
Satu tahun kemudian.....
Salina Xavier berjalan melewati lorong gedung perusahaan tersebut. Penolakan terhadap lamanya waktu itu membuatnya menyesal. Karena ja telah mendengar kabar bahwa Alister telah menikah. Selama setahun ini, mereka sama sekali tidak ada berkomunikasi.
Salin tau, Alister mengalami patah hati akibat penolakannya waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa bertemu dengan Alister dan meminta maaf padanya. Mengakui kesalahannya yang telah menolak pria itu.
Dan sekarang, hanya pil pahit yang bisa ia telan. Orang yang mencintainya dan yang dia cintai telah jadi milik orang lain.
"Salin!"
Seseorang memanggil namanya beberapa kali, tapi tidak didengarnya. Karena ja sibuk melamun sambil berjalan.
"Ibu Salin, anda dipanggil." Begitulah petugas kebersihan di kantor itu memberitahu kepadanya. Kebetulan memang Salin melewati dirinya.
"Saya?" tanya Salin pada petugas tersebut.
"Iya, bu. Pak Alister memanggil anda. Beliau sedang berada di belakang anda," jawab petugas tersebut.
Salin langsung mematung. Ia terkejut sekaligus bahagia. Karena bisa bertemu kembali dengan pria yang pernah ia tolak lamarannya.
"Untuk apa aku bahagia? Dia kan sudah menikah," batin Salin.
"Trimakasih, pak," ucapnya pada petugas tersebut.
"Sama-sama."
Salin melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Ia tak ingin menemui pria itu. Ia malu. Walau ia rindu tapi ia tidak ingin. Ia akan sedih bila harus melihat Alister bersama dengan wanita yang menjadi istrinya itu.
Hingga sekarang ini ia sudah duduk di kursi kebesarannya. Sedang sibuk mengerjakan sesuatu dengan serius.
Beberapa saat kemudian, usai ia melakukan tugasnya dan kebetulan juga ini adalah jam istirahat siang yang artinya seluruh karyawan yang ada di perusahaan itu akan makan siang. Tak terkecuali Salin.
Lagi lagi ia harus kesepian karena tidak ada yang menemaninya untuk makan siang di kantin perusahaan. Bukannya mereka tidak mau menemani Salin, tapi Salin yang tidak mau. Karena mereka semua bersama dengan pasangannya. Hanya dia yang single.
Tetapi karena sudah biasa ia menjalaninya, ya dijalani saja dengan santai. Sudah menjadi rutinitas juga.
Sesampainya di kantin.
"Sayang, yang benar dong makannya!"
Salin mendengar suara wanita asing yang ada di kantin itu. Suara itu tak kenal ia. Ia sudah mengenal suara karyawan wanita yang ada di dalam perusahaan itu. Tapi suara ibu, belum pernah ia dengar.
"Sini, biar daddy yang Gending," sahut suara lelaki.
Suara lelaki itu adalah suara Alister. Salin yakin seribu persen.
Sahutan dari Alister tadi mendapat respon dari bayi yang sedang digendong oleh ibunya. Ia meengiveh dengan tidak jelas. Ocehan bayi yang sangat menggemaskan.
"Kamu kenapa rewel, sayang sama ibu?" ucap Alister lagi. Ia menoel-noel pipi chubby bayi laki-laki tersebut.
"Udah, kamu makan biar daddy yang gendong dedeknya. Makanlah, biar ASI-nya lancar. Biar dedek banyak stoknya," ujar Alister kemudian.
Salin menyaksikan dan mendengarkan semua itu. Karena ia berjalan mendekati mereka. Ya Salin bisa melihat dengan jelas bagaimana keromantisan dan keharmonisan keluarga kecil itu.
"Jadi benar, Alister sudah menikah? Ia sudah punya anak?" tanya Salin dalam hatinya.
Selama ini ia memang sudah mendengar kabar jika Alister telah menikah. Tetapi dalam hati ia berharap kalau itu semua hanya berita burung. Dan ternyata memang benar, Alister telah menikah dan bahkan sudah memiliki anak.
Salin berbalik. Harapannya untuk bersama dengan Alister pupus sudah. Pria itu sudah ada yang memiliki dan sudah sah di mata hukum dan agama.
Salin menangis. Banyak rasa yang bergelut dalam hatinya sekarang. Sedih karena kehilangan orang yang ia cintai, telah dimiliki wanita lain. Menyesal karena tak menerima lamarannya dulu.
Sakit yang Salin rasakan sekarang. Menyesal ia pula. Malu ia pula. Ia ingin segera pergi dari sana. Meninggalkan mereka yang telah membuat ia luka dan sakit hati.
"Salin!"
