
Yin Feng berdiri di puncak bukit seraya menatap sekte Gunung Giok yang telah hancur, ia tersenyum puas karena telah berhasil membalaskan dendamnya pada sekte tersebut.
Selain sekte Gunung Giok, Yin Feng juga telah membunuh semua murid sekte Halilintar Hitam yang tersisa, begitupun dengan semua hewan spiritual yang mereka pelihara.
"Saatnya pergi ke sekte Halilintar Hitam" gumam Yin Feng.
Setelah menguras gudang harta, mengambil semua cincin ruang serta kristal jiwa milik hewan spiritual yang dibunuhnya, Yin Feng kemudian terbang menuju sekte Halilintar Hitam.
Tujuannya ke sana tidak lain adalah untuk menguras gudang harta, serta menghancurkan sekte Halilintar Hitam, agar sekte itu tidak digunakan oleh sekte aliran hitam lainnya.
Tidak lama setelah Yin Feng pergi, pasukan kekaisaran yang dikirim Zhao Guan akhirnya tiba di sekte Gunung Giok, namun mereka tidak menemukan apapun selain kehancuran.
Sekte yang dulunya berdiri dengan megah dan disegani di kekaisaran Bei, sekarang hanya menyisakan daratan tandus, serta beberapa bangunan yang telah menjadi puing.
"Sungguh pemandangan yang mengerikan" gumam jendral kekaisaran.
"Jendral, apakah dampak peperangan memang separah ini?" tanya salah seorang prajurit.
Sang jendral hanya bisa menggeleng pelan, karena sepanjang hidupnya, ia belum pernah melihat kehancuran akibat peperangan yang lebih parah dari sekte Gunung Giok.
Kematian dan kehancuran adalah sesuatu yang normal dalam peperangan, namun yang mereka saksikan saat ini bukanlah sebuah kehancuran, melainkan kemusnahan.
"Kekuatan kekaisaran mengalami penurunan drastis, semoga saja kedepannya tidak ada peperangan seperti ini lagi."
Dengan musnahnya sekte Gunung Giok, kekaisaran Bei kini hanya memiliki tiga pilar, namun hanya ada dua pihak yang bisa dianggap sebagai pilar yang sebenarnya.
Asosiasi Phoenix Perak memang merupakan salah satu pilar, tapi mereka bukan berasal dari kekaisaran Bei. Jika mereka memutuskan untuk pergi, maka tidak ada yang bisa mencegahnya.
Setelah mengumpulkan semua mayat dan membakar semuanya, sang jendral kemudian memerintahkan pasukannya untuk segera kembali ke ibukota kekaisaran.
***
Beberapa hari telah berlalu, kabar mengenai musnahnya sekte Gunung Giok dan kehancuran sekte Halilintar Hitam telah menyebar ke seluruh wilayah kekaisaran Bei.
Meski telah berakhir, namun peperangan kedua sekte ini masih menyisakan misteri yang belum terungkap, salah satunya adalah alasan dibalik peperangan itu sendiri.
Semua orang tentu sudah tahu bahwa sekte Gunung Giok adalah sekte aliran netral, dengan kata lain mereka tidak memihak pada aliran manapun juga tidak memusuhi mereka.
Namun jika dilihat dari peperangan tersebut, bisa disimpulkan bahwa sekte Gunung Giok lah yang memulainya, sehingga sekte Halilintar Hitam menyerang mereka.
Akan tetapi, dari kedua belah pihak tidak ada yang keluar sebagai pemenang, baik sekte Gunung Giok ataupun sekte Halilintar Hitam, keduanya sama-sama mengalami kehancuran.
Anehnya lagi, sekte Halilintar Hitam yang seharusnya masih berdiri kokoh malah ikut hancur, seolah-olah peperangan juga terjadi di sekte aliran hitam tersebut.
Demi untuk memecahkan masalah ini, Zhao Guan sampai mengutus para kultivator hebat, namun penyelidikan yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil apapun.
Hingga akhirnya, rumor tentang iblis yang sempat menghilang akhirnya muncul lagi, sehingga menimbulkan kepanikan yang semakin besar di kekaisaran Bei.
Istana kekaisaran.
"Yang mulia, kita harus segera mengambil tindakan, jika tidak kepanikan ini akan semakin parah."
"Aku tahu itu, tapi apa yang harus kita lakukan? Bukankah sosok iblis ini tidak pernah ada sebelumnya?"
"Jika dia benar-benar ada, aku yakin kekaisaran ini sudah dilanda kehancuran sejak lama."
"Itu benar! Aku yakin mereka adalah kelompok baru yang ingin mengacau di kekaisaran ini" ucap Long Aotian.
"Apa maksudmu, tuan Long?"
"Aku juga tidak yakin, tapi yang pastinya ada pihak lain yang ingin menghancurkan kekaisaran ini."
"Baiklah, masalah ini akan kita bahas lagi di lain waktu, karena sekarang aku ingin istirahat" ucap Zhao Guan, lalu pergi meninggalkan aula singgasana.
