
Sesampainya di kekaisaran Yun, Yun Xiang langsung memanggil semua sekutunya untuk datang ke istana, bahkan ia juga memanggil pemimpin dari setiap sekte aliran hitam.
Yun Xiang sebenarnya tidak terlalu suka bekerjasama dengan sekte aliran hitam, namun demi mencapai tujuannya, ia tidak segan-segan untuk bekerjasama dengan iblis sekalipun.
Lamaran pernikahan yang ia ajukan pada kekaisaran Tang hanyalah sebuah kedok belaka, tujuan sebenarnya adalah untuk menguasai kekaisaran Tang melalui putranya Yun Tian.
Namun sayangnya, rencana itu tidak berjalan dengan mulus, bahkan ia mendapatkan penghinaan dari Jian Ren, karena itulah ia akan menggunakan jalan kekerasan.
"Tian'er, panggil gurumu kemari, minta dia untuk ikut dalam peperangan ini."
"Baik, ayah!" ujar Yun Tian.
Sementara itu.
Sama halnya dengan Yun Xiang, Jian Ren juga mengumpulkan semua sekutunya untuk menghadapi kekaisaran Yun, hanya saja Jian Ren tidak bekerjasama dengan aliran hitam.
Meski aliran hitam bisa menambah jumlah dan kekuatan pasukan, namun menurut Jian Ren, bekerjasama dengan mereka hanya akan mendatangkan masalah tak terduga.
Walaupun awalnya mereka berniat untuk membantu, tapi jika arus peperangan berubah, mereka yang berasal dari aliran hitam juga akan berubah haluan dan memihak musuh.
Oleh sebab itu, Jian Ren lebih memilih untuk mengandalkan kekuatan yang sudah ada, karena mereka adalah rekan yang benar-benar mau berjuang demi kekaisaran Tang.
"Yin Feng, apa kau punya rencana?" tanya Jian Ren.
"Satu-satunya rencanaku adalah membunuh musuh sebanyak mungkin untuk meraih kemenangan" jawab Yin Feng.
"Yin Feng, menggapai kemenangan dalam peperangan bukan hal yang mudah, karena itulah dibutuhkan strategi yang tepat."
Selama ini, Yin Feng hanya memiliki satu pengalaman berperang dalam pasukan, itupun bukan sebagai rekan dalam pasukan itu, melainkan sebagai musuh dalam selimut.
Karena itulah, Yin Feng tidak terlalu mengerti mengenai strategi peperangan. Meski begitu, ia masih bisa memberikan sedikit saran dan juga masukan pada Tang Jian Ren.
"Baiklah, pertama-tama aku ingin mengetahui kekuatan musuh, tidak perlu terlalu rinci, cukup garis besarnya saja" sahut Yin Feng.
Tang Jian Ren kemudian menjelaskan bahwa kekaisaran Yun memiliki prajurit sebanyak 700 ribu, jumlah ini belum ditambah dengan pasukan yang berasal dari sekutunya.
"Bagaimana dengan kekuatan tempur mereka?" tanya Yin Feng.
"Aku tidak tahu pastinya, tapi kabarnya pasukan elit mereka adalah kultivator ranah Spirit Surga tahap akhir."
"Baiklah, lalu bagaimana dengan kekuatan kita? Berapa jumlah semuanya?"
"Jika digabungkan dengan pasukan sekutu, jumlah pasukan kita mencapai satu juta prajurit" jawab Jian Ren.
Yin Feng menghela napas seraya menggeleng pelan, meski belum mengetahui jumlah pastinya, tapi ia yakin jumlah pasukan musuh jauh lebih banyak dari mereka.
"Satu lagi, seberapa kuat kultivator yang ada di pihak kita dan berapa jumlahnya?"
"Ranah Emperor, jumlahnya ada 30 orang."
"Ini benar-benar sulit" gumam Yin Feng.
"Satu-satunya cara untuk mengurangi jumlah musuh adalah dengan menggunakan jebakan, tapi waktunya tidak akan cukup."
"Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Aku akan..."
"Yin Feng, apa kau punya waktu?!" Jia Ling tiba-tiba saja masuk ke ruangan.
"Tidakkah kau lihat kami sedang sibuk?!" Yin Feng nampak sedikit kesal.
"Aku bosan, maukah kau menemaniku jalan-jalan?"
"Pergilah, aku akan membahas masalah ini dengan yang lainnya" ucap Jian Ren.
"Baiklah."
Setelah itu, Jia Ling mengajak Yin Feng berkeliling ibukota, karena sejak mereka tiba di sana, Yin Feng tidak pernah meninggalkan istana kekaisaran walau hanya sebentar.
Jia Ling dan Yin Feng mendatangi banyak tempat di ibukota, mulai dari restoran terbaik yang ada di ibukota kekaisaran sampai tempat para kultivator menempa senjata mereka.
