
"Mau sampai kapan kamu akan menutupi jati diriku yang sebenarnya?"
"Aku nggak mau dia tau dari mulut ku, paman. Biarlah ia tau dengan sendirinya."
"Hmmm." Lelaki itu menghela napas. "Terserah pada mu lah," ucapnya pada akhirnya.
Ya, beliau adalah paman Alister. Yang bernama Aaron Alaric Pratama. Apa dari Pradina. Yang Salin tau, Aaron adalah CEO di perusahaan ini. Sementara identitas Alister yang sebenarnya ia tak tau. Bahkan, yang ia pikir Alister tidak satu perasaan dengannya.
Tok tok tok
Di tengah obrolan mereka yang tidak terlalu serius, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk!" titah Alister dari dalam. Tanpa basa-basi.
"Ada apa?" tanya Alister dingin. Bahkan tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu ruangannya.
"Paman langsung saja ya. Paman akan bicara dengannya mengenai yang kita bahas tadi," ujar Aaron meminta undur diri.
"Selamat bersenang-senang dengan si masa lalu," bisiknya ke telinga Alister. Bahkan ia membuat telapak tangannya untuk menutupi apa yang ia ucapkan tidak bisa dibaca oleh orang lain yang ada di dalam ruangan itu.
Mendengar pamannya menyebut si masa lalu, reflek dahi Alister berkerut. Entah berapa banyak kerutan yang terlukis di dahinya itu.
"Biasa aja," ujar sang paman sambil berlalu. Bahkan sang paman tak peduli dengan orang yang baru masuk ruangan itu.
Merasa penasaran dengan ucapan sang paman, Alister pun mencoba meletakkan penanya di samping berkas yang sedang ia tandatangani. Lalu menutup map yang baru saja ia baca.
"Dia," gumamnya.
Alangkah terkejutnya ia melihat seorang wanita berdiri tegap di hadapannya. Wanita cantik dengan memakai dress dan make up yang tidak terlalu mencolok. Sangat pas sekali dengan warna kulitnya. Membuat wanita itu terlihat anggun, cantik dan mempesona.
Tap tap tap
Seseorang berlari menghampiri Alister tanpa mengetuk pintu. Napasnya ngos-ngosan.
"Maaf, tuan. Saya sudah melarangnya untuk masuk tapi... nona ini tetap ngotot. Bahkan saya sampai lecet karena ia dorong, tuan," adunya pada bosnya itu.
Alister menatap resepsionis itu dingin. Membuat Erika, sang resepsionis takut. Tatap maut yang begitu tajam, itulah sebutan Erika terhadap tatapan Alister. Seolah ingin membunuhnya.
"Bawa dia dari ruangan saya!" titah Alister tegas. Tak ingin dibantah.
"Mari, nona," ucap Erika. ia menatap wanita itu dengan tatapan memelas. Memohon agar mau diajak kerja sama.
"Saya tidak akan keluar!" ucap wanita itu dengan tegas juga.
Di sini Erika bingung, mau mendengarkan bosnya atau wanita itu. Meski ia sudah berusaha untuk menarik wanita itu tapi ia gagal. Dengan kasar bahkan wanita itu menepisnya. Ia bisa lepas dari perempuan bernama Erika, walau Erika lebih tinggi darinya.
"Security!" pekik Alister.
Suaranya sangat menggelegar. Membuat Erika terkejut. Pertama kali ia melihat dan mendengar bosnya berteriak marah seperti itu. Selama ini yang melekat di hati Erika adalah Alister si pria dingin, kaku dan cuek.
Tap tap tap
"Iya, pak," jawab security yang juga berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang bos.
"Seret wanita ini dari ruangan saya. Saya tidak mau ada dia disini. Bila perlu, hempaskan ia dari perusahaan saya. Saya tidak terima alasan apapun!" hardik Alister.
Dapat Erika dan security itu lihat bahwa Alister sangat benci kepada wanita itu. Wajahnya bahkan sudah memerah.
