
Malam harinya.
Karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan di malam hari, wanita itu-pun meminta elang es untuk berhenti di puncak sebuah bukit yang cukup tinggi.
Setibanya di puncak bukit, wanita itu kemudian mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun, sementara Yin Feng masih berusaha menyembuhkan luka dalamnya.
"Xiao Bing, pergilah berburu di sekitar bukit. Ingatlah, jangan terlalu jauh."
Elang Es mengangguk pelan, kemudian melesat terbang meninggalkan puncak bukit tersebut.
Setelah peliharaannya pergi, wanita itu kemudian menghampiri Yin Feng, lalu mengalirkan energi spiritualnya untuk membantu Yin Feng menyembuhkan luka dalamnya.
Hawa dingin menyerang tubuh Yin Feng, menekan kekuatan api langit yang berada di dalam dirinya, serta membantunya menyembuhkan luka yang disebabkan oleh api hijau.
Pada saat yang bersamaan, hawa panas dari kekuatan api langit milik Yin Feng juga memasuki tubuh wanita itu, membantunya menekan kekuatan es abadi dalam dirinya.
"Ternyata benar, dia adalah orang itu." ucap keduanya dalam hati.
Setengah jam kemudian.
"Terima kasih" ucap Yin Feng yang telah berhasil menyembuhkan luka dalamnya.
Wanita itu mengangguk, "aku juga berterima kasih karena kau sudah membantuku."
Yin Feng tidak mengatakan apapun dan hanya menanggapinya dengan senyuman, kemudian suasana berubah menjadi hening dan terasa canggung untuk keduanya.
"Siapa namamu?" Setelah diam cukup lama, Yin Feng akhirnya memulai percakapan lagi.
"Duan Ling. Namamu?"
"Yin Feng."
Setelah saling memperkenalkan diri, keduanya kembali diam. Baik Yin Feng ataupun Duan Ling, keduanya sama-sama tidak tahu apa yang harus dibahas.
Tidak lama berselang, Xiao Bing kembali ke puncak bukit dengan membawa seekor harimau.
"Kebetulan sekali, biar aku saja yang memasak" ucap Yin Feng.
"Tidak, kau masih belum sembuh total, sebaiknya aku saja yang menyiapkan makanan" sahut Duan Ling.
"Tenang saja, kondisiku sudah sangat baik."
"Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku."
"Baiklah, tapi biarkan aku yang membersihkan dagingnya."
Sebelum Duan Ling sempat menyahuti perkataannya, Yin Feng telah lebih dulu mengeluarkan belati perak dari cincin ruangnya, lalu menguliti tubuh harimau tersebut.
Yin Feng mengeluarkan kristal jiwa dari dalam tubuh harimau itu, lalu menyerahkannya pada Duan Ling, kemudian memotong dagingnya menjadi beberapa bagian.
"Sudah selesai" ucap Yin Feng.
"Sekarang giliran ku." Duan Ling kemudian mengeluarkan peralatan masak dari cincin ruangnya.
"Apa kau selalu membawa semuanya dalam perjalanan?" tanya Yin Feng.
Duan Ling mengangguk, "selain peralatan masak aku juga membawa bak mandi dan kebutuhan lainnya."
Yin Feng mengerutkan dahinya, ia benar-benar tidak menduga hal ini sebelumnya. "Apa semua wanita melakukan hal yang sama?"
"Entahlah..." jawab Duan Ling singkat, ia masih sibuk mengolah daging harimau tersebut.
***
"Silahkan dicoba" ucap Duan Ling sembari menyajikan beberapa makanan buatannya.
"Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi" sahut Yin Feng, lalu mencicipi makanan yang tersaji didepannya.
"Bagaimana rasanya?"
Yin Feng mengacungkan kedua jempolnya kearah Duan Ling, "rasanya benar-benar lezat!"
Duan Ling hanya menanggapinya dengan senyuman, kemudian duduk berseberangan dengan Yin Feng, lalu mereka berdua menikmati makan malam bersama.
Sembari menikmati makanan, keduanya berbincang-bincang mengenai kehidupan masing-masing, namun tidak banyak yang bisa disampaikan oleh Yin Feng mengenai hidupnya.
Berbeda dengan Yin Feng, Duan Ling justru menceritakan banyak hal tentang dirinya, mulai dari dirinya yang hanya yatim-piatu hingga diangkat menjadi murid sekte Pilar Cahaya.
Selain itu, Duan Ling juga menceritakan tentang kekuatan menakutkan yang bersemayam dalam dirinya, namun ia menyembunyikan fakta bahwa Yin Feng bisa membantunya.