"Baik, yang mulia!"
***
Hutan belantara.
"Sepertinya kau sangat menikmati kekacauan ini" ucap Ying Huo.
"Tentu saja aku menikmatinya, karena sejak awal memang inilah yang kuinginkan" sahut Yin Feng.
"Jadi, kau ini berada di pihak yang mana?"
Yin Feng menatap langit biru yang membentang luas diatasnya, "aku tidak akan memihak siapapun selain diriku, paman."
Sejak mengetahui bahwa gurunya meninggal, serta sekte yang ia jadikan tempat untuk pulang dihancurkan, Yin Feng sudah memutuskan untuk tidak berpihak pada siapapun.
Menurutnya, di dunia yang kejam ini tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya selain dirinya sendiri, serta orang-orang yang memang pantas untuk dipercayai.
"Keputusan yang bagus! Tapi kau harus berhati-hati, karena seluruh dunia ini bisa saja menjadi musuhmu."
Yin Feng tersenyum dan mengangguk pelan, "aku akan selalu mengingat nasihat paman."
"Lalu, kapan kau akan pergi ke kekaisaran Zhong?" tanya Ying Huo.
"Setelah ini, aku akan langsung berangkat ke kekaisaran Zhong" jawab Yin Feng.
"Baiklah, segeralah ke sana dan dapatkan peninggalan ibumu, agar kau bisa bertemu dengannya."
"Baik, paman. Tapi sebelum itu, aku ingin meningkatkan kultivasi ku terlebih dahulu."
Setelah mengobrol cukup lama, Yin Feng akhirnya meninggalkan hutan belantara, lalu pergi menuju ke reruntuhan sekte Teratai Giok untuk berpamitan dengan mendiang gurunya.
***
"Siapa kau?" tanya Yin Feng pada seseorang yang sedang berada di depan makam gurunya.
Pria sepuh itu menoleh pada Yin Feng, "seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?"
"Long Aotian!" ujar Yin Feng, ia benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu pria itu di makam gurunya.
"Kau mengenalku?"
"Siapa yang tidak mengenalmu!"
"Jadi, siapa kau dan ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Long Aotian.
Yin Feng mengepalkan tinjunya menahan amarah, padahal ia ingin berpamitan dengan mendiang gurunya, tapi karena ada Long Aotian, mau tidak mau ia harus mengurungkan niatnya.
Jika Long Aotian mengetahui siapa dirinya, sudah pasti akan terjadi pertarungan antara mereka berdua, dan jika hal itu terjadi, Yin Feng pasti tidak akan selamat.
"Tuan Xu pernah menyelamatkanku dari kematian, jadi aku ingin memberikan penghormatan terakhir padanya" jawab Yin Feng.
Long Aotian hanya mengangguk, lalu menjauhi makam Xu Jiang, lalu membiarkan Yin Feng memberikan penghormatan terakhir pada mendiang gurunya itu.
Setelah memberikan penghormatan terakhir pada mendiang gurunya, Yin Feng langsung pergi meninggalkan tempat itu, namun Long Aotian malah menahannya.
"Kenapa tuan menghentikan ku?"
"Jangan salah paham, aku hanya ingin mengobrol denganmu" jawab Long Aotian.
Yin Feng mengangguk dan langsung menghampiri Long Aotian, meski pria di depannya itu adalah kultivator paling disegani di kekaisaran Bei, namun ia tidak merasa takut sedikitpun.
"Siapa namamu?"
"Namaku Yin."
Long Aotian tersenyum, matanya kini tertuju pada makam Xu Jiang, "dia adalah temanku dan telah melakukan banyak hal untukku, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan apapun untuknya."
"Alasannya?"
"Kau sendiri pasti sudah tahu, bukankah kau sangat dekat dengannya?"
"Maksud tuan?"
"Tidak usah disembunyikan, aku tahu siapa kau yang sebenarnya" jawab Long Aotian.
Yin Feng tersentak dan langsung menjauhi Long Aotian, ia juga mengeluarkan belati perak dan bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Tenang saja, aku tidak akan menangkap mu."
"Apa aku harus percaya pada ucapanmu itu?"
"Percaya atau tidak, itu tergantung pada dirimu sendiri, tapi jika aku ingin menangkap mu, maka tidak ada yang bisa menghentikannya."
Yin Feng menyimpan belati peraknya, lalu menghampiri Long Aotian lagi, "apa kau melepaskan ku?"
"Anggap saja begitu."
"Kenapa?"
"Sudah kukatakan, gurumu telah melakukan banyak hal untukku, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikannya."
Obrolan mereka berlangsung cukup lama, hingga akhirnya selesai saat Yin Feng memutuskan untuk pergi dari sana, karena ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh orang lain.
Long Aotian juga tidak menahannya, bahkan ia meminta Yin Feng untuk pergi sejauh mungkin dari kekaisaran Bei, jika tidak, hidupnya tidak akan pernah bisa tenang lagi.