Suara itu memanggilnya. Ya, Alister memanggil namanya. Tetapi Salin masih membisu. Ia bahkan tak menoleh ke sumber suara itu. Ia kesal, marah, malu, menyesal dan kecewa. Berbaur semuanya menjadi satu. Maka ia tak punya muka untuk menatap pria itu.
"Salin, apa kamu mau bertemu dengan saya?"
"Tidak. Saya mau makan siang." Salin menjawab dengan ketusnya.
"Lalu kenapa berbalik? Masih banyak tuh tempat duduk yang kosong," sahut Alister.
"Saya sudah kenyang. Oh ya, selamat ya atas pernikahan mu. Dan selama juga karena kamu sudah punya anak," ucap Salin tergesa-gesa. Ia sudah tidak kuat berada di sana.
"Trimakasih. Tapi...."
"Semoga rumah tanggamu bahagia. Salam untuk istri dan anakmu," ucap Salin lagi dengan nada tidak ikhlas. Ia langsung berjalan meninggalkan Alister.
"Dia bukan istriku dan aku belum punya anak," seru Alister dengan suara memekik. Membuat penghuni kantin menoleh ke arahnya. Mereka pun penasaran atas apa yang terjadi dengan CEO perusahaan tersebut.
Salin langsung menghentikan langkahnya. Ia sangat terkejut dengan ucapan Alister barusan.
"Kamu jangan seperti itu, Ter. Jangan melukai hati istri kamu dengan tidak mengakuinya. Bagaimana pun kalian sudah memiliki anak. Di luar sana, banyak orang yang tidak memiliki anak. Sementara kamu, menolak anak tersebut." Salin mencerca Alister dengan banyak kata.
Alister. tersenyum atas tuduhan Salin tersebut. Ia pun berjalan mendekati wanita itu.
"Nyatanya, aku belum menikah, Lin. Aku masih menunggumu. Dan ternyata aku berhasil membuat kamu cemburu dan mengakui bahwa kamu kehilangan diriku."
Jantung Salin, berdebar kencang mendengar pengakuan dari Alister.
"Aku di sini, Lin. Aku tidak kemana-mana. Isu yang kamu dengar bahwa aku telah menikah itu bohong. Itu prank. Aku hanya ingin tau benar atau tidak kamu mencintai aku. Dan sekarang aku tau bahwa kamu mencintai aku. Aku senang sekali."
Tepuk tangan riuh dari seisi kantin menjadi musik latar belakang obrolan pasangan serasi itu. Mereka semua bersorak atas apa yang baru saja Alister ucapkan.
"Maka di sini sekali lagi. Dengan mereka sebagai saksi, aku akan mengulang kembali melamar kamu. Bersediakah kamu untuk menikah dengan ku?"
Hening. Suara riuh, sorak Sorai tadi hilang ditelan sepi ruangan itu. Sementara Salin ternganga dengan apa yang ia dengar barusan. Ia serasa mimpi. Namun tidak mau lagi jatuh ke lubang yang sama. Menyesal karena telah menolak lamaran pria yang tulus mencintai dirinya. Menerima ia dalam kekurangan dan kelebihannya.
"Terima... Terima.... Terima...."
Begitu ucapan serentak dari penghuni kantin perusahaan.
"Iya, kak. Terima!" ujar Nantha dengan suara memekik.
"Iya, kak. Terima!" ucap Stephania lagi dengan suara memekik.
Walau hampir tenggelam suara kedua gadis itu tapi Salin bisa mendengarnya.
"Salin, papa dan mama merestui kalian. Berbahagialah, putriku," ucap papa Sande menggunakan pengeras suara.
Salin terharu. Ia mendapat kejutan yang sangat besar hari ini. Kejutan yang tidak pernah ia duga selama ini. Ternyata keluarganya dengan keluarga Alister telah bekerjasama. Merencanakan semuanya ini dengan matang. Sukses membuat Salin meneteskan air mata, namun bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan.
"Yes, i Will."
Jawaban Salin barusan sukses membuat orang-orang yang ada di sana baper. Kemudian disambut oleh teluk tangan riuh dari mereka semuanya.
"Ulurkan tangan mu, jika kamu menerima aku," ucap Alister lagi.
Tanpa pikir panjang, Salin mengulurkan tangannya.
Begitulah lamaran itu berlangsung, hingga sampai pada dimana Alister menyematkan cincin pernikahan di jari manis wanita itu. Bukan lagi cincin tunangan atau cincin lamaran.
"Aku akan menikah denganmu hari ini juga. Semuanya sudah dipersiapkan. Kamu tidak boleh lagi menolak."
Lagi lagi, air mata Salin menetes.
"Jangan menangis, sayang. Ini hari bahagia kita," ucap Alister, mengusap air mata yang jatuh di pipi mulus wanita itu.
Lalu, mereka berdua pun berpelukan.
"Cium....cium....cium...."
...TAMAT...