Meskipun begitu, Yin Feng sudah bisa menebak kekuatan apa yang dimiliki oleh Duan Ling, karena sebelumnya ia sudah merasakan hawa dingin di tubuh Duan Ling secara langsung.
"Ibu ingin dia menjadi istrimu."
"Kau baik-baik saja?" tanya Duan Ling seraya mengulurkan secangkir minuman pada Yin Feng.
Yin Feng meraih cangkir itu dan menegak air di dalamnya hingga habis, "terima kasih" ucapnya.
"Ibu, ini tidak sesederhana yang ibu bayangkan."
"Apanya?"
"Aku tahu dia memiliki energi Yin murni, tapi aku tidak ingin memaksanya menjadi pendamping hidupku. Lagipula, aku belum memikirkan pernikahan."
"Hahh... Padahal ini adalah permintaan terakhir ibu untukmu."
"Apa maksud ibu?"
"Yang tersisa dari ibu hanyalah serpihan jiwa tanpa raga, jadi sebelum jiwa ini musnah ibu ingin melihatmu menikah."
"Hahh..."
Yin Feng hanya bisa menghela napas panjang. Apa yang dikatakan oleh Yin Huang memang benar adanya, karena serpihan jiwa tidak akan bertahan lama setelah kehilangan raga.
Akan tetapi, Yin Feng sudah menemukan cara untuk mempertahankan serpihan jiwa ibunya, yaitu membiarkan jiwa Yin Huang menempati sebuah wadah yang cocok dengannya.
"Apa ada yang salah dengan masakan ku?" tanya Duan Ling.
"Maksudmu?"
"Kau tiba-tiba saja mengeluh, jadi aku pikir ada yang salah dengan masakan-ku."
"Bukan begitu, aku hanya teringat dengan sesuatu" sahut Yin Feng.
"Benarkah?"
Yin Feng mengangguk, "masakanmu sangat enak, jadi bagaimana mungkin ada sesuatu yang salah?"
***
Selesai makan, keduanya kemudian duduk di tempat yang cukup terbuka untuk menikmati keindahan langit malam yang dihiasi oleh rembulan dan jutaan cahaya bintang.
"Kemana tujuanmu setelah ini?" tanya Yin Feng.
"Klan Kura-kura Giok" jawab Duan Ling.
"Kau tahu dimana klan ini berada?"
Duan Ling mengangguk, lalu menjelaskan bahwa dirinya sudah sering mengunjungi klan itu, bahkan ia merupakan penghubung antara klan itu dengan sektenya.
"Boleh aku ikut denganmu?" tanya Yin Feng.
"Apa tujuanmu datang ke sana?"
"Tidak ada tujuan khusus, aku hanya ingin berkunjung atas permintaan seseorang" jawab Yin Feng.
"Siapa?"
"Mendiang ibuku."
"Maaf, aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa, lagipula kita mengalami nasib yang sama" sahut Yin Feng.
"Maksudmu?"
Yin Feng tersenyum, lalu menceritakan semua hal tentang dirinya, mulai dari dirinya yang juga seorang yatim-piatu, serta diangkat menjadi murid pemimpin sekte.
Kehidupan mereka hampir sama, namun ada beberapa hal yang membuat keduanya berbeda, salah satunya adalah Duan Ling tidak mengalami hari buruk selama berada di sekte.
Duan Ling tidak pernah mendapatkan hinaan dari para murid sekte, karena selain memiliki kecantikan diatas rata-rata, ia juga merupakan seorang kultivator jenius.
Selain itu, Duan Ling memiliki banyak teman dan ada banyak orang yang peduli dengannya, sosok guru yang sangat menyayangi-nya pun masih hidup hingga saat ini.
Sedangkan Yin Feng adalah kebalikan dari hidup Duan Ling, setiap harinya selalu dihiasi dengan hinaan dan penindasan, juga dianggap sebagai sampah tak berguna.
"Lalu bagaimana kau bisa sekuat sekarang?"
"Karena aku tidak pernah berhenti berusaha" jawab Yin Feng.
"Selama ini aku berpikir bahwa hidupku sangat menyedihkan, tapi ternyata aku lebih beruntung darimu."
"Karena itulah sangat penting untuk melihat ke bawah" sahut Yin Feng.
Keduanya terus mengobrol hingga larut malam, tanpa disadari, hubungan antara mereka mulai dekat dan keduanya pun sudah saling terbuka.