
"Tunggu! Jika kalian tidak percaya padaku, biarkan tabib memeriksanya!" ujar Yin Feng.
Sebenarnya tidak masalah bila Yin Feng harus berhadapan dengan para prajurit, bahkan ia tidak keberatan untuk meratakan satu istana kekaisaran itu dengan tanah.
Tapi masalahnya adalah, Yin Feng tidak ingin dicap sebagai laki-laki bejat yang tidak bertanggungjawab, apalagi atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Ayah, jangan lakukan itu!" Jia Ling menghampiri Yin Feng dan menghalangi para prajurit.
"Jia Ling! Menyingkir dari sana, biarkan para prajurit melakukan tugas mereka!" ujar Tang Jian Ren.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti ayah dari anakku!"
"Ayah, aku mohon... Bagaimanpun juga, anak dalam kandunganku ini adalah cucumu dan Yin Feng adalah ayahnya." Jia Ling memohon seraya menitikkan air mata.
Yin Feng hampir muntah darah mendengar perkataan Jia Ling, sandiwara yang dilakukannya benar-benar sangat sempurna dan berhasil mengelabui semua orang.
"Apa kau mencintainya?"
Melihat putrinya menangis, Tang Jian Ren menjadi tidak tega, bahkan ia mengurungkan niatnya untuk memenggal Yin Feng, dan meminta para prajurit untuk menyingkir.
Jia Ling mengangguk, "aku sangat mencintainya ayah, meskipun baru bertemu, tapi aku perasaanku ini sungguh nyata."
"Sial! Seharusnya waktu itu aku bunuh saja perempuan ini" ucap Yin Feng dalam hatinya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menikahkan kalian."
"Tunggu dulu, aku tidak..."
"Apa kau tidak mau bertanggung jawab?!" ujar Jian Ren seraya melepaskan aura kekuatannya.
Aura yang dilepaskan oleh Tang Jian Ren mampu menindas semua orang yang ada di sana, namun aura itu tidak memberikan dampak apapun terhadap Yin Feng.
"Jika kau memang laki-laki sejati, maka kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"
"Jika tidak, aku akan memenggal kepalamu sekarang juga!"
"Yin Feng, aku mohon. Ayah sudah berbaik hati dan ingin menikahkan kita."
"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi jangan harap kau bisa hidup tenang setelah mengusikku" ucapannya berbisik di telinga Jia Ling.
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab."
Setelah itu, Jian Ren meminta pendapat para petinggi istana untuk menentukan tanggal pernikahan, juga memikirkan cara untuk menghadapi amukan kekaisaran Yun.
Sebelum Jia Ling memulai sandiwaranya, Jian Ren sebenarnya ingin menyampaikan tentang pertunangan yang diajukan oleh pangeran dari kekaisaran Yun.
Namun sayangnya, sebelum ia sempat menjelaskan hal itu, putrinya sudah lebih dulu memberikan kabar yang sangat mengejutkan, hingga ia melupakan masalah pertunangan itu.
Ketika mendengar pembahasan mereka, Yin Feng akhirnya mengerti kenapa Jia Ling bersandiwara, ia hanya ingin menolak pertunangan itu namun tidak memiliki alasan yang tepat.
"Yin Feng, karena kau adalah penyebab dari masalah ini, maka kau harus siap berdiri digaris depan."
"Tidak masalah, tapi aku membutuhkan sesuatu" sahut Yin Feng.
Karena sudah terlanjur, Yin Feng mengutarakan keinginannya yang ingin melihat pusaka spiritual yang akan dijadikan sebagai hadiah turnamen kultivator nantinya.
Yin Feng juga menjelaskan jika seandainya ia merasa tertarik dan menginginkan pusaka itu, maka Tang Jian Ren harus menyerahkan pusaka spiritual itu padanya.
"Sebagai gantinya, aku akan memberikan hadiah yang tidak kalah berharga."
"Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu itu."
Tang Jian Ren menyanggupi permintaan calon menantunya itu, lalu memerintahkan salah seorang kultivator kepercayaannya untuk mengambil pusaka yang dimaksud.
Tidak lama berselang, kultivator itu kembali ke aula singgasana dengan membawa sebuah kotak berlapis emas, lalu menyerahkan kotak itu kepada Tang Jian Ren.
"Inilah pusaka yang akan dijadikan hadiah untuk pemenang turnamen" Jian Ren membuka dan menunjukkan isi kotak itu pada Yin Feng.