Akan tetapi, sepanjang perjalanan Yin Feng lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja, sementara Jia Ling tidak pernah berhenti bicara hingga Yin Feng telinga Yin Feng terasa panas.
"Indah bukan?"
"Lumayan" jawab Yin Feng.
Saat ini, Jia Ling dan Yin Feng berada di puncak bukit yang cukup tinggi disisi barat ibukota kekaisaran, dari atas bukit itu mereka bisa melihat seluruh ibukota kekaisaran Tang.
"Pemandangannya akan lebih indah saat malam hari" ucap Jia Ling.
"Jangan bilang kau ingin berada disini sampai malam."
"Bagaimana jika ayahmu marah?"
"Dia tidak akan marah, lagipula aku pergi bersamamu."
"Terserah kau saja."
"Yin Feng, apa kau punya makanan?"
"Tidak."
"Aku lapar, bisa kau mencarikan sesuatu untuk dimakan?"
Yin Feng menghela napas panjang, lalu menghilang dari pandangan Jia Ling, sepuluh menit kemudian ia muncul lagi dengan membawa beberapa potong daging dan kayu bakar.
"Daging apa ini?"
"Harimau."
"Apa bisa dimakan?"
"Entahlah."
"Bagaimana jika dagingnya beracun?"
"Kau pasti mati jika memakannya."
"Apa kau tega memberikan daging beracun pada calon istrimu?"
"Kenapa tidak?!"
"Kau benar-benar kejam!"
"Iya, aku memang kejam."
Begitulah, percakapan antara mereka tidak pernah usai, karena Jia Ling selalu saja mengajukan pertanyaan atau bahkan membahas sesuatu yang sangat tidak penting untuk dibahas.
***
Waktu berlalu dengan cepat, matahari sudah terbenam sejak beberapa menit yang lalu, sementara Jia Ling dan Yin Feng masih berada dipuncak bukit seraya menikmati pemandangan ibukota.
Tidak bisa dipungkiri, pandangan ibukota kekaisaran Tang saat malam hari memang terlihat indah, gemerlap cahaya yang menerangi ibukota membuatnya terlihat seperti lautan bintang.
Suasana yang begitu sunyi berhasil menghilangkan lelah yang dirasakan Yin Feng, pemandangan indah ibukota saat malam hari juga membuatnya merasakan ketenangan.
"Kau kenapa?" tanya Yin Feng.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit kedinginan" jawab Jia Ling.
Yin Feng mengerutkan dahinya, udara malam ini memang terasa dingin, namun udara dingin itu tidak mungkin mampu membuat seorang kultivator menggigil kedinginan separah itu.
"Maaf" ucap Yin Feng, lalu menyentuh dahi Jia Ling dengan telapak tangannya.
"Dingin!"
Yin Feng tersentak, suhu tubuh Jia Ling sangat dingin seperti es, bahkan tubuhnya yang sepenuhnya terbentuk dari kekuatan api langit, terasa seperti membeku saat menyentuh dahi Jia Ling.
"Jia Ling, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tubuhmu sedingin ini?!"
"A-aku tidak tahu, sejak kecil aku selalu seperti ini."
"Apakah setiap malamnya kau selalu kedinginan seperti ini?" tanya Yin Feng dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Jia Ling.
Ketika dalam perjalanan menuju ke ibukota, Yin Feng tidak terlalu memperhatikan Jia Ling, bahkan menjaga jarak darinya, karena itulah ia tidak mengetahui hal ini sebelumnya.
"Kita harus kembali sekarang!"
"A-aku tidak bisa bergerak."
Yin Feng memahami kondisi Jia Ling saat ini, ia tentu kesulitan bergerak akibat hawa dingin yang menyerang tubuhnya, karena itulah, Yin Feng berniat menggendong Jia Ling.
Akan tetapi, hawa dingin itu langsung menyerangnya saat Yin Feng menyentuh tubuh Jia Ling, bahkan seluruh tubuhnya terasa seperti membeku karena hawa dingin tersebut.
Yin Feng kemudian menggunakan kekuatannya untuk menahan hawa dingin itu, tapi usahanya tidak membuahkan hasil, bahkan tubuh Jia Ling malah semakin dingin.
"Aku tidak punya pilihan lain!"
Mau tidak mau Yin Feng harus menggunakan kekuatan api hijau, karena menurutnya, hanya kekuatan itulah yang mampu menghalangi hawa dingin itu agar tidak menyerang tubuhnya.
Cara yang ia gunakan memang berhasil, tapi sayangnya kekuatan api hijau tidak menghilangkan hawa dingin itu sepenuhnya, dan hanya mengurangi rasa dingin ditubuhnya.
"Bertahanlah, apapun yang terjadi aku akan membawamu kembali ke istana!"