titik tersebut," ucapku menerangkan.
Begitulah aku menjelaskan titik-titik yang ada pada riglet, alat untuk menulis braille. Dimana riglet berisi lubang-lubangnya yang terdiri dari enam lubang dan pen adalah pakunya. Yang digunakan untuk menusuk kertas yang sudah dilekatkan pada riglet tersebut.
Aku merasa semakin tidak nyaman. Ia duduk semakin menempel padaku. Aku bisa merasakan kalau aku hampir saja mau jatuh dari bangkuku.
Kemudian, tangannya yang kekar dan panjang merangkul pundak ku. Aku merasa itu hal biasa. Antara guru dan murid. Tapi yang jadi masalah adalah dia laki-laki sementara aku perempuan. Layakkah seorang guru laki-laki bertindak seperti itu?
Akupun masih fokus mengajarkan huruf-huruf braille itu pada brother Daniel. Sampai-sampai aku menulis, mempraktekkan padanya bagiamana cara menulis huruf tersebut dengan menggunakan riglet dan pen itu.
"Kenapa harus enam titik?" tanya brother Daniel padaku. Aku bisa merasakan napasnya yang mengendus di leherku. Semakin aneh rasanya.
Tangannya sudah melingkar di pinggangku. Aku gemetar karena ketakutan. Aku harus apa? Jika aku menepis dia akan marah padaku. Secara dia kan guruku, orang yang harus aku hormati. Tapi aku nggak nyaman dengan itu.
Ketika dia merangkul perutku, aku merasa ada sesuatu yang menegang di bawah sana,p tepat mengenai boko*gku. Aku merasa semakin aneh dan semakin ketakutan. Peluh bercucuran sampai membasahi rambutku, wajahku bahkan juga tubuhku.
"Aku harus bagaimana?" tanyaku dalam hati. Aku berdoa kepada Tuhan agar membalikkan hati guru lesku tersebut. Agar ia tidak berbuat suatu hal yang membuat aku takut dan trauma.
Semakin lama kuraskaan dekapannya semakin erat. Napasnya semakin memburu di leherku. Kemudian, ia mengurai dekapan itu dan kini tangannya sudah berpindah pada rambutku yang panjang.
Kebetulan, aku mengikat rambutku ke atas tinggi-tinggi.
Puas ia membelai surai ku yang panjang dan hitam, kini tangan brother Daniel pindah pada belakang telingaku. Juga tengkuk ku ia usap-usap. Perlahan dengan pasti. Aku semakin ketakutan. Lagi lagi aku bingung tak tau harus berbuat apa.
"Brother, tolong jangan seperti ini. Ini tidak benar. Aku adalah muridmu dan brother adalah guruku. Orang yang pantas aku hormati. Tapi ..."
Aku mencoba memberanikan diri untuk berucap. Berharap dapat mengalihkan fokusnya yang sedang sibuk sedari tadi.
"Nggak apa-apa. Aku nggak akan melukaimu."
Brother Daniel bahkan menyebutkan dirinya sebagai aku, seolah ia sedang berbicara dengan temannya.