Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan



Tok tok tok


Ditengah obrolan serius mereka siang ini, tiba-tiba suara pintu di ketuk terdengar dari luar. Memaksa kedua insan itu menghentikan obrolannya.


"Siapa, nak? Siang-siang gini bertamu? Apa Salin?"


"Entahlah, Bu. Setu juga nggak tau."


"Ya udah, bukain gih."


"Males Bu ih. Ibu ajalah yang buka "


"Mager banget ibu Setu. Kamu bukain dong Susah banget sih. Ini ibu udah pewe nih."


"Pewe apaan?" Alis setu memiliki ke atas.


"Posisi wenak. Nggak enak dong kalau harus gerak. Bisa nanti nggak pewe lagi."


"Udahlah Bu, perkara buka pintu aja panjang banget bahasannya. Suruh bibi ajalah."


"Bibi.... bibi...."


"Eh, kamu lupa kalau kemarin bibi sudah mengundurkan diri?"


Ibu Sirlina mengingatkan pada anaknya kalau kemarin si bibi, asisten rumah tangga mereka sudah sudah mengundurkan diri. Alasannya entah apa, ibu Sirlina lupa.


"Oh iya. Ya udah ah," ucapnya pasrah. Dengan langkah berat, ia menyeret juga langkahnya menggapai pintu yang masih diketuk.


"Iya! Nggak sabaran banget sih?" gerutu Setu sambil membuka pintu kayu mahal itu.


"Siapa kamu? Ada apa bertamu siang-siang?"


"Oh, ini pak. Ada paket surat untuk bapak."


Setu mengernyit. Surat? Di jaman gadget seperti ini masih ada surat? Nggak ada ponsel?" masih gerutu Setu.


"Tolong tanda tangannya, pak," ujar sang pengantar surat.


"Untuk apa? Nggak ada pulpen saya."


"Buat bukti, pak. Kalau bapak sudah menerima paket suaranya. Supaya nanti ada pertanggungjawaban saya ke kantor. Ini penanya, pak."


Kurir itu pun menyodorkan benda kecil itu pada ke hadapan Setu. Dengan berat hati Setu pun menerimanya.


"Di bagian mana?"


"Di sini, pak," tunjuk sang kurir.


"Trimakasih banyak ya, pak. Permisi."


Usai selesai dengan urusannya, sang kurir pamit setelah membereskan bawannya. Tentu senyumnya tak lupa ia kembangkan sebagai bentuk tata krama sesuai semboyan perusahaan.


"Apa itu? Paket dari siapa itu? Paket apa?" tanya ibu Sirlina kepo.


"Ibu mah kemal."


"Kemal?" Alisnya menilik tajam. Ia tak mengerti apa arti ucapan Setu barusan.


"Kepo maksimal. Emang hanya ibu saja yang bisa bahasa jaman sekarang. Setu juga bisa. Ibu jangan lupa kalau Setu adalah anak jaman now. Bukan kayak ibu anak jaman old." Celetukan Setu memuat ibu Sirlina mencibir.


"Tunggu... Itu surat ya? Surat dari siapa?"


"Nggak tau, Bu. Setu juga heran jaman sekarang masih ada kirim-kiriman surat."


"Ya udah buruan buka. Ngapain masih dipelototin?"


Tersadar dengan tingkahnya, Setu pun membuka amplop coklat yang mirip seperti amplop melamar kerja itu.


Dengan hati-hati ia membuka amplop itu dana mengeluarkan isinya. Sebuah kertas yang berisi tulisan dengan rapi. Dan berlogo. Bukan surat pribadi seperti yang ia prediksi.


"Kenapa, nak?" tanya ibu Sirlina heran. Agak lain menurutnya tingkah Setu.


"Ada surat, Bu. Surat dari pengadilan."


"Pengadilan? Surat apa? Nak, kamu nggak bunuh orang kan? Kamu nggak mencuri kan? Kamu nggak korupsi kan?" tukas ibu Sirlina dengan banyak pertanyaan.


"Ya elah ibu. Parnoan banget. Ya nggak lah. Setu kan anak baik-baik. Nggak mungkinlah Setu ada kasus kayak gitu. Ibu mah terlalu tinggi khayalannya."


"Ya kan siapa tau. Ibu kan nggak tau kamu diluaran sana gimana," cicit ibu Sirlina.


