
Setelah itu, para tetua sekte langsung meninggalkan aula utama, karena sudah tidak ada lagi yang ingin mereka bahas, mereka juga tidak ingin berlama-lama melihat wajah Yin Feng.
Tidak lama setelah para tetua meninggalkan aula, Yin Feng juga ikut keluar dari aula tersebut, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa Yin Feng benar-benar sangat marah.
"Guru, aku harus..."
"Pergilah, pastikan calon suamimu itu tidak mengamuk dan menghancurkan sekte ini."
"Baik, guru!" ujar Duan Ling, lalu menyusul Yin Feng.
Untuk menenangkan dirinya, Yin Feng pergi ke halaman belakang kediaman Zhu Guang, kemudian duduk bermeditasi di bawah salah satu pohon yang cukup rindang.
Duan Ling menghela napas lega saat melihat Yin Feng yang sedang bermeditasi. Kemudian, ia menghampiri Yin Feng dan langsung duduk di sebelahnya.
"Apa kau masih marah?" tanya Duan Ling sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Yin Feng.
"Aku minta maaf, seharusnya aku menceritakan masalah ini padamu terlebih dahulu."
"Hahh..." Yin Feng menghela napas panjang dan membuka matanya, "kau tidak salah, kenapa malah minta maaf?"
"Aku merasa bersalah, jadi sudah seharusnya aku minta maaf."
"Sudahlah, permintaan maafmu ini hanya akan membuatku semakin membenci mereka" sahut Yin Feng.
"Kenapa kau begitu peduli padaku?" tanya Duan Ling.
Pertanyaan sederhana itu membuat Yin Feng diam membisu, tidak peduli seberapa keras ia berpikir, jawaban dari pertanyaan itu tetap tidak bisa ditemukan.
Yin Feng sendiri juga tidak mengerti kenapa ia sangat peduli pada Duan Ling, padahal mereka belum menikah namun sikapnya sudah seperti seorang suami yang menjaga istrinya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu apa alasannya" jawab Yin Feng.
"Benarkah?"
Yin Feng mengangguk pelan, "aku hanya tidak suka saat mendengar mereka merendahkan dirimu."
Duan Ling tersenyum lembut, "aku sudah mendapatkan jawabannya."
"Benarkah? Apa itu?"
"Akan kuberi tahu jika kau memenangkan turnamen itu."
"Baiklah, pastikan kau tidak mengingkari ucapanmu ini."
Keduanya terus mengobrol hingga malam tiba, dan obrolan mereka berdua-pun berakhir karena Duan Ling sudah terlelap dalam kehangatan dari pelukan Yin Feng.
Sementara Yin Feng, ia terjaga sepanjang malam dan tidak pernah melepaskan Duan Ling dari pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa gadis itu adalah miliknya seorang.
***
Dua hari kemudian.
Waktu yang dijanjikan telah tiba, seluruh murid sekte Pilar Cahaya kini tengah berkumpul di arena turnamen untuk menyaksikan pertarungan antar jenius yang ingin merebut hati Duan Ling.
Selain ingin menyaksikan pertarungan para jenius, mereka juga ingin memanfaatkan turnamen itu untuk meraup keuntungan dengan cara melakukan taruhan.
Selain para murid, semua orang yang merupakan bagian dari sekte Pilar Cahaya juga ikut menyaksikan acara turnamen itu, dan pastinya juga ikut memasang taruhan.
Tidak lama berselang, Zhu Guang dan para tetua datang ke arena turnamen, suasana yang awalnya sangat ramai, dalam sekejap langsung berubah menjadi hening.
Zhu Guang selaku pemimpin sekte kemudian naik ke atas arena, lalu menjelaskan beberapa aturan dalam turnamen, salah satunya adalah dilarang untuk saling membunuh.
Tidak hanya itu saja, Zhu Guang juga memperkenalkan Yin Feng kepada semua murid sekte, serta memberitahu mereka tentang hubungan Yin Feng dan Duan Ling.
Kabar ini sontak membuat para murid sekte menjadi heboh, namun Zhu Guang berhasil menenangkan mereka semua dengan cara melepaskan sedikit aura kekuatannya.
