
"Jin Zhou!" Dong Gui berteriak memanggil nama muridnya itu sembari merangkul jasadnya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Dong Gui melampiaskan kesedihan dan amarahnya dengan melepaskan aura kekuatannya, seketika itu juga, suasana di depan gerbang sekte langsung berubah mencekam.
Tatapan Dong Gui kini tertuju pada Yin Feng, sorot matanya yang tajam menyiratkan kebencian yang sangat mendalam, lalu ia menghampiri Yin Feng yang masih diam ditempatnya.
"Apa kau yang membunuhnya?!" tanya Dong Gui, tangannya kini mencengkeram leher Yin Feng.
"Tuan, aku tidak tahu siapa kau dan apa hubunganmu dengan Jin Zhou, tapi apa menurutmu aku akan datang ke sini setelah membunuhnya?"
"Jangan coba-coba membodohi ku!"
"Siapa yang membodohi mu? Coba pikirkan baik-baik, apa menurutmu aku rela menyerahkan nyawa begitu saja?"
Dong Gui terdiam dan melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Yin Feng, sebab apa yang dikatakan oleh pemuda di depannya itu memang sangat masuk akal.
Jika memang dia yang membunuh muridnya, mustahil pemuda berusia 16 tahun itu datang mengantarkan jasad muridnya, karena hal itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya.
"Jadi, siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan muridku?!"
"Namaku Yin, aku mengenal Jin Zhou beberapa saat sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya" jawab Yin Feng.
Setelah itu, Yin Feng menceritakan tentang pertemuannya dengan Jin Zhou, tapi tentunya, cerita yang disampaikan oleh Yin Feng itu adalah sebuah kebohongan belaka.
Yin Feng juga menjelaskan jika dirinya sempat berusaha untuk membantu Jin Zhou, namun lukanya sangat parah dan mustahil bisa disembuhkan tanpa bantuan seorang tabib.
Dan karena memahami kondisinya, Jin Zhou meminta Yin Feng untuk membawanya ke sekte Halilintar Hitam, karena Jin Zhou ingin jasadnya dimakamkan di sekte tersebut.
"Sebelum meninggal, Jin Zhou menyerahkan ini padaku" ucap Yin Feng, lalu menyerahkan sebuah lencana pada Dong Gui.
"Ini... Bukankah ini lencana sekte Gunung Giok?!"
"Entahlah, aku tidak mengenal lencana itu" jawab Yin Feng.
Dong Gui menggenggam erat lencana sekte Gunung Giok itu hingga hancur, dalam hatinya, ia bersumpah untuk membalas perbuatan sekte Gunung Giok yang telah membunuh muridnya.
"Terima kasih karena sudah membawa jasad muridku ke sini, tapi aku masih belum bisa mempercayaimu."
"Maksudmu?"
"Buktikan kalau kau bukan dari aliran putih!"
"Jika kau menunjukkan buktinya apakah kalian akan percaya?"
"Pasti! Tapi jika kau tidak bisa menunjukkannya, maka aku akan membunuhmu!"
"Baiklah" sahut Yin Feng, lalu melepaskan aura membunuhnya.
Ketika Dong Gui melepaskan auranya, suasana di depan gerbang sudah sangat mencekam, namun suasana di sana jauh lebih mencekam karena aura membunuh milik Yin Feng.
Aura membunuh yang dilepaskan oleh Yin Feng berhasil membuat mereka semua diselimuti kengerian, bahkan Dong Gui juga dibuat bergidik karena aura Yin Feng.
"Si-sial! Siapa bocah ini sebenarnya?!"
"Usianya masih sangat muda, tapi aura membunuhnya benar-benar mengerikan."
"Berapa banyak nyawa yang telah ia renggut hingga aura membunuhnya bisa sepekat ini?"
Sebagai kultivator yang berjalan disisi kegelapan, aura membunuh adalah sesuatu yang lumrah bagi mereka semua, bahkan aura itu sudah menjadi bagian dari diri mereka.
Akan tetapi, saat merasakan aura membunuh Yin Feng, mereka tiba-tiba merasa seperti berjalan disisi kebenaran, karena aura membunuh mereka tidak sebanding dengannya.
"Bagaimana?" tanya Yin Feng.
"Baiklah, kami percaya" jawab Dong Gui.
Dengan aura membunuh yang dimilikinya, tidak hanya Dong Gui, tapi siapapun yang merasakannya pasti akan berpikir bahwa Yin Feng adalah kultivator dari aliran hitam.
