Phoenix Emperor

Phoenix Emperor
Chap 54. Sampah yang sebenarnya.



Yin Feng menghentikan langkahnya setelah memasuki kawasan hutan yang cukup jauh dari kota Zhuang, lalu ia mengeluarkan belati perak dari cincin ruang miliknya.


Tidak lama kemudian, puluhan kultivator yang dipimpin oleh putra penguasa kota akhirnya sampai, mereka semua langsung mengepungnya agar Yin Feng tidak bisa melarikan diri.


Akan tetapi, Yin Feng masih terlihat tenang dan tidak merasakan khawatir sedikitpun, bahkan tindakan yang mereka lakukan justru membuatnya merasa sangat senang.


"Kuberi kau kesempatan sekali lagi, serahkan semua benda lelang yang kau dapatkan dan aku berjanji akan membiarkanmu tetap hidup" ucap putra penguasa kota.


"Kalau begitu, aku akan melakukan hal yang sama, tinggalkan tempat ini dan akan ku pastikan kalian semua tetap hidup" sahut Yin Feng.


"Cihh! Apa kau pikir kau bisa mengalahkan kami semua?"


"Dan apa kau pikir mereka semua bisa mengalahkan ku?"


"Tidak tahu diri! Jangan sampai kau menyesali keputusan mu!"


"Begitupun denganmu."


"Bunuh dia!" ujar putra penguasa kota.


Puluhan kultivator yang ada di sana kemudian bergerak maju untuk menyerang Yin Feng, namun sebelum mereka sempat menyentuhnya, Yin Feng tiba-tiba menghilang.


Slash!


Slash!


Detik berikutnya, suara tebasan terdengar mengisi kesunyian malam di hutan tersebut, pada saat yang bersamaan, para kultivator itu mulai berjatuhan satu-persatu.


Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang telah terjadi, karena pergerakan dan serangan yang dilakukan oleh Yin Feng sangatlah cepat, sehingga mereka tidak bisa menghindar.


Hanya dalam hitungan detik, jumlah para kultivator telah berkurang sampai setengahnya, sementara mereka yang tersisa mulai diselimuti oleh kengerian yang begitu besar.


"Apa yang kalian lakukan?! Jangan diam saja dan bunuh pria sialan itu!"


Para kultivator itu diam bukan tanpa alasan, mereka saat ini sedang mereka kebingungan karena tidak mengetahui dimana posisi musuh yang harus mereka bunuh.


Selain itu, rasa takut dan kengerian yang mereka rasakan seolah-olah sedang membelenggu mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menggerakkan tubuhnya.


"Hahaha! Kemana perginya kesombongan kalian yang tadi? Bukankah tujuan kalian datang ke sini adalah untuk membunuhku?"


"Kau! Aku tahu kau adalah putra penguasa kota, tapi jangan harap kau bisa melarikan diri dari kematian!"


Suara Yin Feng menggema ke segala penjuru, namun sosoknya tidak terlihat sama sekali. Sementara itu, setiap detiknya selalu ada kultivator yang meregang nyawa.


Mereka semua tentu menyadari dan mengetahui bahwa Yin Feng masih ada di sekitar mereka, hanya saja tidak ada yang bisa melihatnya ataupun merasakan keberadaannya.


"Sial! Siapa sebenarnya orang ini?"


"Tuan muda, sebaiknya kita pergi dari sini."


"Benar! Dia bukanlah lawan yang bisa kita hadapi hanya dengan mengandalkan jumlah."


Sebelumnya, putra penguasa kota dan antek-anteknya sudah menduga jika Yin Feng bukanlah kultivator biasa, karena itulah mereka mengumpulkan banyak pasukan untuk melawannya.


Namun sayangnya, situasi yang terjadi benar-benar diluar perkiraan mereka, karena Yin Feng bisa membunuh puluhan kultivator itu dengan mudah layaknya sedang membunuh semut.


"Tuan muda! Jangan diam saja, kita harus pergi dari sini sekarang juga!"


"Mau melarikan diri? Jangan harap!" ujar Yin Feng yang telah muncul di hadapan mereka semua.


Kemunculan Yin Feng sontak membuat mereka semua terkejut, terlebih lagi saat mereka melihat puluhan kultivator yang mereka bawa, telah tergelatak tak bernyawa di tanah.


"A-apa yang mau kau lakukan?"


"Entahlah, mungkin memotong tangan dan kaki kalian terlebih dahulu" jawab Yin Feng, lalu menunjukkan senyuman terbaiknya.


Bagi orang lain, senyuman itu mungkin terlihat manis dan menawan, namun bagi mereka yang ada di depannya saat ini, senyuman itu terlihat sangat mengerikan dan menakutkan.