Tepat setelah Zhu Guang menyelesaikan ucapannya, Yin Feng yang semula duduk di sebelah Duan Ling tiba-tiba saja melompat naik ke atas arena pertarungan.
"Yin Feng, sekarang bukan giliranmu" ucap Zhu Guang.
Yin Feng mengabaikan perkataan Zhu Guang, tatapan matanya tertuju pada para peserta turnamen. "Majulah, aku menantang kalian semua!" ujarnya.
Kesombongan Yin Feng ini berhasil memancing amarah semua orang, namun ia tidak menghiraukan apa yang mereka katakan dan tetap ingin menantang semua peserta.
Zhu Guang yang bertindak sebagai wasit berusaha untuk menghentikan Yin Feng, namun para tetua justru menghentikannya, bahkan setuju dengan keinginan Yin Feng.
Pada akhirnya, Zhu Guang juga ikut setuju dengan keinginan Yin Feng, namun ia tetap memperingati Yin Feng agar menahan dirinya dan tidak membunuh para peserta.
"Hahh... Semoga saja mata kalian bisa terbuka setelah ini" gumam Zhu Guang.
Setelah Zhu Guang turun, para peserta turnamen pun naik ke atas arena. Tempat yang cukup luas itu hampir penuh dan hanya menyisakan sedikit jarak antara Yin Feng dan para peserta.
"Kami tidak tahu apa tujuanmu, tapi kau akan menyesal karena berani menantang kami semua!" ujar salah seorang peserta.
"Justru kalianlah yang akan menyesal!" sahut Yin Feng.
"Hahahaha! Sepertinya dia sudah gila sehingga tidak bisa memahami situasi!"
"Hahh..." Yin Feng menghela napas panjang. "Baiklah, mari akhiri percakapan tidak penting ini!"
Woshh!
Yin Feng melepaskan aura membunuhnya dan seketika itu juga, seluruh arena turnamen diselimuti oleh tekanan intimidasi dan aura yang sangat mencekam.
Tidak hanya para peserta turnamen, tapi semua orang yang hadir di tempat itu bahkan termasuk pemimpin dan para tetua, dapat merasakan dampak dari aura membunuh Yin Feng.
"Tidak mungkin! Apa dia masih manusia?!"
"Iblis... Dia adalah iblis!"
Tanpa menghiraukan keterkejutan semua orang Yin Feng mulai melangkah maju secara perlahan, sehingga membuat para peserta turnamen melangkah mundur untuk menjauhinya.
Bahkan, beberapa peserta langsung meninggalkan arena karena tidak ingin berurusan dengan sosok Yin Feng yang terlihat sangat menakutkan dan mengerikan.
Dalam hitungan detik, puluhan peserta turnamen telah dinyatakan gugur dari turnamen dan hanya menyisakan beberapa pemuda yang merupakan murid para tetua sekte.
"Oh, kalian mau melanjutkan pertarungan ini?"
"Jangan sombong kau! Jika kami bekerjasama, kau pasti akan..."
Bugh!
Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan ucapannya, Yin Feng telah lebih dulu mendaratkan pukulan di wajahnya dan berhasil melempar pemuda itu dari arena.
Setelah itu, Yin Feng memutar tubuhnya sembari melancarkan serangan dengan kaki kanannya, sesaat kemudian dua pemuda kembali terlempar keluar dari arena pertarungan.
Beberapa pemuda yang tersisa berusaha untuk menyerang Yin Feng, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil, justru merekalah yang mendapatkan serangan telak dari Yin Feng.
Para penonton hanya bisa tercengang, turnamen yang seharusnya berlangsung meriah dan menegangkan malah berlangsung dalam kesunyian hingga selesai.
Parahnya lagi, acara turnamen kultivator yang biasanya berlangsung hingga berhari-hari, malah selesai hanya dalam hitungan menit.
"Apa-apaan ini?!"
"Sebenarnya apa yang sedang kita saksikan?"
"Cihh... Sia-sia saja aku bertaruh!"
Para penonton turnamen mulai mengeluh dan memprotes, namun hanya sebatas ucapan dan tidak ada seorangpun dari mereka yang berani bertindak lebih jauh.