
Benua Xuanwu, kekaisaran Zhong.
Ying Huo melesat terbang menyusuri hutan yang jaraknya sangat jauh dari ibukota kekaisaran, raut wajahnya melukiskan kekhawatiran yang sangat besar.
"Akhirnya ketemu juga!" ujarnya, lalu melesat masuk ke kedalaman hutan.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?!"
Tidak lama setelah Ying Huo mendaratkan kakinya di tanah, beberapa kultivator yang menutup wajahnya dengan topeng tiba-tiba muncul dan mengelilinginya.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian, jadi jangan menghalangiku!" ujar Ying Huo.
"Karena kau datang kesini, sudah pasti memiliki urusan dengan kami!"
"Sudah kukatakan, jangan menghalangiku!" ujar Ying Huo seraya melepaskan aura kekuatannya.
Seketika itu juga, tekanan intimidasi yang luar biasa besar menimpa para kultivator yang menghalangi jalannya, bahkan auranya sampai membuat pepohonan bergetar.
Tekanan intimidasi yang menimpa tubuh mereka membuat para kultivator itu tidak bisa berkutik, bahkan mereka sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya walau hanya sedikit.
Setelah itu, Ying Huo melanjutkan langkah kakinya dan meninggalkan para kultivator itu. Kemudian Ying Huo menghentikan langkahnya setelah tiba di depan sebuah gua.
Beberapa saat kemudian, dari dalam gua keluar beberapa kultivator lainnya yang juga mengenakan topeng, namun warna topeng mereka berbeda dari kultivator sebelumnya.
Pada saat yang hampir bersamaan, muncul puluhan hingga ratusan kultivator bertopeng lainnya, mereka mengelilingi Ying Huo dan telah siap untuk menyerangnya.
"Jika tidak ingin mati, serahkan kristal itu padaku!" ucap Ying Huo.
"Kristal apa yang kau maksud?" tanya salah seorang kultivator yang memakai topeng berwarna merah.
"Serahkan kristal itu atau kalian semua akan ku bunuh!" ujar Ying Huo dan lagi-lagi melepaskan aura kekuatannya.
Ying Huo melepaskan aura yang jauh lebih besar dari sebelumnya, bahkan ratusan kultivator yang mengelilinginya sampai terlempar karena ledakan aura kekuatannya.
Tidak hanya itu saja, para kultivator yang memakai topeng berwarna merah juga terpukul mundur, namun mereka berhasil bertahan dengan mengerahkan kekuatannya.
Beberapa saat setelahnya, muncul kultivator lain yang memakai topeng giok. Aura yang dilepaskan oleh Ying Huo nampak tidak memberikan dampak apapun padanya.
"Jadi kau pemimpinnya?" tanya Ying Huo.
"Benar, aku adalah pemimpin..." jawab pria itu.
Woshh.
Boom!
Sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, Ying Huo sudah lebih dulu mendaratkan pukulan telak di topeng pria itu hingga membuatnya terlempar sampai ke dalam gua.
Setelah itu, Ying Huo melangkah masuk ke dalam gua tanpa menghiraukan kultivator lain yang sedang menatapnya, tubuh mereka gemetar saat merasakan aura milik Ying Huo.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya pemimpin Asosiasi Tengkorak Iblis.
Ying Huo tidak menghiraukan pertanyaan dari pria itu, ia kemudian mendekati sebuah kotak kayu yang dilindungi oleh formasi pertahanan yang cukup kuat.
"Akhirnya ketemu juga" gumamnya, lalu menghancurkan formasi yang melindungi kotak itu.
Pemimpin Asosiasi membelalakkan matanya, ia benar-benar tidak menyangka jika formasi pertahanan terkuat yang ia miliki bisa dihancurkan dengan mudah.
"Tidak! Kau tidak boleh mengambil benda itu!"
"Jika kau mampu, cobalah untuk menghentikan ku" sahut Ying Huo, lalu menghilang dari tempat tersebut.
Setelah meninggalkan markas asosiasi Tengkorak Iblis, Ying Huo kemudian melesat terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke hutan belantara yang berada di kekaisaran Bei.