"To-tolong ampuni nyawaku!" ujar putra penguasa kota, lalu berlutut di hadapan Yin Feng dan diikuti yang lainnya.


"Sebelumnya kalian sangat sombong, kenapa sekarang malah merendahkan diri?"


"Cihh... Tindakan kalian ini benar-benar membuatku muak!"


Di dunia ini, kesombongan adalah hal yang wajar bagi mereka yang memiliki kekuatan dan terkadang, kesombongan itu membuat mereka lupa bahwa langit sangatlah tinggi.


Ketika mereka berhasil melihat langit yang sesungguhnya, kesombongan mereka akan langsung sirna, bahkan tidak segan-segan membuang harga diri demi tetap bisa hidup.


Akan tetapi, hal itu hanya akan berguna bagi orang yang memiliki belas kasihan, namun tidak dengan Yin Feng, karena orang sepertinya sudah tidak memiliki perasaan itu sedikitpun.


Di mata Yin Feng, orang-orang seperti mereka adalah sampah yang sebenarnya, dan menurutnya, orang-orang bermuka dua tidak pantas untuk mendapatkan pengampunan sedikitpun.


"Tu-tuan, tolong ampuni kami, kami akan memberikan apapun yang tuan inginkan?"


"Benarkah?"


"Be-benar! Ka-kami akan memberikan apapun pada tuan."


"Aku menginginkan nyawa kalian!" ujar Yin Feng, lalu memenggal kepala mereka semua.


"Orang-orang tidak tahu malu seperti kalian hanya pantas untuk mati."


Tidak lama berselang, Lin Yue dan kedua pengawalnya akhirnya sampai di tempat tersebut, mereka terlihat kaget saat menemukan puluhan mayat yang tergelatak di tanah.


"Yin Feng, apa kau baik-baik saja?" tanya Lin Yue yang masih mengkhawatirkan Yin Feng.


"Seperti yang kau lihat, aku tidak terluka sedikitpun" jawab Yin Feng.


"Tuan Yin, apa kau yang membunuh mereka semua?"


"Apa kalian melihat ada orang lain di tempat ini?"


Lin Zhan dan Lin Bai hanya bisa menghela napas panjang, dan entah kenapa mereka berdua malah merasa seperti orang bodoh karena telah mengkhawatirkan Yin Feng.


Akan tetapi, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Yin Feng adalah sosok yang sangat kejam, padahal jika dilihat dari perawakannya Yin Feng terlihat seperti orang yang sangat baik.


"Sepertinya kota Zhuang akan heboh" ucap Lin Bai setelah memeriksa beberapa mayat yang ada di sana.


"Tuan Yin, sepertinya anda harus lebih berhati-hati, karena penguasa kota dan para bangsawan tidak akan diam saja."


"Aku tahu itu" sahut Yin Feng.


Setelah itu, Lin Zhan dan Lin Bai mengumpulkan cincin ruang milik semua mayat yang ada di sana, kemudian mereka kembali ke kota Zhuang untuk beristirahat.


"Tuan Yin, apa anda yakin tidak mau mengambil uang mereka?"


Yin Feng mengangguk, "kalian bisa mengambilnya, karena yang ku butuhkan hanyalah sumber daya."


Bagi Yin Feng, sumber daya adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, karena itulah ia hanya mengambil sumber daya dan tidak menginginkan uang mereka.


Lagipula, jumlah uang yang ia miliki jauh lebih banyak daripada semua uang yang dimiliki oleh puluhan kultivator tersebut, bahkan Yin Feng sampai tidak mengetahui seberapa banyak uangnya.


Setibanya di penginapan, mereka langsung berpisah dan kembali ke kamarnya masing-masing, namun saat Yin Feng hendak tidur, Lin Yue tiba-tiba saja mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa?"


"Boleh aku masuk?"


Yin Feng mengangguk, lalu mempersilahkan Lin Yue masuk ke kamarnya, namun kali ini Yin Feng tidak duduk di sudut ruangan seperti sebelumnya.


"Ada apa?"


"Aku hanya ingin bicara denganmu" jawab Lin Yue.


"Baiklah, cepat katakan apa yang kau inginkan karena aku ingin tidur."


Raut wajah Lin Yue langsung berubah, ia benar-benar merasa kesal setelah mendengar perkataan Yin Feng, bahkan ia langsung keluar dari sana tanpa mengatakan apapun.


"Wanita aneh!" gumam Yin Feng, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Sial! Kenapa di dunia ini harus ada laki-laki menyebalkan sepertinya?!"