Setu bahkan tak mendengar lagu apa kata ibunya. Dia sedang fokus membaca surat yang baru saja ia terima.. Serius sekali ia membaca surat itu. Bahkan se kata saja tak ia lewatkan.


"Bu..." lirihnya nyaris tak terdengar.


"Kamu ngomong apa, nak kok ibu nggak dengar? Kayak kumur-kumur."


"Salin menggugat cerai aku, Bu."


"Apa? Salin menggugat cerai kamu?" beo ibu Sirlina. Bahkan ia Samapi memekik. "Nggak mungkin," sangkalnya tak percaya.


"Kamu pasti bohongi"


"Ibu coba baca biar percaya sama Setu."


Setu pun menyodorkan surat itu pada ibu Sirlina agar dapat dengan jelas ibunya itu tau, ibunya itu baca apa isi surat itu.


Karena ketidak yakinannya, ibu Sirlina pun menerima uluran surat itu. Lalu membacanya dengan seksama. Sama seperti Setu, tak se kata pun ia lewatkan tulisan itu.


"Hmmm, ini kesempatan bagus buat kamu. Adukan dia pada mamanya dan juga papanya. Lalu ceritakan mengenai perselingkuhannya dengan lelaki itu. Kemudian bilang kalau Salin yang sudah menggugat cerai dirimu," ucap ibu Sirlina bersemangat.


"Selama ini kan alasan kamu untuk tidak menceraikannya kan karena penyakit ibunya. Nah sekarang, dia sendiri yang gugat cerai kamu. Jadi lebih baik, lakukan apa yang ibu bilang. Dan bawa Weni ke rumah ini. Ibu sudah kebelet nimang cucu," imbuhnya sambil tersenyum membayangkan akan menggendong seorang cucu laki-laki.


Ya, apa yang dikatakan ibu Sirlina benar. Selama ia enggan rasanya dari mulut Setu melontarkan kata cerai. Tapi hari ini, ia digugat cerai langsung oleh istrinya sendiri. Walau sebenarnya namanya jadi tersoorot karena kejadian ini, dan ia mendapat cibiran karena membiarkan istrinya dengan pebinor, ia tak peduli.


****


"Eh, nak Setu. Apa kabar?"


"Kabar baik, ma. Mama apa kabar?" Begitu pun Setu berbasa basi pada mama mertuanya itu.


"Salin mana? Kok nggak itu?"


"A-anu, ma. Setu justru da-datang ke sini mau bertemu dengan Salin. Apa Salin datang ke sini Bu?" Setu menyisiri ruangan dengan hazel matanya. Mencari sosok Salin walau ia tau takkan mungkin ada di rumah ini.


"Kalian bertengkar?" tanya mama Sefarina mulai panik.


"Sebenarnya begini, Bu "


Setu mulai bercerita. Menjelaskan setiap detail peristiwa. Semua yang Salin lakukan yang menurut Setu dialah yang benar, ia jabarkan semuanya. Bahkan kata provokasi dan seolah dia adalah manusia tersakiti ia sertakan.


"Jadi, kami sudah cerai, ma."


"Apa? Kalian sudah bercerai? Siapa yang menceraikan siapa?"


Mama Sefarina sudah mulai panik. Ia tak percaya begitu saja. Karena ia mendengar sendiri dengan telinganya sendiri, dulu saat Salin menikah berjanji padanya kalau Salin tidak akan pernah berpisah dari Setu.


Salina Xavier adalah seseorang yang menjunjung tradisi, adat atau aturan dalam agama. Dalam keturunan dan agama mereka, tak ada yang namanya perceraian. Hanya kematian yang bisa memisahkan kedua insan yang sudah menyatu dalam tali pernikahan.


"Salina Xavier yang menceraikan saya ke pengadilan agama, ma," terang Setu lagi.


Hal itu semakin membuat mama Sefarina sesak, kesal, emosi, marah, berpadu menjadi satu. Ia menjadi linglung tak tau lagi ia harus berkata apa. Satu-satunya yang ada dalam benaknya adalah kata cerai. Kata yang selalu ia hindari selama ini hingga ia berpuluh-puluh tahun sudah menikah dengan Sande Devaro.


"Siapa yang bercerai?" ucap suara bass tiba-tiba.


Bersamaan dengan suara itu, mama Sefarina kehilangan keseimbangan hingga akhirnya ia terjatuh di lantai. Setu tak menyadari itu karena fokusnya teralihkan pada suara bass yang tiba-tiba terdengar.