
Suasana dalam ruang tamu diselimuti oleh sepi. Tak ada suara. Bahkan dia yang tadi ingin bicara serius dengan kedua orang tuanya belum memulai juga pembicaraan tersebut.
Papa Sande dan mama Sefarina tatap-tatapan. Sebuah kode agar salah satu diantara mereka meminta Stephania untuk memulai pembicaraan yang ia inginkan tadi. Mereka bahkan sambil senggol-senggolan. Sambil menunjuk satu sama lain agar ia yang meminta Stephania untuk bicara.
"Mama aja," bisik papa Sande sambil menyenggol lengan mama Sefarina.
"Papa aja," sahut mama Sefarina berbisik pula. Menghindar dari senggolan suaminya. Tingkah Meraka lucu. Bak anak ABG yang saling tuduh menuduh dalam suatu masalah. Seolah diantaranya ada yang berbuat salah. Dan tak mau disalahkan.
"Pa, ma."
Akhirnya Stephania buka suara juga. Yang sudah ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri itu sedari tadi.
"Iya, sayang," sahut mama Sefarina lembut.
Sementara papa Sande hanya menoleh ke arah putri bungsunya itu. Ia sudah menyiapkan hatinya akan apa yang akan disampaikan oleh putrinya itu kepada mereka. Ia yakin bahwa Stephania akan membasahi tentang kuliahnya ke luar negeri yang tinggal menghitung hari lagi.
"Nia memutuskan untuk....."
"Tuh kan benar. Nia benar-benar akan pergi. Oh Tuhan, kuatkan aku jika memang harus jauh dari anakku," batin mama Sefarina.
"Pergilah, nak. Raihlah mimpimu. Carilah kebahagiaan mu," batin papa Sande.
Pasangan suami istri itu sudah sibuk dengan isi hati mereka. Padahal belum seutuhnya mereka mendengar apa yang akan disampaikan Stephania pada mereka.
"Nia memutuskan untuk melanjutkan kuliah Nia di...."
"Iya, sayang. Mama dan papa mendukung mu. Pergilah, nak. Kita akan selalu berdoa dimana pun kamu berada. Yang penting kamu serius dengan kuliah kamu, jaga kesehatan dan jangan telat makan."
"Iya, nak. Papa harap kamu baik-baik saja di negeri orang. Pandai-pandailah menjaga diri. Jangan terpengaruh dengan pergaulan mereka yang terlalu bebas. Jangan ikutan teman-teman mu yang bertingkah negatif. Papa tau, hidup di negeri orang itu tidaklah mudah. Dimana harus bisa menyesuaikan diri dengan semuanya. Makanannya, budaya berpakaiannya, budaya pergaulannya dan buaya lainnya."
"Papa yakin kok. Putri kecil papa ini adalah anak yang bijak dan dewasa. Papa yakin kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Selalu berkabar ya, nak sama papa dan mama!"
Lagi lagi, pasangan suami istri itu sudah menyela ucapan Stephania. Belum juga Stephania menyelesaikan kalimatnya, mereka sudah bicara panjang lebar. Membuat kesimpulan tanpa tau apa yang akan disampaikan oleh putri bungsunya itu.
Di tengah keseriusan mereka, terdengar langkah kaki mendekati ruangan itu. Mereka yakin bahwa itu adalah Salin.
"Mama, papa. Sedang apa? Kok serius banget? Ada Nia lagi. Kamu udah pulang sekolah Nia? Kalian lagi bicara apa sih? Kok pas aku masuk tiba-tiba diam?"
Ya benar. Yang datang adalah Salin. Dan dia langsung menjejali mereka dengan pertanyaan. Belum juga ia duduk.
"Duduk dulu, sayang," ajak mama Sefarina. "Sini," katanya sambil menjulurkan tangannya meraih tangan Salin untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Ada apa sih, ma?" tanya Salin lagi. Feeling-nya merasa ada sesuatu yang terjadi. Tapi entah apa, ia belum bisa menebak. Ia juga tak dapat menebak dari mimik wajah kedua orang tuanya.