"Siapa kamu!" hardik wanita itu.
Sang security menelan saliva nya dengan kasar, susah payah.
"Berani kamu menyentuh saya, saya laporkan kamu ke polisi atas tindakan pelecehan!" ancamnya kepada security itu.
Mendengar ancaman dari wanita itu, security yang bernama Dadang itu, mematung seketika. Darahnya berdesir. Susah payah ia menelan saliva nya. Seram rasanya ia mendengar ancaman dari wanita itu.
"Saya tidak takut," ucap pak security. Ia mencoba berani menghadapi wanita yang ia tak tau itu siapa. Beda halnya dengan Erika. Ia tau wanita itu. Makanya ia takut bila sampai wanita itu mengancamnya juga.
"Tapi nona anda tidak...."
"Kamu juga. Berani memerintah saya, akan saya laporkan kamu karena kamu melarang saya bertemu dengan suami saya!"
Belum selesai Erika dengan kata-katanya, wanita itu bahkan sudah mengancam nya juga.
Sama seperti security tadi, Erika pun mematung di tempat. Ia merapatkan dirinya pada Dadang, karena merasa mereka berdua sama-sama terintimidasi oleh wanita itu.
Sejujurnya Arika lebih takut dengan ancaman Alister. Bisa hilang pekerjaan ia jika sampai Alister yang berkata. Tetapi sejauh ini Alister masih diam. Namun matanya menatap tajam ke arah luar. Entah apa yang ia lihat di sana.
"Berani sekali kau mengatur karyawan saya? Siapa kamu? Istri kamu bilang?" hardik Alister.
"Dadang, Erika, keluar dari ruangan saya!" titah Alister pada akhirnya pada dia bawahannya itu.
Alister tak ingin karyawannya menjadi bulan-bulanan wanita yang sangat ia tak inginkan kehadirannya lagi di dalam hidupnya walau sedetikpun.
"Baik, tuan," ucap keduanya menunduk.
"Erika," panggil Alister tegas.
Erika yang hampir saja menghilang di balik pintu, mendengar namanya di sebut, spontan berhenti. Bahkan ia mundur beberapa langkah agar dapat mendengar bos nya ingin bicara apa padanya.
"Bilang sama OB, jangan lupa minuman seperti biasa!" titah Alister to the point.
"Baik, tuan."
Otomatis pintu tertutup setelah keduanya meninggalkan ruangan itu. Entah Erika atau Dadang yang sengaja menarik pintu itu agar tertutup.
Menyadari ruangan sudah sepi begini, wanita itu pun beraksi. Ia berlari menghambur ke dalam pelukan Alister. Ia memeluk Alister dari belakang. Memeluknya dengan sangat erat.
"Apa kabarmu, sayang?" ujar wanita itu manja.
"Tak rindukah kamu padaku, honey?"
"Aku kangen banget sama kamu. Tiap hari aku selalu teringat denganmu. Terbayang akan kisah kita."
Wanita itu mengusap-usap dada Alister dari belakang. Alister diam saja, seperti batu yang diterpa angin, hujan dan matahari. Tak ada reaksi apapun.
Karena tak ada respon dari Alister, wanita itu semakin membelai dada bidang itu. Bahkan ia membuka beberapa kancing kemeja Alister, agar tangan mungilnya bisa masuk, menerobos roti sobek yang tersembunyi di dalam sana.
"Masih ingat kan kita kala itu? Menghabiskan waktu seharian di kolam renang. Kenangan yang tak akan pernah bisa ku lupakan. Oh, sayang, aku kangen banget. Kita ulang lagi ya kenangan itu?"
Wanita itu mencoba merayu, memperdengarkan suara desahannya kepada Alister, berharap Alister akan tergoda. Dan rencananya akan berhasil untuk kembali kepada lelaki itu. Lelaki masa lalunya, yang sangat ia cintai, yang tak akan pernah bisa ja lupakan.