Tidak hanya sekedar mirip, belati perak di dalam kotak itu juga memancarkan aura yang sama dengan belati miliknya, bahkan belati perak dalam cincin ruangnya langsung bereaksi.
"Ibu..." gumam Yin Feng pelan.
"Bagaimana? Apa kau tertarik?"
"Berikan belati itu padaku sekarang juga!"
"Tidak masalah, tapi kau harus..."
"Berikan padaku sekarang juga!" ujar Yin Feng sembari melepaskan aura membunuh.
Seketika itu juga, seisi aula singgasana diselimuti oleh aura yang sangat mengerikan, tidak ada seorangpun dari mereka yang tidak merasa takut saat aura itu menerpa tubuhnya.
Tidak hanya itu saja, aura membunuh yang dilepaskan Yin Feng juga menyebar dan menyelimuti seluruh istana kekaisaran, bahkan mampu membuat istana itu bergetar.
"A-aku akan memberikannya padamu, tapi tolong hilangkan aura mengerikan ini" ucap Jian Ren.
Yin Feng menarik kembali aura membunuhnya, lalu menghampiri Jian Ren dan mengambil belati perak tersebut, kemudian ia mengeluarkan belati perak lainnya dari cincin ruang.
Setelah itu, Yin Feng melapisi kedua belati itu dengan energi spiritualnya, kemudian menyatukan kedua belati itu hingga keduanya berubah menjadi sebilah pedang.
Pada saat yang bersamaan, aura yang terpancar dari pedang perak itu meluap dan menyelimuti tubuh Yin Feng, memberikan perasaan hangat dan nyaman padanya.
"Perasaan hangat ini... apakah ibu sedang memelukku?"
"Pantas saja kau sangat menginginkannya" ucap Jian Ren.
Yin Feng mengangguk pelan, lalu menyimpan pedang itu kedalam cincin ruangnya, "terima kasih karena sudah menyimpannya selama ini."
Yin Feng tidak peduli bagaimana mereka bisa mendapatkan belati itu, yang jelas Yin Feng sangat berterima kasih karena Tang Jian Ren tidak menyerahkan belati itu kepada orang lain.
"Baiklah, karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, aku harap kau tidak melupakan janjimu."
"Tenang saja, aku akan membantu kalian memenangkan peperangan ini" sahut Yin Feng.
Walaupun ucapannya terdengar sangat berlebihan, namun tidak ada yang berani meragukan ucapan Yin Feng, karena mereka masih merasakan kengerian dari aura membunuh Yin Feng.
Selain itu, aura membunuh yang mereka rasakan sebelumnya membuat mereka yakin bahwa Yin Feng adalah orang kuat, karena ia mampu menggetarkan istana hanya dengan aura.
Tang Jian Ren juga merasa telah membuat keputusan yang tepat, walaupun masih sedikit memendam kekesalan, namun ia senang karena mendapatkan menantu yang kuat.
"Yin Feng, tinggallah di istana ini, bagaimanpun juga kau adalah menantuku" ucap Jian Ren.
Yin Feng hanya bisa menghela napas panjang, padahal ia berharap Jian Ren melupakan hal itu setelah merasakan aura membunuhnya, tapi ternyata kaisar negeri Tang itu masih mengingatnya.
"Yang mulia, aku ingin menjelaskan sesuatu" ucap Yin Feng.
"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, karena semuanya sudah jelas dan paham dengan situasinya!" ujar Jia Ling.
"Jia Ling, apa kau tidak merasa bersalah karena membohongi ayahmu?" tanya Yin Feng.
"Aku tidak berbohong!" Jia Ling masih bersikeras dan tidak ingin mengakui kebohongannya.
"Yin Feng, ikut denganku, ada yang ingin ku bicarakan denganmu" sahut Jian Ren.
"Baiklah."
"Aku ikut!" ujar Jia Ling.
"Tidak perlu, ini hanya antara ayah dan calon suamimu!"
Tang Jia Ling nampak khawatir, ia benar-benar takut Yin Feng membakar kebohongannya dan jika itu terjadi, ayahnya akan menerima lamaran dari pangeran kekaisaran Yun.
"Bagaimanpun caranya, Yin Feng tidak boleh menceritakan semuanya pada ayahku" gumamnya, lalu mengikuti mereka berdua secara diam-diam.