
"Salin... Tunggu!" jerit Alister. Ia mengejar langkah Salin yang sudah menjauh. Ia baru tersadar dari kebodohannya. Setelah ia sadar Salin sudah tak ada di dekatnya.
"Tunggu, Lin," pekiknya lagu. Ia bahkan mempercepat langkahnya demi bisa menyamakan langkah dengan Salin.
"Aku minta maaf, Lin. Aku nggak ada maksud untuk berkata seperti tadi." Alister berusaha menjelaskan. Bahkan ia mencoba meraih tangan Salin walau salin menepisnya dengan kasar.
Alister tak ingin menyerah begitu saja. Ia tak mau kehilangan Salin. Ia tak mau Salin menjauh darinya.
"Aku minta maaf, Lin," ujarnya di hadapan Salin. Ia bahkan berlutut di depan Salin sampai Salin tak bisa melangkah maju.
"Aku mohon, Lin maafkan aku. Tadi aku hanya salah ucap. Itu nggak benar, Lin. Aku hanya asal ngomong.
Alister bermohon di kaki Salin. Tentu Salin kaget dengan sikap Alister. Belum lagi tatapan orang-orang yang lalu lalang pada mereka. Seolah Salin adalah wanita kejam yang tak mau memaafkan pasangannya.
"Tega banget ya itu perempuan. Sampai berlutut gitu kekasihnya bukannya di maafkan."
"Iya benar. Jadi turun harga diri pasangannya."
"Kayak suci aja dia."
"Iya, kayak nggak pernah melakukan kesalahan dia itu perempuan."
Begitulah cibiran-cibiran yang Salin dengar dari orang-orang yang melintas di dekat mereka.
Tak tahan di tatap dan dituduh bagai ratu tega, Salin pun meminta Alister untuk berdiri.
"Apa yang kamu lakukan, Ter? Berdiri kamu! Orang-orang mengira bahwa aku yang jahat. Padahal kamu yang sudah memanfaatkan saya," sinis Salin. Ia meraih dengan kasar lengan Alister agar berdiri.
"Aku nggak akan bangun, Lin sebelum aku kamu maafin. Aku nggak akan bangun sebelum kamu lupain ucapan ngawur aku tadi. Anggaplah itu tak pernah ada, Lin. Aku mohon," ucap Alister memelas.
Bagai anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada ibunya. Begitu Salin menilai Alister saat ini.
Dengan terpaksa ia pun memaafkan Alister.
"Iya," jawabnya dengan berat hati. Masih marah sebenarnya pada lelaki itu. Tapi ya sudahlah. Dia yang orangnya memang mudah memaafkan orang.
"Iya apa?" tanya Alister ingin memastikan.
"Iya. Aku maafin," ucap Salin dengan mengeratkan giginya.
Saking senangnya Alister bahkan sampai terlonjak. "Trimakasih, Lin," ujarnya tersenyum.
Mereka berdua pun akhirnya berjalan beriringan.
"Untuk apa?" Salin mengernyit.
"Untuk...." Alister memikirkan alasan yang tepat.
"Kan kita ada misi rahasia. Nggak lucu aja kalau aku nggak ada kontakmu. Nanti kalau ada apa-apa gimana aku kabari ke kamu?"
"Oh," ucap Salin polos.
Mereka pun bertukar nomor ponsel.
"Jadi begini kamu di luaran hah? Katanya kerja, tapi nyatanya malah mesra-mesraan sama lelaki lain. Perempuan macam apa kamu?" pekik seorang pria dengan suara menggelegar. Membuat Salin dan Alister terkejut. Hampir saja ponsel Salin terjatuh kalau tidak segera di tangkap oleh Alister.
Ya, Setu tiba-tiba muncul diantara mereka yang sedang bertukar nomor ponsel tersebut.
"M-mas Setu?"
"Kenapa? Kaget? Takut ketahuan? Mau mengelak? Percuma. Udah kepergok," hardik Setu.
"Ini nggak seperti yang mas lihat. Saya bisa jelasin," ucap Salin. Mencoba meyakinkan Setu bahwa apa yang ia lihat tak seperti kenyataannya.
"Apa? Masih mau mengelak? Hmm?"
Setu mengeraskan rahang dan memelototkan mata pada Salin.
"Apa yang mau kamu jelasin? Sudah terpampang nyata di depan mata masih mau mengelak?"
Mendengar suara ribut-ribut, orang-orang yang berlalu-lalang jadinya fokus pada Salin, Setu dan Alister. Bahkan ada yang mencibir Salin. Menuduh Salin yang bukan-bukan.
Bahkan ada yang mengaitkan kejadian saat Alister bersujud tadi dengan apa yang Setu lakukan sekarang.
Hinaan, cacian, dan makian terhadap Salin lengkap sudah dari orang-orang yang ada disana. Seenaknya neraka menghakimi Salin tanpa bertanya bagaimana kejadian yang sebenarnya.
"Ini perempuan apaan sih? Berapa lelaki yang sudah ia mainkan?"
"Cih, kayak piala bergilir."
"Sok laris ya itu cewek."
Banyak lagi cibiran-cibiran dari orang-orang yang menyaksikan antara Setu, Salin dan Alister. Salin hanya bisa tersenyum getir dengan ocehan mereka.