"Nia adik kamu. Dia akan melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Jadi, dia mau minta ijin sama mama dan papa," jawab mama Sefarina mewakili papa Sande.
"Oh itu. Kalau itu mah Lin udah tau ma, pa. Adik aku yang satu ini memang pintar. Ia lulus tanpa tes di universitas luar negeri. Bergengsi lagi. Saingannya berat semua. Tapi kamu berhasil, sayang. Kakak bangga sama kamu. Mungkin kamulah yang akan membawa nama baik keluarga ini. Mengangkat derajat mama dan papa nantinya," ucap Salin sembari tersenyum.
Tak ada luka dalam kalimat itu. Tak ada pula rasa iri dan dengki dalam setiap ucapan itu. Apalagi dLM senyum itu. Itu adalah senyum tulus yang ia persembahkan untuk sang adik.
Yang ada hanya doa terbaik untuk keberlangsungan pendidikan Stephania di negeri orang. Ia bangga terhadap kecerdasan dan kedewasaan yang dimiliki sang adik.
Dimana sekarang, Stephania bukan lagi gadis yang suka marah-marah bila segala sesuatu yang terjadi tidak sesuai ekspektasinya. Ia tak marah lagi bila papanya mengingatkan akan dirinya. Ia bahkan kerap berkata dewasa terhadap orang lain.
"Kakak ngomong apa sih? Lebai deh. Kakak adalah panutan Nia. Nia menjadikan kakak sebagai contoh dalam kehidupan Nia. Makasih ya kak sudah jadi kakak yang baik buat Nia. Karena kakak, Nia sekarang lebih bersyukur atas apa yang Nia punya."
"Nia lebih bisa menikmati hidup. Menjalani hidup sesuai dengan kaidahnya. Benar kata kakak, tidak perlu kita harus menjadi seseorang yang disukai orang lain. Cukup menjadi diri sendiri dan melakukan semuanya sesuai dengan hati."
Mama Sefarina terharu melihat putri-putrinya itu. Yang tumbuh dengan baik dan dewasa sampai sejauh ini. Ia tak menyangka ia akan melahirkan anak sebaik mereka. Entah karena didikan mereka atau karena lingkungan. Atau memang karena keduanya terlahir sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.
"Jadi, kapan kamu akan pergi?"
Deg.
Pertanyaan Salin cukup mengejutkan pasangan suami istri itu. Walau mereka sudah mempersiapkan diri yakin nyatanya mereka masih sedih.
"Sebenarnya Nia nggak jadi pergi, kak."
"Apa?" tanya ketiganya secara bersamaan.
"Nggak jadi pergi gimana?" tanya papa Sande.
"Iya, sayang. Maksud kamu nggak jadi pergi kemana? Nggak jadi kuliah?" timpal mama Sefarina.
"Iya, dek. Kenapa nggak jadi? Masalahnya apa? Kan kamu sudah lulus."
Begitulah Meraka bertiga, sangat antusias bertanya kenapa Stephania membatalkan kepergiannya.
"Nia tetap kuliah kok. Tapi di sini saja. Tidak keluar negeri. Nia sudah membatalkan pendidikan Nia ke luar negeri. Nia nggak mau jauh dari papa, mama dan kak Salin. Nia mau tinggal bersama-sama dengan orang yang Nia sayang. Yang Nia cintai."
"Jadi, kamu tidak jadi pergi, nak?" tanya papa Sande mewakili ketiganya.
"Iya, pa. Nia tidak jadi pergi. Dari tadi Nia mau jelasin ke papa dan mama tapi papa dan mama malah menyela duluan. Ya sudah, Nia biarkan saja papa, mama dan kak Salin mengungkap dulu keputusannya melepaskan kepergian aku. Dan ternyata semuanya senang aku pergi," ucap Stephania pura-pura cemberut.
"Bu-bukan begitu, sayang. Papa dan mama hanya ingin mensupport kamu. Ingin yang terbaik untuk kamu, sesuai mau kamu asal kamu bahagia."
Mama Sefarina langsung menyela. Ia tak ingin putrinya itu beranggapan yang tidak-tidak tentang mereka.