Setibanya di gua tempat tinggalnya, Ying Huo kemudian mengeluarkan kristal perak dari dalam kotak itu, lalu meletakkan kristal di sisi pemuda yang sedang tidak sadarkan diri.
"Yin Huang, hanya kau yang bisa membantunya. Aku mohon, selamatkan putramu dari kekejaman para dewa."
Ying Huo menghela napas panjang, kemudian menggunakan kekuatannya untuk membantu Yin Feng menyerap energi yang terkandung di dalam kristal perak tersebut.
***
"Hahh..." Yin Feng menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya. "Tenanglah, jika tidak aku tidak akan pernah menemukan jawaban dari keanehan ini."
Setelah merasa tenang Yin Feng kemudian masuk ke istana untuk menemui Jia Ling, tapi langi-lagi ia mendengar suara Ying Huo memanggil namanya.
"Yin Feng, sadarlah! Jangan biarkan para dewa menguasai pikiranmu!"
Tidak sama seperti sebelumnya, suara Ying Huo kali ini justru terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Bahkan Yin Feng mendengar jelas apa yang dikatakan pamannya itu.
"Apa maksudnya?"
"Yin Feng..."
"Arkhhhh!"
Yin Feng berteriak kencang karena rasa sakit tiba-tiba saja menyerang kepalanya, pada saat yang sama, suara Ying Huo mulai menghilang secara perlahan-lahan.
"Yin Feng." suara seseorang kembali terdengar, namun itu bukan suara Ying Huo.
"Si-siapa?"
"Yin Feng, buka matamu..."
Woshh!
Energi yang begitu hangat masuk ke tubuh Yin Feng, menghilangkan rasa sakit yang menyerang kepalanya juga membuat dirinya merasakan ketenangan dan kenyamanan.
Tidak lama berselang, tubuh Yin Feng tiba-tiba ditarik oleh sesuatu dan sesaat kemudian, ia telah berada di suatu tempat yang aneh dan tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
"Dimana lagi ini?"
"Yin Feng."
Yin Feng tersentak dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara, dari kejauhan Yin Feng melihat sesosok Phoenix Perak sedang terbang mendekatinya.
Setelah itu, Phoenix Perak itu mengubah wujudnya menjadi seorang perempuan cantik. Kemudian, perempuan itu menghampiri Yin Feng dan langsung memeluknya erat.
Anehnya, Yin Feng malah tidak bisa menolak pelukan itu, bahkan kedua tangannya secara alami membalas pelukan hangat perempuan misterius berambut perak itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya perempuan itu.
Yin Feng hanya menanggapinya dengan anggukan, berada dalam pelukan perempuan itu membuatnya merasa nyaman dan tenang hingga tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah cukup lama, perempuan berambut perak itu melepaskan pelukannya, namun Yin Feng masih mendekapnya dengan erat seakan tidak ingin melepasnya.
Perempuan itu tersenyum dan membelai pelan puncak kepala Yin Feng, "kau pasti melewati hari-hari yang sulit. Tenanglah, ibu pasti akan membantumu."
"Ibu?" Yin Feng langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar perkataan perempuan berambut perak itu.
"Apa Ying Huo tidak mengatakan apapun padamu?" tanya perempuan yang tidak lain adalah Yin Huang, ibu Yin Feng.
"Melihat ekspresi mu, sepertinya Ying Huo tidak mengatakan apapun, tunggu saja aku pasti akan..."
Yin Feng langsung memeluk erat tubuh ibunya itu dan tanpa disadari, air matanya mengalir dengan deras karena perasaan bahagia yang sedang meluap-luap dalam dadanya.
"Ibu..." ucap Yin Feng lirih.
"Maafkan ibu karena sudah meninggalkanmu sendirian."
Setelah benar-benar tenang, Yin Feng kemudian melepaskan pelukannya, "ibu, ada yang ingin kutanyakan."
Yin Huang mengangguk, "ibu akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi sebelum itu, ibu akan membebaskan dirimu dari mimpi buruk yang kau alami."
"Mimpi buruk?"
"Putraku, yang kau alami selama ini bukanlah kenyataan, melainkan hanya mimpi buruk yang disebabkan oleh dewa dengan cara memanipulasi pikiranmu."