Yin Feng mengangguk, lalu menarik kembali aura membunuhnya, "terima kasih karena sudah percaya padaku" ucapnya, lalu pergi dari sana namun Dong Gui menghentikannya.
"Yin Feng, dari sekte mana kau berasal?"
Dong Gui tersenyum, "bagaimana kalau kau bergabung dengan sekteku? Aku jamin kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan."
"Sekte-ku?"
"Ah, maafkan aku, karena terlalu emosi aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Dong Gui, pemimpin sekte Halilintar Hitam."
"Jadi anda adalah patriark sekte ini? Maafkan aku karena bersikap tidak sopan" sahut Yin Feng.
Dong Gui menggeleng pelan, "tidak masalah, lalu bagaimana dengan tawaranku?"
"Maafkan aku, tuan Dong, tapi aku lebih suka hidup bebas sebagai pengembara" jawab Yin Feng.
Dong Gui hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar jawaban Yin Feng, walaupun ia sangat ingin merekrut Yin Feng, namun ia tidak bisa memaksanya.
Meskipun begitu, Dong Gui tetap menahan kepergian Yin Feng dan mengajaknya untuk singgah di sektenya, karena bagaimanapun juga ia harus menunjukkan rasa terima kasihnya.
Yin Feng tidak menolak ajakan Dong Gui, karena sejak awal memang itulah tujuannya datang ke sana, agar ia bisa menghasut Dong Gui untuk menyerang sekte Gunung Giok.
Aula pertemuan sekte Halilintar Hitam.
"Silahkan dinikmati" ucap Dong Gui.
Yin Feng mengangguk, lalu meraih cangkir arak di depannya dan meminumnya dalam sekali teguk, "rasanya benar-benar luar biasa" ucap Yin Feng.
"Penilaian-mu tidak salah, karena arak ini adalah arak terbaik yang kami miliki" sahut Dong Gui.
Sejujurnya, Yin Feng hanya asal bicara karena belum pernah meminum arak sebelumnya, tapi siapa sangka bahwa arah itu adalah arah terbaik milik sekte Halilintar Hitam.
"Yin, kemana tujuanmu setelah ini?" tanya Dong Gui.
"Entahlah, yang jelas aku ingin tetap mengembara."
"Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?"
"Kemana?"
"Menghancurkan sekte Gunung Giok!"
"Apakah tidak masalah?" tanya Yin Feng basa-basi.
"Tentu tidak, tapi aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau" jawab Dong Gui.
Yin Feng tentu tidak menolak tawaran Dong Gui kali ini, karena bagaimanapun juga, tujuannya adalah membuat kedua sekte itu berperang dan saling menghancurkan.
Meski tidak yakin apakah sekte Halilintar Hitam mampu menghancurkan sekte Gunung Giok atau tidak, tapi Yin Feng akan tetap ikut andil dalam peperangan tersebut.
Karena dengan terjadinya peperangan itu, maka Yin Feng sudah berhasil mencapai tujuannya yang lain, yaitu menyebabkan kekacauan yang lebih besar lagi.
Selain itu, Yin Feng tidak berniat untuk benar-benar membantu sekte Halilintar Hitam, karena saat ada kesempatan, ia juga akan menghancurkan mereka semua.
Singkatnya, Yin Feng hanya ingin memanfaatkan keadaan untuk keuntungannya sendiri, seperti kata pepatah "sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui."
Dan tanpa ia sadari, Yin Feng kini sudah berubah menjadi seseorang yang sangat licik, yang rela melakukan apapun demi mendapatkan keuntungan yang besar.
"Jadi, kapan kalian akan melakukan penyerangan?" tanya Yin Feng.
"Sebenarnya aku ingin menyerang mereka sekarang juga, tapi masih banyak anggota sekte yang tidak ada di sini, jadi aku harus memanggil mereka terlebih dahulu."
"Tuan Dong, boleh aku meminta sesuatu darimu?"
Dong Gui mengangguk, "tidak masalah, selama aku bisa memberikannya maka akan kuberikan."
"Jika diizinkan, aku ingin tinggal di sini sampai hari penyerangan tiba, karena aku ingin meningkatkan kultivasi."
"Hahaha! Jika hanya itu, aku pasti akan mengizinkan, lagipula aku memang ingin memintamu untuk tinggal di sini sampai hari itu tiba."
"Terima kasih, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan tuan Dong."