Phoenix Emperor

Phoenix Emperor
Chap 65. Menuju kekaisaran Tang.



"Aku sedang tidak ingin bermain-main, jadi mari kita akhiri semua ini dengan cepat..."


Yin Feng melapisi belati perak dengan energi spiritualnya, seketika itu juga cahaya hijau menyelimuti belati tersebut, lalu cahaya itu memanjang dan membentuk bilah pedang.


"Teknik pedang teratai!"


Setelah sekian lama, Yin Feng akhirnya menggunakan salah satu teknik andalan sekte Teratai Giok, Yin Feng mempelajari teknik ini dari mendiang gurunya dan merupakan pencipta teknik itu.


Permainan pedang Yin Feng terlihat sangat indah, setiap gerakannya sangat halus dan begitu memukau, tapi disisi lain, teknik pedang itu juga sangat mematikan.


Dalam setiap gerakannya, Yin Feng selalu berhasil merenggut nyawa lawannya, hingga teknik itu selesai, Yin Feng telah merenggut belasan nyawa kultivator yang menyerangnya.


Pada saat yang bersamaan, ketika Yin Feng memainkan setiap gerakan dari teknik itu, satu-persatu kenangan saat bersama mendiang Xu Jiang juga muncul dalam ingatannya.


Yin Feng memejamkan matanya selama beberapa saat untuk menghilangkan kenangan itu, karena saat ini ia berada dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk bersedih.


"Apa yang kalian lakukan? Bunuh pemuda sialan itu!" ujar sang bangsawan.


Para kultivator yang masih tersisa memahami apa yang diinginkan oleh bangsawan itu, tapi masalahnya adalah, pria itu tidak memahami apa yang sedang mereka rasakan.


Bagi mereka yang berhadapan dengan Yin Feng, sosoknya terlihat sangat mengerikan dan menakutkan, mereka merasa seperti sedang berhadapan dengan dewa kematian.


"Sudah kukatakan, aku tidak ingin membuang-buang waktu!" ujar Yin Feng, lalu menghilang dari pandangan.


Slash!


Slash!


Sesaat kemudian, suara tebasan kembali mengisi keheningan dalam ruangan itu, satu-persatu para kultivator yang ada di ruangan itu mulai berjatuhan dan kehilangan nyawanya.


Dalam hitungan detik, Yin Feng telah membunuh semua kultivator yang tersisa, dan hanya meninggalkan sang bangsawan yang kini diselimuti oleh rasa takut dan kengerian.


"Aku tidak punya dendam dan masalah denganmu, tapi putramu sudah menggangguku, jadi aku harus melenyapkan kalian semua."


"Ja-jangan, a-aku belum mau mati" ucap sang bangsawan.


Yin Feng menunjukkan senyuman terbaiknya, seolah-olah dia adalah orang yang sangat baik dan memiliki belas kasihan, serta tidak tega merenggut nyawa orang lain.


Meski begitu, senyumannya itu malah membuat sang bangsawan semakin ketakutan, bahkan sosok Yin Feng saat ini terlihat seperti dewa kematian di matanya.


"Jangan salahkan aku, tapi salahkan putramu yang telah mengusik ketenangan ku!" sahut Yin Feng, lalu membunuh sang bangsawan.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang bangsawan, Yin Feng kemudian menghilang dari ruangan itu, lalu muncul lagi di atas kediaman sang bangsawan.


Yin Feng kemudian mengeluarkan bola api hijau sebesar kepalan tangan di telapak tangannya, lalu melempar bola api hijau itu kearah kediaman sang bangsawan.


Dhuaarrrrrr!


Ledakan dahsyat terjadi saat bola api hijau itu menghantam kediaman sang bangsawan, seketika itu juga, kediaman yang sangat megah itu langsung rata dengan tanah.


Ledakan itu mengejutkan seisi kota Perak, mereka yang penasaran berlarian mendekati sumber suara ledakan tersebut untuk mengetahui apa yang telah terjadi.


Disisi lain.


Suara ledakan itu juga mengejutkan raja kota serta semua penghuni istana, kemudian sang raja memerintahkan bawahannya untuk mencari tahu penyebab ledakan itu.


Tidak lama berselang, pria yang ditugaskan untuk menyelidiki masalah itu kembali ke istana, lalu menjelaskan situasi yang sedang terjadi di kediaman salah seorang bangsawan.


"Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya raja kota.


"Maaf yang mulia, hamba tidak menemukan jejak pelakunya."


"Baiklah, tapi kalian harus menyelidiki masalah ini, jika tidak bangsawan lain tidak akan percaya lagi padaku."


"Baik, yang mulia!"


***


Yin Feng membuka matanya setelah bermeditasi selama beberapa hari, kemudian ia meninggalkan kamarnya dan pergi menemui Hui Mei di ruangannya.


"Tuan" sapa Hui Mei dengan hormat.


"Bukankah waktunya sudah tiba?" tanya Yin Feng.


Hui Mei mengangguk pelan, "aku sudah menyiapkan semuanya, tuan. Begitupun dengan kebutuhan untuk perjalanan tuan."


"Apakah ada informasi lainnya?"


Tubuh Hui Mei bergetar dan langsung berlutut di hadapan Yin Feng, ia meminta maaf dan memohon ampunan pada Yin Feng karena belum mendapatkan informasi yang berarti.


Yin Feng tidak mempermasalahkan hal itu, ia juga dapat memaklumi kegagalan Hui Mei, karena mengumpulkan informasi bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Yin Feng, lalu menghilang dari pandangan Hui Mei.


Setelah meninggalkan ruangan khusus milik Hui Mei, Yin Feng muncul lagi di luar kota Perak, lalu melanjutkan langkahnya menuju ke ibukota kekaisaran Tang.


Diantara semua informasi yang disampaikan oleh Hui Mei sebelumnya, Yin Feng mendapatkan beberapa informasi penting yang berhasil membuatnya tertarik.


Salah satu dari informasi itu berisi tentang turnamen kultivator yang akan diadakan di ibukota kekaisaran Tang, karena itulah Yin Feng memutuskan untuk pergi ke sana.


Alasan Yin Feng pergi ke ibukota bukan untuk mengikuti acara turnamen kultivator itu, tapi untuk mengambil hadiah turnamen yang disediakan oleh pihak kekaisaran.


Dari informasi yang ia dapatkan dari Hui Mei, salah satu hadiah dalam turnamen itu adalah sebuah pusaka spiritual yang tidak diketahui tingkatannya, dan pusaka itu adalah sebuah belati.


Pada awalnya, Yin Feng tidak tertarik dengan pusaka spiritual itu, tapi setelah mengetahui bahwa pusaka itu adalah sebuah belati, entah kenapa ia tiba-tiba sangat menginginkannya.


Alasan lainnya, Yin Feng juga ingin melihat para sosok kuat yang ada di kekaisaran Tang ini, karena mereka pasti akan muncul untuk menyaksikan turnamen itu.


"Kekaisaran Tang, bersiaplah untuk menghadapi kekacauan!" ujar Yin Feng, lalu melesat terbang dengan kecepatan tinggi.


***


Di sebuah hutan yang jaraknya cukup jauh dari ibukota kekaisaran, seorang gadis cantik yang ditemani oleh beberapa pengawal nampak sedang melangkah ke bagian terdalam hutan.


Para pengawal yang merasa khawatir mencoba untuk membujuk gadis itu agar mau kembali, namun gadis itu terlalu keras kepala dan selalu menolak ajakan mereka untuk kembali.


"Nona, ini sudah terlalu jauh, bagaimana jika kita kembali sekarang?"


"Aku akan kembali saat aku ingin kembali!"


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu pada nona?"


"Tidak perlu khawatir, sesuatu yang kalian khawatirkan itu tidak akan pernah terjadi padaku."


"Nona, hutan ini cukup berbahaya, jika kita masuk lebih jauh, takutnya akan muncul hewan spiritual tingkat tinggi."


"Hahh" gadis itu menghela napas panjang dan menghentikan langkahnya, "apa kalian tidak bisa diam?!"


"Nona, kami hanya..."


"Groaarrrrr!"


Suara raungan yang sangat kencang terdengar dari bagian terdalam hutan, kemudian diikuti oleh aura kekuatan yang sangat besar dan berhasil menindas mereka semua.


"Hati-hati! Aura ini berasal dari hewan spiritual tingkat raja!" ujar salah seorang pengawal.


"Nona, kita harus pergi sekarang, hewan spiritual tingkat raja bukanlah sesuatu yang bisa kita remehkan."